15 Intisari Surat An Nisa Dalam Al-Qur’an

1,708,434

BERANIDAKWAH.COM | 15 Intisari Surat An Nisa Dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah jawaban bagi mereka yang mencari kebahagiaan di akhirat. Al-Qur’an merupakan mukzijat paling mulia yang dimiliki Rasulullah dan sebagai petunjuk bagi manusia. Semakin luas pemahaman dan pengalaman seseorang terhadap Al-Qur’an, maka semakin banyak hidayah yang ia dapatkan.

Mempelajari Al-Qur’an bukan yang sulit, meskipun hadir dalam bahasa Arab itu bukanlah suatu kendala besar bagi mereka yang sungguh-sungguh mempelajarinya. Sebagai seorang muslim, kita semua menyadari dan menyakini hal itu karena Allah telah menjamin bahwa Al-Qur’an mudah untuk dipelajari.

Semua surat-surat yang terdapat dalam Al-Qur’an mengandung sarat makna, salah satunya pada surat An Nisa. Berikut ini setidaknya ada 15 intisari surat An Nisa yang perlu kita pahami, yaitu:

1. Ayat ke-11 : Kasih Sayang Allah Yang Tak Bertepi

Ar rahman Ar rahim, Allah Maha Pemurah lagi Penyayang. Tidak perlu dibantah lagi betapa Allah lebih mencintai seluruh makhluk-Nya melebihi seorang cintanya orangtua kepada anaknya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam,

Dari Umar bin Khattab yang mengisahkan, “Sekelompok tawanan dibawa menghadap Rasulullah. Kemudia seorang tawanan wanita bergegas mencari seorang balita dari tawanan. Ia lalu menggendongnya, mendekapnya lalu menyusuinya. Rasulullah berkata, “menurut kalian, apakah wanita tersebut berani melempar anaknya ke kobaran api?” Tidak. Demi Allah. Meskipun seandainya dia mampu melempar anaknya ke dalam api,” jawab para sahabat. Kemudian Rasulullah bersabda, “Allah lebih sayang kepada hamba-hambanya melebihi kasih sayang wanita ini kepada anaknya.” (HR. Tabrani)

2. Ayat ke-23 : Pertanyaan Yang Tak Bisa Di Jawab Oleh Ibnu Taimiyyah

Diriwayatkan bahwa Malik bin Aus bin Al Hadtsan yang bercerita, “Aku pernah mempunyai istri yang melahirkan, lalu istriku itupun meninggal dan aku bersedih. Maka aku menemui Ali bin Abi Thalib, ia bertanya, “Ada apa denganmu?”. Aku pun mengkhabarkan kepadanya apa yang terjadi. Ali lalu bertanya, “Apakah istrimu mempunyai anak perempuan, yaitu selain darimu (anak tiri)?”. Aku menjawab, “Ya”. Ia kembali bertanya, “Apakah anak perempuan tirimu itu adalah anak asuhmu?”. Aku menjawab, “Tidak, ia ada di Thaif.”. Ali berkata, “Nikahilah dia!”. Aku berkata, “Lantas bagaimana dengan ayat (anak perempuan/tiri dari istri yang telah aku campuri)?” Ali berkata, “ia tidak dalam asuhanmu.”

Sanad riwayat di atas kuat dan sesuai dengan syarat Imam Muslim. Pendapat di atas adalah sesuatu yang gharib tapi dijadikan pedoman oleh madzab ad-dzahiri. Menurut sebagian ulama, anak tiri tetap tidak boleh dinikahi.

Permasalahan ini ditanyakan kepada Ibnu Taimiyyah, pertanyaan ini cukup pelik bagi beliau. Dan oleh karena itu beliau menjawab, “Wallahu a’lam”.

3. Ayat ke-24 : Mencerai Budak

Ibnu Abbas mengatakan, “Mencerai budak terjadi karena enam hal: menjualnya, memerdekakannya, menghibahkannya, setelah melahirkan dan jika suami budak tersebut mencerainya.”

4. Ayat ke-31 : Larangan Menghujat Abu Bakar dan Umar

Para ulama menganggap bahwa mencela Abu Bakar dan Umar bin Khattab termasuk dosa besar. Bahkan sebagian ulama mengkategorikannya perbuatan yang menyebabkan kekufuran. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Malik. Hal ini juga termasuk dalam salah satu dari 13 wasiat larangan mencela oleh Rasulullah.

5. Ayat ke-36 : Orang Yang Sombong

Allah sangat membenci orang yang sombong dan orang yang membanggakan dirinya. Dia memandang bahwa orang lain lebih rendah darinya. Justru orang seperti inilah yang rendah dan hina menurut Allah. Sehingga manusia pun ikut membenci orang yang sombong.

6. Ayat ke-43 : Hukuman Bagi Pecandu Miras

Deskripsi mabuk dalam Al-Qur’an yaitu keadaan dimana orang tidak tahu apa yang ia baca. Orang yang mabuk pasti keliru di kala membaca Al-Qur’an dan salah menyambung ayat. Bisa dipastikan, jika dia tidak dapat memahami apa yang ia baca. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. An Nisa : 43)

7. Ayat ke-58 : Meluruskan Kesalahan Sejarah

Ayat ini turun yang menceritakan kisah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam yang meminta kunci Ka’bah kepada Ustman bin Thalhah bin Abi Thalhah. Banyak yang keliru mengidentifikasi nama Utsman bin Thalhah.

Sebab kebetulan beliau memiliki paman yang bernama Utsman bin Abi Thalhah. Utsman yang pertama adalah seorang muslim yang masuk islam setelah perjanjian Hudaibiyah. Dia hijrah ke Madinah bersama Khalid bin Walid dan Amru bin Ash. Sedangkan Utsman yang kedua merupakan tokoh musyrikin Quraisy yang tewas pada Perang Uhud.

8. Ayat ke-86 : Hukum Mengucapkan Salam

Kata salam yang di ucapkan sesama muslim ketika bertamu maupun bertemu di jalan yaitu :

ASSALAMUALAIKUM

Yang artinya “semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya terlimpahkan atasmu.” Seandainya ada kalimat lain yang lebih oanjang atau lebih baik dari kalimat di atas, tentu Rasulullah akan mengajarkan kalimat tersebut. Mengucapkan salam hukumnya sunnah, sedangkan menjawabnya adalah wajib hukumnya.

Para ulama mengatakan, “Wajib menjawab salam jika ada orang yang mengatakan salam kepadanya.” Sehingga ia terhitung berdosa jika tidak menjawabnya. Karena ini melanggar firman Allah pada surat An Nisa : 86.

9. Ayat ke-92 : Melepas Tanggung Jawab

Seorang pemimpin bertanggung jawab terhadap kebijakan yang dikeluarkannya. Korban kebijakan pemimpin berhak mendapatkan kompesasi yang diambilkan dari baitul mal. Kesimpulan ini berdasarkan kisah berikut.

Rasulullah mengirim satu regu pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Misinya adalah mengislamkan bani Judzaimah. Ketika diajak masuk islam, ternyata mereka tidak fasih mengucapkan “aslama” yang bermakna kami masuk islam. Mereka mengatakan “shaba’na”, yang bermakna “kami murtad”. Karena itu Khalid bin Walid berkesimpulan mereka menolak untuk masuk islam dan beliaupun menghukum mati mereka.

Berita tersebut sampai kepada Rasulullah, lalu beliau mengatakan, “Ya Allah aku tidak ikut campur atas apa yang dilakuka Khalid bin Walid.” Beliau meminta maaf kepada bani Judzaimah atas kesalahpamahan tersebut. Sebagai kompesasinya, beliau membayar diyat sejumlah korban tewas dan kerusakan harta benda. Bahkan, tempat minum anjing mereka pun beliau ganti rugi.

10. Ayat ke-101 : Hukum Shalat Qasar

Sebagian sahabat Nabi menganggap ayat ini janggal. Ayat ini memperbolehkan shalat qashar ketika mendapatkan intimidasi dari orang kafir sehingga suasana menjadi mencekam. Padahal, ayat ini turun ketika para sahabat telah berhijarah di Madinah dan merasa aman dari gangguan orang kafir. Kemudia Umar bin Khattab menanyakan maksud ayat ini kepada Rasulullah, beliau menjawab,

“Itu adalah sedekah Allah kepada kalian. Terimalah sedekah-Nya.” (HR. Muslim)

11. Ayat ke-106 : Perlukah Rasulullah Berijtihad

Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.” (QS. An Nisa : 105).

Para ulama pakar ushul fiqih menyimpulkan bahwa Rasulullah memiliki hak untuk berijtihad atau memutuskan satu perkara dengan pendapat beliau sendiri. Sebab, beliau adalah orang yang paling memahami maksud dari setiap wahyu yang turun. Selain itu, Rasulullah pernah bersabda,

“Sesungguhnya aku adalah manusia, dan sesungguhnya kalian berhakim kepadaku, dan mungkin saja sebagian kalian lebih pandai dalam menyampaikan alasannya dibanding yang lain (lawannya), kemudian aku memutuskan sesuai dengan apa (alasan) yang aku dengar, maka barang siapa yang untuknya aku putuskan dengan sebagian hak saudaranya (orang lain), hendaknya jangan ia ambil, karena sesungguhnya aku telah memotongkan baginya sebongkah api neraka.” (HR. Bukhari)

12. Ayat ke-115 : Ijma’ Menurut Imam Syafii

Imam Syafii menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa ijma atau kesepakatan kaum muslimin termasuk salah satu sumber hukum Islam. Ketika umat ini bersatu, dapat dipastikan tidak akan bersepakat dalam hal yang bertentangan dengan syariat Allah. Allah berfirman yang artinya

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa : 115)

13. Ayat ke-125 : Ibrahim Al Khalil

Ayat ini mengajarkan kita untuk meneladani Nabi Ibrahim, beliau satu-satunya nabi yang mendapatkan gelar Khalilullah atau kekasih Allah. Derajat itu adalah buah dari intensitas ibadah beliau kepada Allah. Pengorbanan beliau demi mendapatkan keridhaan Allah tak tertandingi oleh manusia lain. Kerana itu beliau sangat layak jika menjadi abul anbiya atau bapak para nabi sekaligus khalil-Nya.

14. Ayat ke-164 : Nama-nama Nabi Dalam Al-Qur’an

Dua puluh lima nabi dan rasul yang selama ini kita ketahui diambil dari keterangan yang ada dalam Al-Qur’an. Nama-nama mereka yaitu: Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Musa, Harun, Yunus, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Zakariyya, Yahya, Isa, Dzulkifli, dan Muhammad.

Namun jumlah nabi dan rasul tidak terbatas hanya 25 nama di atas. Ada banyak rasul lain yang tidak Allah kisahkan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman yang artinya:

“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.” (QS. An Nisa : 164)

15. Ayat ke-176 : Arti Al Kalalah

Ayat terakhir surat An Nisa menjelaskan tentang hukum waris. Khususnya tentang makna kata Al Kalalah, yaitu kondisi di mana jenazah tidak memiliki ayah atau anak. Jika memiliki saudari perempuan, ia berhak mendapat separuh harta warisan. Arti kata Al-Kalalah di atas merupakan pendapat Abu Bakar yang dijadikan rujukan oleh Umar bin Khattab dan seluruh ulama islam.

Itu tadi 15 intisari surat An Nisa yang semoga menambah wawasan kita mengenai Al-Qur’an. Sungguh disayangkan jika Al-Qur’an yang kelak akan mampu menjadi syafaat bagi yang membacanya hanya menjadi hiasan buku semata.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan