10 Keadaan Yang Di Sunnahkan Untuk Berwudhu

870,213

BERANIDAKWAH.COM | 10 Keadaan Yang Di Sunnahkan Untuk Berwudhu. Adalah Ali bin Husein yang apabila beliau setelah berwudhu maka wajah beliau berubah menjadi pucat. Tatkala beliau ditanya,”Apakah yang terjadi pada Anda saat berwudhu?” beliau menjawab,”Tahukah kalian, dihadapan siapa aku hendak berdiri menghadap?”

Jika saat ini kita yang bertemu dengan orang “penting” seperti walikota, gubernur, camat, pemimpin perusahaan atau bahkan presiden tentu memakai pakaian terbaik untuk menghadapnya. Namun masih banyak yang biasa-biasa saja ketika menghadap Sang Pemilik Maut, Rabb Semesta Alam ini.

Alasan inilah yang membuat raut wajah dari Ali bin Husein berubah pucat. Beliau memahami betul shalat berarti menghadap dan menyambut undangan Pencipta yang berkuasa atas dirinya dan semua makhluk ciptaannya.

Berwudhu tidak hanya dilakukan ketika akan mengerjakan shalat saja, namun di beberapa kondisi Rasulullah menyarankan untuk kita untuk berwudhu. Karena pada dasarnya wudhu ialah ibadah yang berdiri sendiri layaknya shalat. Berikut 10 keadaan yang di sunnahkan untuk berwudhu

1. Berwudhu Sebelum Berdzikir

Dari al Muhajir bin Qunfud, beliau menemui Rasulullah yang sedang buang air kecil. Al Muhajir mengucapkan salam, namun Rasulullah tidak menjawab sebelum wudhu. Lalu beliau mengutarakan alasannya,”Aku tidak suka menyebut nama Allah pada saat kondisiku tidak suci.” (HR. Abu Daud)

2. Berwudhu Sebelum Tidur

Dari al Barra’ bin Azib berkata,”Rasulullah bersabda,”Jika kamu hendak tidur, maka wudhulah sepert wudhu shalat, lalu berbaringlah di sisi kana tubuhmu dan berdoalah,”Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan sepenuhnya urusanku pada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan mencari selamat selain kepada-Mu. Ya Allah, aku telah beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.”Jika kamu meninggal pada malam itu, maka kamu meninggal dalam keadaan suci dan jadikanlah itu ucapan terakhirmu.” (Muttafaq’alaih)

3. Berwudhu Sebelum Makan, Minum dan Mengulang Jimak Pada Saat Junub

“Dari Ammar bin Yasir bahwasannya Nabi  memberi keringanan bagi orang yang junub, apabila kamu makan, minum dan tidur agar berwudhu.” (HR. Abu Daud)

Dari Abu Said al Khudri berkata,”Rasulullah bersabda,”Apabila salah seorang dari kalian melakukan jima’ dengan istrinya dan ingin mengulangi jima’nya, maka berwudhulah terlebih dahulu.” (HR. Muslim)

4. Berwudhu Sebelum Mandi Wajib Maupun Mandi Sunnah

Dari Aisyah, isteri Nabi, bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam apabila mandi janabah beliau memulainya dengan mencuci kedua tangannya, lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu memasukkan jemarinya ke dalam air dan kemudian menggunakannya untuk menyela-nyela kulit kepala. Kemudian mengguyur air ke kepala sebanyak tiga cidukan dengan tangannya, baru kemudian mengguyur seluruh badannya.” (HR. Bukhari)

5. Berwudhu Setelah Makan Makanan Yang Di Masak

Dari Abu Hurairah berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda,”Berwudhulah kalian dari makanan yang dimasak.” (HR. Muslim)

6. Berwudhu Setiap Kali Hendak Shalat

Dari Buraidah, dari ayahnya berkata,”Rasulullah berwudhu setiap kali hendak shalat. Dan ketika Fathu Makkah, beliau shalat beberapa kali dengan satu wudhu. Umar berkata,”Anda melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Rasulullah menjawab,”Aku melakukannya dengan senagaja, Umar.” (HR. An Nasa’i)

7. Berwudhu Setiap Kali Hadats

Dari Buraidah katanya : Suatu pagi Rasulullah memanggil Bilal dan bertanya,”Wahai Bilal, dengan apa kamu mendahuluiku masuk jannah? Karena setiap kali aku masuk jannah, aku pasti mendengar suara tapak sandalmu di depanku. Tadi malam aku masuk jannah dan aku mendengar suara tapak sandalmu di depanku. Lalu aku pergi ke sebuah istana kotak yang indah terbuat dari emas, lalu aku bertanya,”Milik siapa istana ini/” Saya dari Arab, milik siapa istana ini?” Mereka menjawab,”Milik salah seorang dari Quraisy.” Aku bertanya,”Saya Quraisy, milik siapa istana ini?” Mereka menjawab,”Milik salah seorang dari umat Muhammad.” Aku bertanya,”Aku Muhammad milik siapa istana ini?” Mereka menjawab,”Milik Umar Bin al Khattab.” Bilal berkata,”Wahai Rasulullah, tidaklah saya adzan melainkan saya shalat dua rakaat, dan tidaklah saya batal melainkan saya langsung berwudhu dan saya merasa Allah memiliki hak dua rakaat setelah wudhu.” Rasulullah bersabda,”Jadi dengan itu.” (HR. At Tirmidzi)

8. Berwudhu Jika Muntah

Dari Abu Darda, Rasulullah muntah lalu beliau membatalkan shaum. Lalu aku bertemu Tsuban, mantan pembantu Nabi di masjid Damaskus dan aku katakan kepadanya,”Abu Darda’ meriwayatkan kepadaku bahwa Nabi muntah lalu membatalkan shaum.” Tsuban berkata,”itu benar, aku yang kemudian menuangkan air wudhunya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

9. Berwudhu Jika Membawa Mayit

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Dari memandikan jenazah ada mandi, dan dari membawanya ada wudhu.” (HR. Bukhari)

10. Berwudhu Sebelum Membaca Al – Qur’an

Ada perbedaan pendapat mengenai kondisi ini, disini akan dibahas secara ringkas namun jelas.

Pertama, hukum menyentuh Mushaf meski tanpa membaca bagi yang berhadats. Mayoritas ulama menyatakan tidak boleh menyentuh mushaf saat berhadats kecil maupun hadats besar. Dari hal ini Allah berfirman,

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al Waqi’ah : 79)

Begitu pula sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam,

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (QS. Al Hakim)

Kedua, hukum membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf bagi yang berhadats.

a. Hadats Kecil : Bagi yang berhadats kecil para ulama menyatakan boleh membacan Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf (hafalan). Imam an Namawi menyatakan,”Jika seorang berhadats membaca Al Qur’an maka boleh menurut ijma’ kaum muslimin, dan hadits-hadits tentang itu banyak dan telah diketahui.” (At Tibyan Fi Adab Hamalatil Quran)

b. Hadats Besar : Ualama berpendapat. Yang melarang menggunakan dalil dibawah ini

Hadits dari Ali bin Abi Thalib RA : “Bahwasannya tidak ada suatu pun yang menghalangi dari membaca Al Qur’an kecuali junub.” (HR. Ibnu Majah)

Dari  Ibnu Umar RA : “Bahwasannya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Janganlah wanita haid dan orang junub membaca sesuatu pun dari Al Qur’an.” (HR. At Tirmidzi)

Kesimpulan :

Yang lebih utama adalah bersuci lebih dahulu sebelum membaca atau menyentuh Al Qur’an. Karena kondisi suci jauh lebih baik ketimbang kondisi berhadats.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan