6 Fase Setelah Hari Kiamat Yang Pasti Terjadi

702,550

BERANIDAKWAH.COM | 6 Fase Setelah Hari Kiamat Yang Pasti Terjadi. Setelah bumi luluh-lantak oleh kehendak Allah pada hari kiamat dan semua manusia serta jin tak ada yang tersisa, bahkan semua makhluk ciptaan Allah binasa, tinggallah malaikat peniup sangkakala yang masih hidup. Maka, Allah mewafakan malaikat peniup sangkakala itu, lalu Allah menghidupkannya setelah masa berlalu sekian lama sedangkan tidak ada satu makhluk hidup pun yang hidup. Kemudian Allah memerintahkannya untuk meniup sangkakala sekali lagi dan semua manusia dan jin, dari yang pertama diciptakan sampai yang terakhir, hidup lagi.

Allah berfirman,

Az Zumar Ayat 68

Artinya: “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang dilangit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudia ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)

Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Waktu di antara dua tiupan sangkakala adalah empat puluh.” Mereka yang hadir bertanya, “Wahai Abu Hurairah, empat puluh hari?” Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.” Mereka bertanya lagi, “Empat puluh bulan?” Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.” Mereka bertanya lagi, “Empat puluh bulan?” Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.” Mereka bertanya lagi, “Empat puluh tahun?” Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.” Lantas Abu Hurairah melanjutkan periwayatannya, “Kemudian Allah menurunkan air dari langit sehingga manusia tumbuh seperti tumbuhnya sayuran.” Rasul melanjutkan, “Seluruh bagian tubuh manusia telah hancur kecuali satu tulang saja, yaitu tulang ekor dan darinya akan di mulai penciptaan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

1. Hari Kebangkitan

Peristiwa kebangkitan semua makhluk pada hari kiamat tidak diyakini oleh umat manusia dari dulu sampai sekarang. Hal itu sudah dikabarkan oleh Allah dalam banyak ayat dan ditegaskan oleh Rasulullah dalam banyak hadits. Di antaranya adalah,

Artinya: “Dan mereka selalu mengatakan, ‘Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah/ tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? Apakah bapak-bapak kami terdahulu (akan dibangkitkan pula)?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan kemudian benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang telah dikenal.’.” (QS. Al-Waqi’ah: 47-50)

Ketika dibangkitkan kelak, semua manusia berada dalam keadaan tak berpakaian tak pula beralas kaki. Rasulullah bersabda, “Kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan.” ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama lain?!” Beliau menjawab, “Urusan pada hari itu lebih besar daripada hal itu sehingga mereka tidak akan memperhatikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Pembalasan Amal

Semua amal yang pernah dikerjakan oleh manusia, yang baik maupun yang buruk, yang kecil maupun yang besar, semua akan dibalas oleh Allah. Tidak ada yang terlewatkan sekecil apapun, karena Allah telah menjanjikan hal itu dalam salah satu firmanNya,

Artinya: “Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Yang perlu dipahami terkait dengan janji Allah ini adalah ada amal-amal shalih yang dapat menghapus dosa dan kesalahan sebagaimana ada dosa-dosa yang dapat menghapus amal-amal kebajikan.

Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dalam keadaan apa pun! Kerjakanlah kebaikan setelah kamu melakukan keburukan, semoga kebaikan itu menghapus keburukan! Bergaullah dengan orang lain secara baik!” (HR. At-Tirmidzi)

Allah berfirman, “Jika engkau bertaubat syirik (besar), niscaya semua amalmu akan terhapus, dan engkau menjadi golongan orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 56)

Besar kecilnya nilai suatu amal telah dinyatakan oleh Allah. Begitu pun dengan pengaruh-peengaruhnya. Diri kitalah yang seharusnya melacak dan memenuhi dari Kitab-Nya dan sunnah Nabi. Satu hal yang pasti, Allah Mahaadil dan Maha Pemurah. Jika Dia menghukum, pastilah dengan seadil-adilnya. Tak ada satu makhluk pun (manusia) yang ddizalimi-Nya. Jika Dia memberi balasan yang baik atau ampunan, sungguh itu dengan rahmat dan anugerah-Nya.

3. Perhitungan Amal

Sebenarnya memberi balasan atas apa yang dilakukan manusia selama hidup di dunia tanpa melakukan perhitungan amal pun mudah bagi Allah. Karena Allah Maha Mengetahui semua perkara, baik secara globar maupun yang detail. Hanya kiranya demikianlah salah satu hikmahnya untuk menunjukkan kesempurnaan apa yang dilakukan oleh Allah dan keadilan-Nya, Allah akan menghitung berbagai amal manusia. Amal baik maupun amal yang buruk, semuanya.

Hari perhitungan amal atau yaumul hisab ini ada yang ringan dan juga ada yang berat, di samping ada orang-orang beriman yang masuk surga tanpa hisab. Rasulullah bersabda,

“Tidak seorang pun dihisab pada hari kiamat kecuali celaka.” ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah berfirman, “Adapun siapa yang diberi kitab dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan ringan?” Rasulullah menjawab, “Hanyasanya itu adalah ‘aradh (memperlihatkan amal). Tidak seorang pun menghadapi hisab pada hari kiamat kecuali ia akan dihisab.” (HR. Bukhari)

Rasulullah bersabda, “Telah diperlihatan kepadaku beberapa umat oleh Allah. Aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang, seorang Nabi bersama seseorang dan dua orang dan seorang Nabi sendiri, tidak seorang pun menyertainya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sekelompok orang yang sangat banyak. Kukira mereka itu umatku, tetapi disampaikan kepadaku, ‘Itu adalah Musa dan kaumnya.’ Lalu tiba-tiba kulihat lagi sejumlah besar orang, dan disampaikan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang, mereka akan masuk surga tanpa hisab dan azab…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hisab akan dilakukan sendiri oleh Allah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah. “Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali akan diajak bicara Rabb-nya tanpa ada penerjemah antara dia dan Rabbnya. Lalu ia melihat ke sebelah kanan, hanya akan melihat amalan yang pernah dilakukannya, dan ia melihat kekiri, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya. Lalu melihat ke depan, kemudian hanya melihat neraka ada di hadapannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umat Islam akan terbagi menjadi tiga, yaitu masuk surga tanpa hisab, masuk surga dengan hisab ringan atau ‘aradh, dan masuk surga setelah dihisab yang berarti masuk neraka terlebih dahulu. Semoga kita termasuk golongan yang pertama atau yang kedua.

4. Catatan Amal

Setelah menjalani yaumul hisab, kepada setiap orang akan diberikan kitab yang bertuliskan catatan amalnya sewaktu di dunia. Allah berfirman,

Artinya: “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya?’ Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Artinya: “Pada hari ketika dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadalah: 6)

Pada saat catatan amal diperlihatkan oleh Allah, mulut manusia dikunci sehingga ia tak dapat mengingkarinya. Bahkan anggota badannya menjadi saksi atas apa yang tercatat itu.

Yaumul Mizan

5. Yaumul Mizan

Tak hanya hisab dan diberi catatan amal perbuatan, namun manusia dan amalnya pun akan ditimbang (mizan). Manakah yang lebih berat, antara amal kebaikannya ataukah amal keburukan dan dosa-dosanya. Allah berfirman,

Artinya: “Kami akan memasang mizan (timbangan) yang tepat pada hari kiamat. Maka, tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.” (QS. Al-Anbiya: 47)

Rasulullah juga bersabda, “Ada dua kalimat yang dicintai Allah Yang Maha Penyayang, ringan diucapkan, berat di mizan (timbangan). Yaitu, ‘Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya’ dan ‘Mahasuci Allah yang Mahaagung’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Shirat

Setelah menjalani semua prosesi menuju pembalasan amal yang sejati, manusia akan digiring menuju sebuah tempat di mana selanjutnya mereka harus melewati shirath menuju jannah. Shirath adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam. Rasulullah adalah orang pertama yang melewatinya, sebagaimana yang dikabarkan oleh Imam al-Bukhari.

Tentang keadaan manusia saat melewati shirath, Rasulullah bersabda, “Orang beriman melewati shirath dengan keadaan: ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda yang amat kencang berlari, dan ada yang secepat pengendara. Maka ada yang selamat setelah tertatih-tatih dan ada pula yang dilemparkan ke dalam neraka. Mereka yang paling akhir merangkak secara perlahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Madarijus Shalikin, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa keadaan manusia saat melewati shirath sama persis dengan perjalanan hidupnya di dunia. Semoga kita semua mendapati mati yang baik atau khusnul khatimah. Aamiin.

Baca juga artikel terkait dengan Hari Kiamat di bawah ini:

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan