11 Keteladanan Dan Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq

203,748

BERANIDAKWAH.COM | 11 Keteladanan Dan Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat banyak sekali dan telah dimuat dalam kitab-kitab sunnah, kita tarajim (biografi para tokoh), maupun kitab-kitab sejarah. Namun kali ini akan menyajikan 11 keteladanan dan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang paling utama dan penting sesuai dengan yang telah disebutkan oleh Imam al-Bukhari.

1. Beliau Adalah Sahabat Rasulullah Di Gua Dan Ketika Hijrah

Allah berfirman:

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita’.” (QS. At-Taubah: 40)

Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, “Abu Bakarlah yang menyertai Nabi dalam gua tersebut.”

Diriwayatkan dari al-Bara’ bin ‘Azib, beliau berkata, “Suatu ketika Abu Bakar pernah membeli seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 dirham, maka Abu Bakar berkata kepada Azib, suruhlah anakmu si Bara’ agar mengantarkan hewan tersebut.” Maka Azib berkata, “Tidak, hingga Anda menceritakan kepada kami terlebih dahulu bagaimana kisah perjalanan Anda bersama Rasulullah ketika keluar dari Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari kalian.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Kami berangkat dari Makkah, berjalan sepanjang malam dan siang hingga datang waktu dzuhur, maka aku mencari-cari tempat bernaung agar kami dapat beristirahat di bawahnya, ternyata aku melihat ada batu besar, maka segera kudatangi dan terlihat di situ ada naungannya, maka kubentangkan alas untuk Nabi, kemudian kukatakan pada beliau, “Istirahatlah wahai Nabi Allah.” Maka beliau pun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku, apakah ada orang-orang yang mencari kami datang mengintai.

Tiba-tiba aku melihat ada seorang penggembala kambing sedang menggiring kambingnya ke arah teduhan di bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami, maka aku bertanya kepadanya, “Siapa tuanmu wahai budak?” Dia menjawab, “Budak milik si fulan, seseorang dari suku Quraisy.” Dia menyebut nama tuannya dan aku mengenalnya, kemudia kutanyakan, “Apakah kambingmu memiliki susu?” Dia menjawab, “Ya” lantas kukatakan, “Maukah engkau memerasnya untuk kami?” Dia menjawab, “Ya” Maka dia mengambil salah satu dari kambing-kambing tersebut, setelah kuperintahkan dia agar membersihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari kotoran dan debu, maka dia menepuk kedua telapak tangannya dari debu, maka dia menepukkan kedua telapak tangannya dan dia mulai memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya dibaluk kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang telah diperasi itu kedalam tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya dingin, lalu kubawakan ke hadapan Nabi dan ternyata beliau sudah bangun, segera kukatakan padanya, “Minumlah wahai Rasulullah.” Maka beliau mulai minum hingga aku lega (karena melihat beliau sudah kenyang).

Setelah itu kukatakan pada beliau, “Bukankah kita akan segera berjalan kembali ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tentu!”

Kami melanjutkan perjalanan, sementara orang-orang musyrik terus menerus mencari kami, tidak satu pun yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju’syum yang mengendarai kudanya, maka kukatakan kepada Rasulullah, “Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai Rasulullah,” Namun beliau menjawab, “Jangan bersedih (khawatir), sesungguhnya Allah bersama kita.”

Dan dari Anas, dari Abu Bakar, beliau bersabda, “Kukatakan kepada Nabi ketika kami berada dalam gua, ‘Andai saja seseorang di antara mereka (orang-orang musyrik) melihat ke bawah kaki mereka, pastilah mereka akan melihat kita’. Maka Rasul menjawab,

“Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah menjadi yang ketiga di antara mereka berdua.”

2. Abu Bakar Adalah Sahabat Yang Paling Alim Di Antara Para Sahabat Lainnya

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Suatu ketika Rasulullah berkhutbah di hadapan manusia dan berkata,

“Sesungguhnya Allah telah memberi seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih apa-apa yang ada di sisiNya, dan ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada di sisi Allah.”

Abu Sa’id berkata, maka Abu Bakar menangis, maka kami heran, kenapa beliau menangis padahal Rasulullah hanyalah menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan. Akhirya kami ketahui bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah sendiri. Dan Abu Bakar adalah orang yang paling mengerti serta paling berilmu di antara kami. Kemudia Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya orang yang paling banyak berkorban padaku dalam persahabatannya dan kerelaan mengeluarkan hartanya, adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seorang menjadi kekasih dekatku selain Rabbku, pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan seislam dan kecintaan karenanya, janganlah ditinggalkan pintu di masjid melainkan dalam keadaan tertutup kecuali pintu Abu Bakar saja.”

Diriwayatkan dari Aisyah, istri Rasulullah, beliau berkata, “Ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar sedang berada di as-Sunuh. Umar berdiri dan berpidato, “Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah tidak wafat. Aisyah melanjutkan, kemudian Umar berkata, “Demi Allah, tidak terdapat dalam hatiku melainkan perasaan bahwa beliau belum wafat, Allah pasti akan membangkitkan beliau dan akan memotong tangan dan kaki mereka (orang-orang munafik).” Kemudia datanglah Abu Bakar menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah, lalu mencium beliau sambil berkata, “Kutebus dirimu dengan ibu dan bapakku, alangkah harum dan eloknya engkau saat hidup dan sesudah mati, demi Allah yang jiwaku ada di Tangan-Nya, mustahil Allah akan menimpakan padamu dua kali kematian, selama-lamanya.”

Kemudia Abu Bakar keluar dan berkata, “Wahai orang yang telah bersumpah, (yakni Umar) tahanlah bicaramu!” Ketika Abu Bakar mulai berbicara, maka Umar duduk, setelah memuji Allah beliau berkata, “Ingatlah sesungguhnya siapa saja yang menyembah Muhammad maka beliau sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah akan tetap hidup, tidak akan pernah mati. Kemudian beliau membacakan ayat,

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka juga akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30)

Dan juga membaca,

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)

Ismail (yang meriwayatkan kisah ini) berkata, “Maka orang-orang mulai menangis terisak-isak, kemudian kaum Anshar segera berkumpul kepada Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani Sa’idah. Mereka berpendapat bahwa dari kami seorang amir (pemimpin) dan dari kalian (muhajirin) juga seorang amir.’ Maka segera Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berangkat mendatangi majelis tersebut, Umar berbicara tetapi Abu Bakar memintanya untuk diam, Umar berkata, “Demi Allah, sebenarnya aku tidak ingin berbicara melainkan aku telah persiapkan kata-kata yang kuanggap sangat baik yang kutakutkan tidak akan disampaikan oleh Abu Bakar’.”

Kemudia Abu Bakar berpidato dan perkataannya sungguh mengena, beliau berkata, “Kami yang menjadi amir dan kalian menjadi wazir (pembantu-pembantu pemimpin)”. Maka Hubah bin al-Mundzir berkata, “Tidak, demi Allah, kami tidak akan terima, tetapi dari kami seorang amir dan dari kalian seorang amir pula.” Abu Bakar menjawab, “Tidak, tetapi kamilah yang menjabat sebagai amir dan kalian menjadi wazir, karena sesungguhnya mereka (Quraisy) yang paling mulia kedudukannya di bangsa Arab dan yang paling tinggi nasabnya, maka silahkan kalian membai’at Umar atau Abu Ubaidah.” Maka spontan Umar menjawab, “Justru Andalah yang lebih pantas kami bai’at, Anda adalah penghulu (sayyid) kami, orang yang paling baik di antara kami dan orang yang paling dicintai Rasulullah di antara kami.” Maka Umar segera meraih tangan Abu Bakar dan membai’atnya, dan akhirnya orang-orang pun turut membai’at beliau pula.

3. Abu Bakar Adalah Sahabat Yang Paling Utama

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata, “Kami biasa (berbincang) menanyakan siapa yang paling utama di antara para sahabat di masa Rasulullah, maka kami sepakat memilih Abu Bakar yang paling utama, kemudian Umar, selanjutnya Utsman bin Affan.

Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah, beliau berkata, “Kutanyakan pada ayahku (Ali bin Abi Thalib) siapa yang paling baik setelah Rasulullah?” Maka beliau menjawab, “Abu Bakar!” Kemudian kutanyakan lagi, “Siapa setelahnya?” Beliau menjawab, “Umar.” Dan aku takut jika beliau menyebut Utsman sesudahnya maka kukatakan, “Setelah itu pasti Anda.” Namun beliau menjawab, “Aku hanyalah salah seorang dari kaum Muslimin.”

4. Kedudukan Abu Bakar Ash-Shiddiq Di Sisi Rasulullah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Rasulullah, beliau bersabda,

“Andai saja aku dibolehkan mengambil khalil (kekasih dekat) selain Allah, pasti aku akan memilih Abu Bakar sebagai khalil, namun dia adalah saudaraku dan sahabatku.”

Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari bapaknya, dia berkata, “Seorang wanita pernah mendatangi Nabi, kemudia beliau menyuruhnya kembali datang menghadapnya di lain waktu, maka wanita itu bertanya, “Bagaimana jika kelak aku datang namun tidak lagi menjumpai Anda (seolah-olah ia mengisyaratkan setelah Rasul wafat), maka Rasulullah berkata,

“Jika engkau tidak mendapatkanku, maka datangilah Abu Bakar.”

Diriwayatkan dari Abu ad-Darda, “Aku sedang duduk bersama Nabi, tiba-tiba muncullah Abu Bakar sambil menjinjing ujung pakainnya hingga terlihat lututnya, maka Nabi berkata, “Sesungguhnya teman kalian ini sedang kesal, maka berilah salam kepadanya.” Maka Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnu al-Khattab terjadi perselisihan, maka aku segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku, namun dia enggan menerima permohonanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang.” Rasulullah menjawab, “Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar,” (beliau ulang) tiga kali.

Tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, “Tidak,” Umar segera mendatangi Rasulullah sementara wajah Rasulullah terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan terhadap Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sebenarnya akulah yang bersalah (dua kali),” Maka Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya aku di utus Allah kepada kalian, namun kalian mengatakan, “Engkau dusta!” Sementara Abu Bakar berkata, “Dia benar!” Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya, apakah kalian membiarkan sahabatku ini untukku?”

Setelah peristiwa tersebut Abu Bakar tidak pernah lagi disakiti oleh para sahabat lainnya.

5. Abu Bakar Adalah Paling Dulu Masuk Islam Dan Selalu Mendampingi Rasulullah

Diriwayatkan dari Wabarah bin Abdurrahman dari Hammam, dia berkata, “Aku mendengar Ammar berkat, “Aku pernah melihat Rasulullah (di Makkah), pada waktu itu tidak ada yang mengikuti beliau kecuali lima orang budak, dua wanita dan Abu Bakar.”

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan