Khutbah Jumat: 5 Perkara Penyebab Hancurnya Masyarakat Dan Negara

3,731

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang 5 perkara penyebab hancurnya masyarakat dan negara. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat-Nya, mulai dari nikmat sehat, nikmat kesempatan dan nikmat akan diberikannya iman dan Islam untuk diri kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, suri teladan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, beserta kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa istiqamah mengikuti risalah perjuangan beliau.

Tidak lupa juga wasiatkan kepada diri pribadi serta kepada jamaah sekalian untuk senantiasa terus menerus meningkatkan ketakwaan kepada Allah, karena hanya dengan bekal ketakwaanlah mampu menjadikan kita sebagai penghuni surga, dan janganlah kita mati melainkan dalam keadaan bertakwa kepada Allah.

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang artinya:

Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah menghadap ke arah kami seraya bersabda, ‘Wahai kaum muhajirin, ada lima hal yang aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya: tidaklah menyebarkan perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka berterang-terangan melakukannya, melainkan mereka akan ditimpa wabah-wabah penyakit an kelaparan yang belum pernah menimpa orang-orang sebelum mereka, tidaklah suatu kaum yang mengurangi takaran, melainkan mereka akan ditimpa paceklik, sulit mendapatkan makanan, dan jahatnya penguasa, tidaklah suatu kaum yang enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, melainkan akan terhalang hujan dari langit, kalau saja bukan karena binatang, niscaya tidak diturunkan hujan, tidaklah suatu kaum mengingkari janji, melainkan Allah akan menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, mereka mengambil harta yang ada di tangan mereka. Dan, selama pemimpin-pemimpin mereka tidak menerapkan hukum Allah dan memilih-milih apa yang Allah turunkan di dalam Kitab-Nya, niscaya Allah akan menjadikan kekerasan (keributan) di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Kita yang hidup di zaman ini telah menemui apa-apa yang ditakutkan oleh Rasulullah dalam hadits di atas. Rasulullah telah memberi rumusan kepada kita dengan jelas dan gamblang tentang lima penyakit masyarakat yang dapat membawa kehancuran. Lima penyakit yang akan membawa adzab, kerusakan dan kemurkaan Allah terhadap pelakunya, juga manusia yang hidup di sekitarnya. Maka, dalam kesempatan yang singkat ini, marilah kita kaji satu persatu apa rumusan itu, sehingga kita dapat mengetahuinya dan menghindarkan dari diri kita, keluarga kita, lingkungan kita dan negara yang kita cintai ini, yaitu Negara Indonesia.

Pertama, Perzinaan Yang Tersebar Dan Terang-Terangan

Perzinaan dalam bentuk pelacuran, baik yang di lokalisasi ataupun yang ilegal, sudah merupakan kewajaran yang tidak wajar. Padahal, akibat dari kegiatan atau perbuatan keji ini adalah sangat besar dampaknya terhadap masyarakat. Yang lebih mengerikan lagi bahwa perzinaan ini telah menimpa anak-anak di bawah umur, anak-anak kaum muslimin yang miskin dan jahil, anak-anak yang seharusnya duduk manis di bangku-bangku sekolahan, anak-anak yang seharusnya tidak terbebani mencari nafkah. Berapa banyak surat kabar, TV dan media lainnya memberitakan tentang kasus orang tua yang tega menjual anaknya untuk menjadi pelacur dengan alasan menopang hidup keluarga.

Anak-anak sebagai generasi penerus dan tulang punggug bangsa telah rusak dan terjerumus dalam lembah perzinaan yang akan menjadi penyesalan seumur hidup baginya. Di antara akibat yang telah nyata dan jelas adalah menyebarnya virus AIDS ke seluruh dunia. Benarlah apa yang dinyatakan oleh Rasulullah,

“Tidaklah menyebar perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka berterang-terangan melakukannya, melainkan mereka akan ditimpa wabah-wabah penyakit dan kelaparan yang belum pernah menimpa orang-orang sebelum mereka.”

Kedua, Penipuan Terhadap Timbangan (Takaran)

Karena keimanan yang lemah dan tidak percaya adanya jaminan rezeki dari Allah, membuat para pedagang dan usahawan berbuat curang, yaitu dengan mengurangi timbangan. Perbuatan curang dalam hal ini kian membudaya, banyak penjual yang menipu melalui timbangan dan takaran. Tidak hanya penjual, pembeli pun ikut mencari celah untuk tidak dirugikan, bahkan kadang kala dengan bentuk penipuan lain terhadap pedagang.

Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya,

QS. An-An'am Ayat 152

Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat”

Kecurangan dan penipuan dalam hal jual beli termasuk hal yang diharamkan Allah, dan merupakan suatu penyakit masyarakat yang membawa akibat yang buruk bagi mereka. Jika hal ini terus berlarut-larut di kalangan masyarakat, maka tunggulah ancaman Allah Ta’aka sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah,

“Tidaklah suatu kaum yang mengurangi takaran, melainkan mereka akan ditimpa paceklik, sulit mendapatkan makanan, dan jahatnya penguasa,..”

Kalau kita lihat dan rasakan keadaan kita sekarang, maka akan kita sadari bahwa kita dalam kondisi ini. Entah sampai kapan penyakit dan akibat dari keadaan ini akan berlalu.

Ketiga, Tidak Mau Menunaikan Zakat

Ketimpangan sosial tidak akan selesai hanya dengan teori ekonomi apapun. Kita sudah lihat hasil dari sosialisme, liberalisme, dan sebagainya. Allah Ta’ala telah membekali manusia dengan suatu bentuk solusi yang ampuh dan telah teruji pada zaman-zaman kejayaan Khilafah Islamiyah. Zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, orang-orang fakir miskin terangkat nasibnya sampai mereka menolak harta dari Baitul Mal.

Akan tetapi pada saat ini jumlah orang kaya tidak sedikit, bahkan di antara mereka ada yang mempunyai gunung, bahkan pulau. Namun mengapa fakir miskin semakin banyak dan tak terkendalikan?

Itu karena orang-orang yang mampu dan berhak membayar zakat semakin sedikit dan rapuh kesadarannya. Maka, tunggulah akibat yang dijanjikan Allah melalui lisan Rasul-Nya, “Tidaklah suatu kaum yang enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, melainkan akan terhalang hujan dari langit, kalau saja bukan karena binatang, niscaya tidak diturunkan hujan.”

Kalau sampai saat ini masih ada hujan, bahkan sampai banjir, maka kita jangan merasa bahwa masih banyak orang-orang kaya yang membayar zakat. Akan tetapi karena masih banyak hewan-hewan di sekitar kita yang Allah masih kasihi dengan menurunkan hujan kepada mereka. Sebab, jika kita menyatakan banyaknya orang kaya yang membayar zakat, maka tandanya adalah hujan dan tidak ada ketimpangan sosial.

Keempat, Melanggar Janji Allah Dan Rasul-Nya

“Tidaklah suatu kaum mengingkari janji, melainkan Allah akan menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, mereka mengambil harta yang ada di tangan mereka.”

Fenomena ini ada di berbagai negara Islam di dunia. Banyak negara-negara mayoritas Islam, ketika berjuang melawan penjajah dengan pekik Allah Akbar, dan berikrar menegakkan kalimat Allah, tetapi apabila kemerdekaan itu telah dicapai justru yang mereka pakai adalah hukum manusia, atau mengambil aturan-aturan dan mengingkari janji mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jadilah negara-negara tersebut tetap dalam kekuasaan musuh-musuh Islam, yang selalu memeras dan menggali hasil bumi serta kekayaan negara tersebut.

Kelima, Para Pemimpin Tidak Berhukum Dengan Hukum Allah

Penyakit yang kelima ini sangat kronis dan parah. Kalau diibaratkan penyakit kanker sudah mencapai stadium tinggi yang menjelang ajal, mengapa?

Karena para pemimpinnya tidak mau berhukum dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Maka tidak heran jika timbul perpecahan di berbagai kalangan, pertentangan di kalangan elit politik, dan suburnya kekerasan di antara mereka dalam mencari posisi penting masing-masing.

Dalam perjalanan bangsa Indonesia, yang notabane adalah mayoritas muslim tetapi tidak menggunakan hukum yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, terdapat kejadian-kejadian besar tentang kekerasan dan keributan, baik dari kalangan masyarakat bawah maupun sampai elit politik. Jatuhnya presiden-presiden kita, sejak Presiden Soekarno hingga Presiden Gusdur dan bergantinya para elit politk dengan tidak wajar merupakan bukti bahwa apa yang telah difirmankan Allah memang benar, dan sudah pasti benar.

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah!

Itulah beberapa persoalan umat yang menjadi keprihatinan kita bersama. Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kita semua. Dan menguatkan kita untuk menempuh jalan tersebut. Demikian khutbah pertama yang saya sampaikan, kurang lebihnya saya minta maaf.

KHUTBAH KEDUA

Dalam khutbah yang kedua ini kami sampaikan bahwa sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim dalam menghadapi keadaan seperti ini, yaitu kita tetap harus istiqamah, sabar, dan jangan berputus asa. Kita harus bangkit untuk berupaya memperbaiki keadaan ini. Sebab, jika kita hanya berpangku tangan dan tidak mau mencegah kemungkaran dan memerintahkan yang makruf, maka resiko bagi umat ini akan semakin berat.

Allah berfirman:

QS. An Anfal Ayat 25

Artinya: “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. ”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan satu hadits: “Tidaklah suatu kaum yang terdapat di dalamnya suatu kemaksiatan, mereka lebih mulia dan banyak dibandingkan yang berbuat maksiat, kemudian tidak mengubahnya, kecuali Allah akan mengadzab secara keseluruhan.” (HR. Ahmad)

Semoga kita senantiasa dijaga Allah Ta’ala dengan dakwah dan jihad kita. Dan semoga kita senantiasa di istiqamahkan meniti jalan-Nya. Kita tutup khutbah Jumat ini dengan berdoa kepada Allah agar kita senantiasa diberi lindungan-Nya dan istiqamah hingga akhir hayat nanti.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan