13 Larangan Mencela (La Tasubbu) Oleh Rasulullah

9,792

BERANIDAKWAH.COM | 13 Larangan Mencela (La Tasubbu). Katanya Allah Maha Adil? Tapi kenapa ada manusia yang dilahirkan dengan keadaan sempurna (utuh) dan ada yang kurang lengkap (cacat). Bukankah yang seperti itu dikatakan tidak adil?

Adil dan tidak adil bukanlah masalah pada kesamaan, melainkan pada ukuran dan tempatnya. Memang ada manusia yang dilahirkan cacat fisik seperti tidak bisa melihat (buta), tidak bisa mendengar (tuli), atau tidak bisa berbicara (bisu). Namun kenyataannya banyak diantara mereka yang tidak mengeluh, bahkan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa kekurangan bukanlah suatu malapetaka. Dan Iitu semua tidak lepas daripada campur tangan Allah Ta’ala.

Karena kecacatan itu nantinya mampu menjadi hujah (alasan) bagi mereka ketika di hadapan Allah. Justru orang yang dikaruniakan tubuh lengkap, banyak yang tidak bersyukur karena hal-hal yang sifatnya tidak abadi, seperti mengeluh kenapa dilahirkan dari orangtua miskin, kenapa tidak dilahirkan dengan wajah setampan/ secantik artis, kenapa tidak pandai, dan berbagai pertanyaan “kenapa” lain yang menunjukkan bahwa dia tidak terima dengan takdirnya itu.

Salah satu bagian tubuh manusia yang tidak bertulang namun tajamnya melebih pedang adalah mulut. Bagi yang dilahirkan sempurna, marilah kita gunakan mulut ini dengan perkataan lembut dan baik, karena ia bisa menjadikan pemiliknya masuk  surga atau masuk neraka. Hal yang paling dibenci atau dilarang oleh Rasulullah berkenaan dengan mulut adalah mencela atau memaki. Berikut ini ada 13 Larangan Mencaci/ Mencela (La Tasubbu) oleh Rasulullah:

1. Larangan Mencela Sahabat Nabi

Dari Abu Said Al Khudri berkata, Nabi bersabda,

“Janganlah kalian memaki para sahabatku. Kalau saja salah seorang dari kalian menginfakkan emas segunung Uhud, itu tidak akan mampu menyamai satu mud pahala mereka, bahkan meski separuhnya.” (HR. Bukhari)

Imam al Baidhawi menyatakan, “Arti hadits ini adalah infak kalian berupa emas sebesar gunung Uhud tidak akan mampu menyamai nilai infak satu mud atau separuh mud yang diinfakkan sahabat Nabi. Hal itu karena tingkat keikhlasan dan kejujuran niat yang berbeda jauh.” (Fathul Bari 10/468)

2. Larangan Mencela Sesama Muslim

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah bersabda, “Memaki orang Muslim adalah perbuatan fasik dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.” (HR. Bukhari)

Imam an Nawawi menjelaskan, fasik yang dimaksud adalah keluar dari ketaatan kepada Allah. Adapun kufur dalam hadits ini bukanlah kufur yang berarti murtad, kecuali jika dia menyakini bahwa membunuh muslim itu halal.

3. Larangan Mencela Jenazah Muslim

Dari Aisyah berkata, Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang sudah mati karena mereka telah mendapat blasan atas apa yang telah mereka lakukan.” (HR. Bukhari)

Ucapan dari Ibnu Bathal, “Memaki orang mati itu sama saja dengan ghibah. Jika ternyata dia banyak kebaikannya, maka berarti tuduhan tak berdasar (buhtan). Sedangkan hukum ghibah adalah dilarang, kecuali atas orang yang terang-terangan memperlihatkan kefasikannya.

4. Dilarang Memaki Orangtua Orang Lain

Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya yang termasuk salah satu dosa besar adalah melaknat orangtua sendiri.” Rasulullah ditanya, bagaimana mungkin melaknat orangtua sendiri? Beliau menjawab, “Seseorang memaki orangtua kawannya, lalu si kawan tersebut balas memaki orangtua si pemaki. Memaki ayahnya dan memaki ibunya.” (HR. Bukhari)

Ibnu Bathal menjelaskan hadits ini menjadi dasar argumen bagi kaidah saddu adz dzarai’ (tindakan antisipatif atas sarana-sarana menuju yang haram). Yaitu bahwa sesuatu yang dapat membawa atau menjadi sarana menuju yang haram, maka sesuatu itu hukumnya haram. Meskipun awalnya tidak dimasudkan kepada yang haram.” (Fathul Bari XVII/94)

5. Larangan Mencela Waktu

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,

“Allah berfirman, “Anak Adam memaki waktu, padahal akulah waktu, siang dan malam ada di genggaman tanganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bangsa Arab jaman dulu sangat suka mencela waktu ketika ada peristiwa yang tidak mereka inginkan. Dan dalam hadits tersebut melarang untuk mencela waktu karena sebenarnya waktu hanyalah perbahan zaman satu ke zaman lain yang terdapat rangkaian peristiwa yang terjadi pada zaman itu. Adapun segala peristiwa terjadi atas kehendak-Nya. Jika mencela waktu, seakan-akan dia mencela Dzat yang menjalankan waktu. (Fathul Bari XIII/390)

6. Dilarang Memaki Angin

Dari Ubay bin Ka’ab berkata, Rasulullah bersabda,

“Janganlah kalian memaki Angin. Jika kalian melihat sesuatu yang tidak kalian sukai dari angin maka ucapkanlah, “Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan dari angin ini, kebaikan yang dibawanya dan kebaikan dari apa yang ditiupkan kepadanya. Aku juga berlindung dari sisi buruk angin ini, dampak buruk yang dibawanya dan keburukan dari apa yang ditiupkan kepadanya.” (HR. At Tirmidzi)

Dalam kitab Tuhfatul ahwadzi dijelaskan, maksudnya janganlah mencela angin karena angin hanya makhluk yang diperintah. Sedang memaki atau melaknat sesuatu yang tidak berhak dilaknat, laknat akan berbalik kepada si pelaknat.

LA TASUBBU

7. Larangan Mencela Makanan

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau mau, beliau memakannya dan jika tidak, beliau tidak memakannya.” (HR. Bukhari)

Adab yang baik terhadap makanan sudah benar dan baik dicontohkan oleh Rasulullah, jika tidak menghendaki makanan tersebut maka lebih baik diam dan tidak memakannya. Karena mencela nikmat dari Allah sungguh perbuatan yang amat dzalim. Di luar sana masih banyak orang yang tidak menikmati makanan yang mungkin tidak enak dihadapan Anda.

8. Dilarang Memaki Ayam Jantan

Dari Zaid bin Khalid berkata, Rasulullah bersabda,“Janganlah kalian memaki ayam jantan karena ayam jantan membangunkan orang untuk shalat.” (HR. Abu Daud)

Penulis kitab Aunul Ma’bud, syarh Sunan Abi Daud menjelaskan, “Maksudnya membangungkan shalat qiyamullail dengan kokoknya. Dan siapapun yang menolong orang kepada kebaikan berhak dipuji, bukan dimaki. Al Munawi berkata, “Biasanya, ayam jantan berkokok berurutan jika waktu fajar tiba dan ketika matahari terbenam dan tergelincir, yang merupakan fitrah dari Allah dan tidak dijadikan patokan kecuali didasarkan pengalaman empiris. (XI/138)

9. Larangan Mencela Demam

Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah masuk rumah Ummu Saib dan bersabda, “Ada apa denganmu wahai Ummu Saib?” atau “Mengapa engkau menggigil?” Ummu Saib menjawab, “Demam. Allah tidak memberkehi demam ini.” Rasulullah bersabda, “Janganlah engkau memaki demam, karena demam itu menghapus kesalahan anak Adam seperti ubupan pandai besi menghilangkan karat.” (HR. Muslim)

Penyakit merupakan cara Allah untuk memberikan peringatan kepada hambanya ataupun untuk menggugurkan dosa-dosanya. Persis seperti ubupan (tungku) pandai besi menghilangkan karat.

10. Larangan Mencela Tuhan Agama Lain

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudia kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 108)

Ibnu Katsir berkata, “Rasulullah melarang memaki tuhan-tuhan orang musyrik. Meskipun ada maslahatnya akan tetapi hal itu akan berdampak pada munculnya mafsadat yang jauh lebih besar yaitu balasan makian dari mereka pada illahnya kaum muslimin, yaitu Allah yang tidak illah berhak untuk disembah.

11. Larangan Mencela Tubba

Dari Sahl bin Sa’d berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian memaki Tubba’, karena dia sudah masuk Islam.” (HR. Ahmad)

Disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa Tubba’ adalah raja Yaman yang memerintah selama 326 tahun. Namanya As’ad Abu Kuraib al Yamani. Dia memeluk agama Nabi Ibrahim dan meninggal 700an tahun sebelum Nabi Muhammad diutus. Allah mengutuk kaumnya tapi dia tidak termasuk karena keshalihannya. Bahkan ketika ada pendeta Yahudi dari Madinah yang mengatakan bahwa Madinah akan menjadi negeri hijrah Nabi akhir zaman yang namanya Ahmad, dia mengubah syair:

Aku bersaksi Ahmad utusan Allah Pencipta Angin

Kalau saja umurku bisa mencapai umurnya

Aku pasti akan menjadi pembantu dan anak pamannya

Aku akan memerangi musuhnya dengan pedang

Dan akan ku hilangkan segala gundah dari hatinya

(Diringkas dari tafsirul Quranil Azhim, Ibnu Katsir Juz VII/258)

12. Larangan Mencela Syaitan

Diriwayatkan dari Abu Malih dari seorang laki-laki, ia berkata, “Ketika aku dibonceng Nabi tiba-tiba unta beliau tergelincir. Serta merta aku katakan, “Celakalah syaitan!” Lalu beliau bersabda, “Jangan kamu katakan ‘celakalah syaitan’, sebab jika kamu katakan seperti itu maka syaitan akan membesar sebesar rumah dan berkata, “Demi kekuatanku”, akan tetapi ucapkanlah “bismisllah” sebab jika kamu ucapkan lafadz tersebut syaitan akan mengecil hingga sekecil lalat.” (Shahih, HR. Abu Daud)

13. Larangan Mencela Waraqah Bin Naufal

Dari Aisyah, Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mencela Waraqah bin Naufal, karena aku melihatnya memiliki satu atau dua surga.” (HR. Al Hakim)

Waraqah bin Naufal adalah paman Khadijah. Imam al Iraqi berkata, “Ini merupakan bukti dari sebagian orang yang menyatakan bahwa Waraqah masuk Islam saat wahyu pertama kali diturunkan.” (Faidhul Qadir VI/520)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan