Parenting: 50 Fakta Air Susu Ibu (ASI)

581

BERANIDAKWAH.COM | 50 Fakta Air Susu Ibu (ASI). ASI merupakan cairan yang sangat penting untuk bayi, selain sebagai asupan pokok bayi juga demi menjaga kesehatan dan pertumbuhan si bayi. Pada kesempatan kali ini, kita akan sampaikan 50 fakta air susu ibu (ASI) yang perlu Anda ketahui, khususnya oleh calon ibu!

1.Mampu membersihkan usus bayi yang baru lahir

Bayi kerap kali mengalami diare pada saat ibu memberinya ASI. Menurut dr Utami Roesli, SpA, MBA IBCLC FABM, kondisi seperti ini memang wajar terjadi. Biasanya terjadi pada usia hingga 1-1,5 bulan. Usus bayi yang baru lahir karena belum terpakai jadi masih memiliki rongga-rongga yang harus diperbaiki dengan ASI.

“Pada saat di kandungan sistem pencernaan bayi kan tidak terpakai. Usus jadinya tidak bekerja. Nah, ASI ini membersihkan usus-usus. Reaksinya dengan diare itu,” jelas dr Utami.

Untuk itu, ibu tidak perlu khawatir dan menjadi tidak percaya diri pada kualitas ASI yang dimiliki.

2. ASI wanita dengan Hepatitis B masih bisa dikonsumsi bayinya

Padahal, pasca melahirkan ibu masih bisa menyusui bayinya tanpa khawatir adanya proses penularan hepatitis B. “Asal putingnya tidak terluka, tidak berdarah, ya nggak apa-apa. Yang perlu dikhawatirkan virusnya ini masuk ke tubuh bayi melalui darah yang diisap.” kata Prof Dr dr Ali Sulaiman, SpPD, KGEH.

Sementara itu, penularan langsung melalui Air Susu Ibu (ASI) dikatakan dr Ali kemungkinan sangat rendah. Maka dari itu, ketika menyusui anak sebaiknya diusahakan agar puting ibu tidak terluka, caranya dengan memerhatikan posisi ibu dan bayi yang tepat saat menyusui.

3. Produksi lebih lancar dengan pihat oksitosin

Dikatakan dr Jenae-Roos Tikoalu SpA, IBCLC, pijat oksitosin bertujuan supaya kontraksi otot saluran ASI bekerja. Pijat ini dilakukan sesudah ibu melahirkan dan menyusui. Kemudian, dilakukan terutama oleh suami.

Caranya, ibu buka baju dan posisinya agak membungkuk, membuka bra, dalam posisi bra menggantung. Temukan dulu tulang atlas yaitu tulang di arah leher bawah yang lebih menonjol. Lalu diukur dua jari di bawah tulang atlas, kemudian kita temukan garis tengah dari ruas tulang belakang.

Selanjutnya, letakkan satu jari kiri kanan. Lokasi pemijatan di samping satu jari kiri kanan. Pemijatan ini dapat dilakukan dengan arah ke luar atau ke dalam. Saat posisi ibu condong ke depan dengan payudara menggantung, perhatikan arah puting payudara ibu kemudian tarik garis ke punggung. Nah, garis itulah yang menjadi batas pemijatan oksitosin ini.

4. ASI dijadikan bahan sabun mandi

Sebagian warga China memanfaatkan ASI dengan membuat sabun. Berbekal dari instruksi sederhana yang diperoleh di Internet, kalangan ibu-ibu di China mengubah sisa ASI yang tidak terpakai menjadi sabun mandi. Sabun mandi tersebut dijual lewat situs belanja online China, taobao.com.

Dalam sebuah iklan di situs tersebut, para ibu pengusaha tersebut mengklaim bahwa sabun ASI dapat memutihkan dan melindungi kulit. Meskipun para dokter sendiri masih ragu akan khasiat sabun ASI. Malah, bukan tak mungkin juga jika ada penyakit dapat ditularkan dari virus yang ada pada ASI tersebut.

5. ASI untuk facial

Sebuah spa yang berada di Chicago, Amerika bernama Mud Spa menyediakan menu facial menggunakan ASI. Mud Spa mendapatkan ASI dengan membelinya dari beberapa ibu di daerah setempat. ASI yang didapatkan pun harus memiliki sertifikat bank ASI. ASI yang dipakai untuk facial telah dicek secara medis.

6. ASI dijadikan souvenir

Di tangan ibu asal Adelaide, Amy McGlade, ASI bisa disulap menjadi souvenir seperti cincin, manik-manik, gelang, liontin, anting-anting dan mutiara buatan. Dalam bisnis yang ia beri nama Baby Bee Hummingbirds, menurut Amy produk yang paling populer adalah batu permata dari ASI.

7. ASI bisa keluar pada saat hamil

Selama masa kehamilan, kelenjar ASI sudah mulai bekerja bahkan di minggu ke 14-26 kehamilan. Keluarnya ASI di saat hamil umumnya berupa kolostrum dengan warna kekuningan atau bening dan lengket. Semakin dekat waktu persalinan, warna ASI makin bening.

Meski demikian, bukan berarti semua ibu mengalami keluarnya ASI ketika hamil. Kolostrum yang dikeluarkan saat ibu hamil pun bukan indikasi kondisi abnormal dan tidak akan habis. Sehingga, ibu tidak perlu khawatir akan hal itu.

8. ASI tetap lancar saat Ibu berpuasa

Bagi ibu menyusui dengan anak usia di atas 6 bulan, tetap dibolehkan untuk berpuasa. Menurut dr Utami Roesli SpA, MBA, IBCLC, FABM dari RS St Carolus, tekniknya agar ASI tetap lancar saat puasa adalah tetap makan seperti biasa yakni tiga kali sehari.

Sarapan di ganti sahur, makan siang di waktu berbuka, dan makan malam dilakukan sehabis tarawih. Selama tidur semalaman, jangan lupa letakan air minum di sisi tempat tidur. Perlu diketahui, hanya ibu dengan keadaan gizi yang sangat buruk saja yang tidak dapat memproduksi ASI cukup.

9. ASI bisa terpapar kafein

Kualitas ASI juga bergantung pada makanan yang dikonsumsi Ibu. Karena itu ibu menyusui sebaiknya tidak mengkonsumsi kopi atau minuman lain yang mengandung kafein, karena ASI yang dihasilkan bisa memengaruhi detak jantung bayi menjadi lebih cepat. ASI yang mengandung kafein juga membuat bayi lebih sering kencing karena ginjalnya bekerja lebih keras.

10. ASI lebih lancar di malam hari

Menurut dr Melanie Yudiana Iskandar, SpA dri RS Bunda, prolaktin merupakan hormon penting yang dibutuhkan dalam produksi ASI. Menyusui di malam hari membuat hormon ini lebih aktif, sehingga produksi ASI tidak tersendat.

“Menyusui malam penting untuk keberhasilan ASI eksklusif, karena prolaktin memang lebih aktif di malam hari.” Kata dr Melanie.

11. Alkohol bisa masuk ke ASI

Di masa menyusui, seharusnya ibu menjauhi konsumsi alkohol. Menurut penjelasan Roger W. Harms, M.D, spesialis kandungan dari Mayo Clinic apabila selama masa menyusui seorang ibu tetap mengkonsumsi alkohol. Maka alkohol tersebut akan masuk ke dalam ASI, dengan konsentrasi yang sama seperti yang ditemukan di dalam aliran darah.

Jika bayi mengonsumsi ASI yang mengandung alkohol satu gelas per hari, akan mungkin mengalami gangguan perkembangan motorik. Bayi juga dapat mengalami perubahan pola tidur karenanya.

12. ASI dijemur jadi darah?

Sempat beredar kabar jika ASI dijemur maka akan berubah menjadi darah. Hal ini dikaitkan dengan keharusan seorang anak berbakti pada ibunya, karena ketika ia meminum ASI sama dengan ia meminum darah ibu.

Faktanya, hal itu sama sekali tidak berhubungan. Perubahan warna ASI ketika dijemur dikarenakan adanya reaksi kimia antara kandungan vitamin dan beberapa unsur-unsur ASI itu sendiri. Bahkan ASI yang dijemur pun warnanya tidak merah.

13. Tak terpengaruh ukuran payudara

Ukuran payudara tida memengaruhi berapa banyak ASI yang bisa dihasilkan, karena ukuran payudara lebih tergantung pada jumlah pendukung dan lemak jaringan fibrosa dari jumlah kelenjar susu. Karena itu wanita dengan payudara besar tidak selalu menghasilkan ASI lebih banyak.

Namun ukuran payudara biasanya akan meningkat selama kehamilan, terutama selama trisemester ketiga saat alveoli (sel yang memproduksi ASI) dan mil duct (saluran yang membawa ASI ke puting) tumbuh dan berkembang secara signifikan.

14. Payudara implan tetap bisa menyusui

Posisi implan dan tempat ASI diproduksi memiliki jaringan yang berbeda, sehingga tidak memengaruhi pemberian ASI, asalkan tidak bocor. “Implan payudara tidak memengaruhi ASI, karena implan ini biasanya dimasukkan ke lemak,” ujar dr Utami.

Karena itu pemberian ASI oleh perempuan yang menggunakan implan payudara baru bisa berbahaya jika implannya bocor atau pecah sehingga bisa meracuni ASI.

15. ASI wanita dengan HIV bisa dikonsumsi bayinya

Jika seorang ibu mengidap HIV, ia tetap bisa menyusui anaknya dengan didampingin obat antiretroviral (ARV). Jika ibu yang positif HIV, maka sejak awal kehamilannya harus sudah mengkonsumsi obat ARV agar virus yang ada dalam tubuh ibu tidak ditularkan pada anaknya. Hal ini berdasarkan penetilitian yang dilakukan terhadap ibu yang positif HIV di Afrika Selatan.

“Ibu yang positif HIV bisa menyusui anaknya secara eksklusif asalkan si ibu mengonsumsi obat ARV sejak awal kehamilannya,” ujar dr Henny Hendiyani Zainal, konselor Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

16. Apapun bentuk putingnya, ASI tetap bisa keluar

Puting susu hanyalah sebuah marker atau penanda saja yang terletak pada payudara ibu. Namun, masih banyak masyarakat yang menduga bahwa ASI dikeluarkan dengan cara disedot dari puting.

Pakar laktasi Indonesia, dr Utami Roesli SpA, MBA, IBCLC mengungkapkan yang sebenarnya terjadi adalah ASI keluar dengan cara diperah dari area yang berwarna hitam (areola), bukan dari putingnya. Jadi apapun bentuk putingnya, ASI tetap bisa keluar.

17. ASI lebih banyak di salah satu payudara

Hampir ¾ dari seluruh ibu di dunia memproduksi lebih banyak ASI di payudara kanannya. Hal ini bisa terjadi karena faktor kebiasaan atau faktor biologis, seperti kelenjar air susu di salah satu payudara lebih banyak sehingga dapat memproduksi ASI lebih banyak pula.

Kebiasaan ibu yang lebih suka menyusui di salah satu payudara saja, misalnya karena kenyamanan posisi saat menggendong bayi, juga bisa memicu kondisi ini. Akibatnya, salah satu payudara lebih sering dikosongkan dibandingkan payudara yang lain. Payudara yang sering dikosongkan akan lebih cepat memproduksi kembali ASI.

18. Meminimalkan risiko pneumonia

Keengganan seorang ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi dan balita membuka peluang anak terserang peneumonia. Demikian disampaikan dr Cissy S Prawira, Kepala Divisi Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad.

Peneumonia adalah penyakit radang infeksi akut yang mengenai paru-paru, disebabkan oleh kuman dan jamur. Sebagian besar kasus pneumonia di dunia berawal dari batuk yang menyerang anak-anak.

19. Meminimalkan stres

ASI memiliki kandungan triptofan yang menyebabkan produksi hormon serotonin pada bayi menjadi tinggi. ASI memiliki kadar Mn (mangan) yang rendah sedangkan susu sapi dan susu formula kadar Mn-nya tinggi.

Menurut dr Asti Praborini, SpA dari RS Kemang Medical Care (KMC), kadar Mn yang tinggi akan memblokir produksi serotonin. Padahal serotonin dikenal sebagai zat anti-stres bagi bayi.

20. Terapi bagi bayi kuning

Kuning pada bayi baru lahir sering disebut hiperbilirubinemia, merupakan kuning yang kuning akibat bilirubin dalam darah yang meningkat setelah lahir. Kulit kuning ini sendiri merupakan fisiologis bila mulai timbul pada hari ke-2 atau ke-3 dengan kadar yang rendah.

Menurut dr Aditya Suryansah, SpA dari RSIA Buah Hati dan RSAB Harapan Kita, terapi terbaik untuk kondisi bayi kuning adalah dengan lebih sering memberikan ASI dan anak dijemur di bawah matahari pada pukul 9 pagi.

21. Diminati pria dewasa

Bukan Cuma bayi yang mengonsumsi ASI, orang dewasa pun belakangan banyak yang menyukainya. Para binaragawan di Amerika Serikat mengonsumsi ASI sebagai pengganti suplemen protein dan penambah energi. Sebagaian pria lainnya mengonsumsi ASI untuk alasan kesehatan.

Namun dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM, dokter anak dan pakar ASI dari RS St Carolus meragukan khasiat ASI pada orang dewasa. Menurutnya, ASI tidak tepat digunakan sebagai pengganti suplemen karena komponen pada ASI secara alami ditujukan untuk bayi.

22. Bisa disimpan

ASI yang baru dikeluarkan bisa bertahan di suhu ruangan selama 6 sampai 8 jam. Jika disimpan dalam lemari es, bisa bertahan 3 sampai 5 hari jika suhunya 4 derajat Celcius atau kurang. Sedangkan jika disimpan dalam freezer bisa bertahan 3 sampai 6 bulan.

Namun, tetap harus menjaga kebersihan setiap jali akan memompa dengan mencuci tangan dan membersihkan payudara dengan kain yang lembab. Usahakan setiap wadah berisi ASI yang akan dikonsumsi untuk satu sampai dua kali minum saja.

23. Cukup mengatasi dahaga bayi

ASI sendiri sudah mengandung lebih dari 80% ari, khususnya pada ASI yang keluar awal menyusui. Sehingga hanya dengan ASI saja, dahaga bayi akan teratasi. Jadi meskipun cuaca sedang terik, tidak perlu Anda tambahkan air minum untuk bayi di bawah 6 bulan, cukup ASI saja.

24. ASI bisa keluar lagi setelah menyusui terhenti

Ada beberapa alasan yang membuat ibu berhenti memberi ASI kepada bayinya. Namun jika ibu ingin kembali menyusui si bayi, tetap bisa kok melalui proses relaktasi.

“Dalam proses relaktasi hal ini diakali dengan menggunakan selang NGT (Nasogastric Tube red) yang diisi ASI perah. Jadi bayi tetap menyusui dari payudara tapi dialirkan ASI perah melalui selang NGT yang disempilkan,” ungkap konselor ‘Rumah Menyusui’ RS Budi Kemuliaan Jakarta, dr Hikmah Kurniasari, MKM.

25. ASI bisa keluar dari wanita yang tak melahirkan

Perempuan yang tidak hamil dan melahirkan bisa menyusui bayi yang diadopsinya setelah menjalani induced lacatation atau mencetyskan penyusuan ibu. Dr Asti Praborini, SpA dari RS Kemang Medical Care (KMC) memaparkan butuh waktu sekitar 21 hari bagi perempuan yang menjalani induced lacatation untuk kemudian bisa mengeluarkan ASI. Sehingga sejak awal pasien sudah dirawat, dan ketika sudah keluar dari RS pun pasien tetap mendapat pantauan.

Untuk menambah jumlah ASI yang dihasilkan, ibu mendapat laktagok dan bisa juga ditambah terapi akupunktur. Saat bayi menyusu di payudara ibu, digunakan pula ala suplementer, dimana di dalam suplementer diisi dengan susu lain misalnya susu formula atau ASI donor.

Baca juga: Ini dia alasan kenapa bayi susah menyusu?

26. ASI bisa bikin ibu langsing

Penelitian yang telah dilaporkan dalam konferensi kesehatan American Heart Association di San Fransisco menunjukkan, bahwa perempuan usia menengah yang konsisten menyusui anaknya memiliki lingkar pinggang yang rata-rata 2,6 inci (6,6 cm) lebih kecil dibandingkan perempuan yang tidak pernah menyusui.

“Lemak di perut merupakan tempat paling tidak sehat untuk menyimpan lemak bagi perempuan dan menyusui bisa benar-benar bermanfaat untuk menghilangkan lemak yang buruk ini,” ujar Candance McClure, PhD dari University of Pittsburgh.

27. Bisa hemat triluan rupiah per tahun

Jika ibu-ibu di Indonesia mau memberikan ASI eksklusif, maka setiap tahunnya bisa menghemat Rp 18 triliun lebih per tahun. Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, Ketua Sentra Laktasi Indonesia menjelaskan, bila harga 1 kaleng susu formula diasumsikan Rp 65 ribu dan bayi yang lahir di Indonesia 5 juta per tahun, maka biaya 6 bulan susu formula untuk bayi-bayi tersebut adalah : 5 juta x 55 kaleng (@ 400 gram) x 65.000 = Rp 18.012 triliun.

28. Bikin anak tak mudah marah

Sebuah studi menemukan bayi yang menyusu atau mendapatkan ASI cenderung lebih bisa menahan diri dan tidak lekas marah dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan susu botol atau formula. Studi ini diikuti sekitar 2 ribu orang selama 24 tahun dan mendapatkan partisipan yang tidak mendapat ASI cenderung memiliki tingkat permusuhan terutama seinisme lebih tinggi ketika ia beranjak dewasa.

“Penelitian berbasis populasi ini menunjukkan bahwa menyusui mungkin memiliki efek jangka panjang terhadap sikap atau karakter yang dimiliki seseorang ketika dewasa,” ujar dr Paivi Merjonen dari University of Turku di Finlandia.

29. Cegah anak dari hiperkatif

Penelitian yang dipimpin Aviva Mimouni-Bloch, MD, dari Tel-Aviv University (TAU) menemukan anak-anak dengan ADHD lebih jarang disusui saat berusia 3-6 bulan dibandingkan anak-anak tanpa ADHD. Hanya 43 persen anak-anak dengan ADHD sampai berusia 6 bulan. Penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa kurangnya pemberikan ASI dapat menyebabkan anak menderita ADHD atau sebaliknya.

“Manfaat lain dari pemberian ASI selama 3 bulan dan terutama 6 bulan atau lebih telah diindentifikasi. Penelitian ini membuka jalan bagi pencegahan ADHD,” kata Ruth Lawrence, MD, profesor pediatrik dari University of Rochester School od Medicine.

30. Menurunkan risiko obesitas anak

Peneliti dari Okayama University Graduate School of Medicine, Dentistry, and Pharmaceutical Sciences, Okayama City memastikan menyusui dapat menurunkan risiko obesitas anak. Bahkan risiko obesitas yang diturunkan tak tanggung-tanggung yaitu mencapai separuh atau 50 persen ketika anak mencapai usia delapan tahun.

31. Bisa cegah berbagai penyakit pada ibu

“Ibu yang menyusui memiliki banyak keuntungan, misalnya lebih jarang terkena risiko kanker payudara, kanker ovarium, hipertensi, rheumatoid, artritis, stres serta penyakit lainnya,” ujar dr Utami Roeslo, SpA, IBCLC, FABM.

Dr Utami juga menambahkan berdasarkan penelitian di atas tahun 2009 yang dilakukan oleh para ahli-ahli dunia, ditemukan bahwa ibu menyusui mempunyai risiko lebih rendah terhadap penyakit jantung koroner.

32. Kandungan ASI

ASI mengandung nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Mia Sutanto, konselor sekaligus Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mengungkapkan bahwa ASI juga mengandung zat seperti gula dan garam. Bahkan pada ASI, kedua zat tersebut dikandung dalam jumlah yang sudah pas dan seimbang, tak berlebihan.

“Uniknya, ASI juga merupakan living substance atau cairan hidup. Di dalamnya terdapat sel, hormon, enzim, DNA, dan imuglobin. Semua zat ini membantu meningkatkan imunitas anak dan inilah sebabnya anak yang diberi ASI lebih jarang sakit atau sekalipun sakit lebih cepat sembuh,” ujar Mia.

33. Lindungi anak dari HIV

Peneliti di Duke University menemukan komponen di ASI yang mampu menghancurkan virus HIV yang bisa menyebabkan AIDS. Komponen itu berupa protein Tenascin-C atau TNC yang punya kemampuan melawan kuman dan bakteri.

34. Bisa tingkatkan IQ anak

Penelitian dari Harvard University menunjukkan, anak yang diberikan ASI ternyata memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik saat usianya 3 tahun. Mereka pun memiliki skor IQ yang tinggi saat usianya 7 tahun. Skor IQ bayi yang diberikan ASI di awal kehidupannya ini bertambah 4 poin.

Profesor Michael Kramer, konsultan paeditrician di WHO membuat penelitian serupa. Ia menemukan rata-rata anak yang diberikan ASI ibunya memiliki skor IQ tinggi saat berusia 6 tahun. ASI memiliki peran dalam perkembangan kognitif seorang bayi. Sebab dalam ASI terdapat banyak lemak sehat Omega-3 yang berguna untuk perkembangan otak.

35. Bantu pencernaan lebih siap menerima makanan padat

Peneliti dari University of North Carolina of Medicine mengamati bahwa konsumsi ASI eksklusif pada bayi memiliki dampak signifikan terhadap komposisi, keragaman, dan kestabilan mikroba dalam usus.

“Ketika ibu menyusui bayinya, banyak hormon dan mikroba sehat akan ditransfer ke bayi. Nah, pertukaran mikroba dan bakteri sehat itu memudahkan transisi sistem pencernaan bayi dari susu ke makanan padat,” kata ketua peneliti Andrea Azcarate-Peril.

36. Meningkatkan kekebalan tubuh

Peneliti dari Henny Ford Hospital menyebutkan bahwa asupan nutrisi dari ASI pada bayi dapat membantunya memiiki sistem kekebalan tubuh yang jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI. Sebab, paparan mikoorganisme atau bakteri dalam beberapa bulan pertama usia bayi membantu merangsang sistem kekebalan tubuh.

37. ASI lancar jika ibu bahagia

“Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan produksi ASI berkurang, terutama dari sisi psikologis seperti khawatir, stres, atau efek nyeri pasca persalinan,” papar dr M. Tatang Puspanjono, SpA, dokter spesialis anak RS Siloam.

Menurut dr Tatang tak cukup bila hanya mengusahakan produksi ASI dengan mengandalkan konsumsi sayur katuk saja. Yang paling penting justru dari sisi psikis sang ibu. Saat menyusui, ibu memerlukan ketenangan pikiran yang membuatnya rileks dan bahagia. Sebab bisa dipastikan akan berpengaruh terhadap produksi ASI dan kenyamanan bayi saat menyusu.

38. ASI tidak tularkan penyakit ibu ke anak

Seorang ibu yang sedang terserang penyakit seperti flu, alergi, asma atau eksim, tidak akan menularkan sakitnya pada si anak melalui ASI. Karena ASI memiliki kandungan antibodi yang merupakan inhibitor untuk virus atau bakteri.

39. Bayi belum perlu banyak ASI di hari pertama hidup

Jika bayi baru lahir sering menangis, itu bukan selalu pertanda bayi lapar karena produksi ASI kurang. Sebab di hari-hari pertama hidupnya, bayi pun belum butuh ASI dalam jumlah banyak.

Pada hari pertama hingga kedua ukuran lambung bayi hanya sebesar kelereng, sehingga kebutuhan sekali minumnya bisa dipenuhi dengan 5-7 ml ASI. Tidak banyak bukan?

40. ASI tak langsung keluar usai melahirkan

Beberapa ibu khawatir saat ASI tak kunjung keluar usai melahirkan. Kekhawatiran bertambah saat bayi menangis kencang, mengira si bayi lapar, akhirnya ibu pun menyerah pada susu formula. Padahal ASI tak keluar atau tak lancar pada 2-3 hari pertama usai melahirkan itu normal.

Untuk itu ada baiknya ibu  menjalin konseling laktasi mulai usia kehamilan 6 bulan. Jadi ibu tidak panik dan menyerah begitu saja saat ASI tidak langsung deras mengalir. Tetaplah memberikan payudara kepada bayi meski alirannya belum deras, semakin dirangsang maka produksi ASI akan meningkat.

41. Lebih sering keluar, ASI bakal lebih banyak

Produksi ASI tergantung pada permintaan, jika ibu rutin melakukan pengosongan payudara dengan memberikan ASI kepada si kecil atau memerahnya, maka produksi ASI bisa lebih berlimpah. Sebaliknya jika payudara tidak sering dikosongkan, maka produksi ASI akan berkurang.

Jika payudara yang penuh ASI tidak diperah maka di dalam tubuh ibu akan terbentuk PIF (prolacting Inhibiting Factor), yaitu zat yang menghentikan produksi ASI.

42. Menurunkan angka kematian bayi

Para peneliti Inggris telah menemukan bahwa pemberikan Asi setelah melahirkan dapat meurunkan hingga kematian bayi baru lahir sebesar 22 persen. “Makanan yang optimal, mulai IMD, ASI eksklusif, MPASI, dan ASI yang diteruskan selama 2 tahun dapat menurunkan risiko kematian bayi,” ujar Mia Sutanto.

43. Bisa jadi kontrasepsi alami

“Memberik ASI eksklusif bisa dijadikan sebagai kontrasepsi alami setelah melahirkan,” ujar Prof dr Biran Affandi, Sp.OG (K), dari Asia Pasific Council on Contraception (APCOC) Indonesia.

Dengan sering menyusui bayi, maka otak kecil si ibu akan memproduksu hormon prolaktin lebih banyak. Semakin banyak hormon prolaktin, maka bisa menekan ovulasi (masa subur) pada wanita. Menurut Prof Biran, agar ASI bisa jadi kontrasepsi alami, ibu harus menyusui bayi setidaknya selama 1 jam dalam 1 hari.

44. Mengandung anti kanker

Dalam kolostrum dan ASI mengandung protein TNF-related apoptosis inducing ligand (TRAIL) yang jumlahnya 100-400 kali lebih tinggi dibanding darah. TRAIL merupakan kandidat kuat untuk menjelaskan efek biologis secara menyeluruh dar menyusui dalam melawan kanker.

ASI diketahui pula mengandung Human Alpha-lactalbumim Made Lethal to Tumour (HAMLET). Pada percobaan di laboratorium, zat HAMLET di ASI diketahui dapat membunuh 40 jenis sel kanker dengan keuntungan tidak akan merusak sel-sel yang jahat.

45. Kolostrum

Kolostrum merupakan susu ibu pertama yang keluar pada hari pertama sampai hari keempat atau ketujuh setelah melahirkan. Kolostrum mengandung 1-3 juta leukosit (sel darah putih) dalam 1 ml ASI. Cairan kolostrum berbentuk encer, manis, dan mudah dicerna. Awalnya kolostrum berbentuk kental dan berwarna kuning, semakin dekat dengan persalinan maka kolostrum mencair dan berwarna pucat.

Menurut Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), saat bayi baru lahir, ususnya berbentuk bolong-bolong. Bolong-bolong itu hanya bisa tertutup sempurna oleh kolostrum yang terdapat pada ASI.

46. Mekanisme keluarnya ASI

Puting susu memiliki banyak ujung syaraf sensoris, rangsangan yang diterima payudara akibat hisapan bayi saat menyusu akan memberikan impuls yang menuju hipotalamus, yaitu salah satu organ dalam otak.

Impuls dari hipotalamus selanjutnya diteruskan ke hipofisis, yaitu bagian depan yang mengelurakan hormon prolaktin dan ke hipofisis bagian belakang yang berfungsi mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon prolaktin dialirkan oleh darah ke kelenjar payudara, maka terjadilah refleks pembentukan ASI.

47. Pembentukan ASI

ASI sebenarnya sudah terbentuk sejak usia kehamilan 16 hingga 22 minggu. Saat plasenta sudah keluar maka dengan sendirinya hormon kehamilan akan menurun, sedangkan hormon menyusui akan meningkat. Saat 1-3 hari setelah melahirkan, ASI cenderung akan bertambah banyak dan semakin sering ASI disedot oleh bayi, maka produksinya akan semakin banyak.

48. Mencegah alergi pada anak

Pakar mengatakan ASI merupakan zat terbaik untuk mencegah anak mengidap alergi. Ini karena ASI mengandung sistem kekebalan tubuh ibu.

“Karena selain gizinya yang bagus untuk bayi, ASI juga mengandung sistem kekebalan tubuh ibu, yang bisa masuk ke anak untuk memperkuat antibodi dan mencegah alergi,” tutur dr Zakiudin Munasir, SpA(K) dari RS Cipto Mangunkusumo.

49. Perilaku bayi bisa lancarkan ASI

Perilaku bayi yang baru lahir sebelum menyusu bisa membantu melancarkan ASI. Perilaku bayi yang menjilati kulit ibu, secara tidak langsung merupakan tindakan memasukkan bakteri-bakteri yang bermanfaat untuk usus bayi.

Menurut dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM yang merupakan pelopor Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ketika bayi menghentakkan kepala ke dada ibunya, maka bayi melakukan massage yang akan melancarkan pengeluaran ASI dari payudara si ibu.

50. Pencegah Rotavirus

Vaksin antirotavirus disertai pemberikan ASI eksklusif pada anak selama 6 bulan merupakan cara paling ekfektif untuk mencegah rotavirus. Karena berdasarkan penelitian, ada antirotavirus alami yang terdapat dalam ASI. Demikian disampaikan Dr Yati Soenarto, PhD, Direktur Center for Clinical Epidemiology and Biostatistic di UGM.

Itulah tadi 50 fakta air susu ibu (ASI), semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Jangan lupa share jika menurut kalian baik dan bermanfaat ya. Jazakallah khair.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan