9 Adab Yang Benar Bagi Khatib Jumat

671,357

BERANIDAKWAH.COM | Adab Yang Benar Bagi Khatib Jumat. Khutbah Jum’at merupakan salah satu media yang strategis untuk dakwah Islam, karena sifatnya yang rutin dan wajib dihadiri oleh setiap muslim laki-laki. Sayangnya, media ini terkadang kurang dimanfaatkan secara optimal. Para khatib seringkali menyampaikan khutbah yang membosankan, yang berputar-putar dan itu-itu saja. Akibatnya, banyak para hadirin yang terkantuk-kantuk dan bahkan tertidur karena seharian bekerja.

Di samping itu, para khatib itu juga tak jarang menyampaikan khutbah dengan cara yang kurang sesuai dengan adab khutbah Jum’at yang seharusnya. Misalnya, mereka berkhutbah dengan suara yang lemah lembut. Mungkin dianggapnya itu adalah cara yang penuh “hikmah” dan lebih cocok dengan karakter orang Indonesia yang konon ramah tamah, mencintai harmonisasi kehidupan, serta suka kedamaian dan kelembutan.

Sudah materinya membosankan, penyampaiannya malah bikin orang terlena di alam mimpi. Padahal Rasulullah berkhutbah dengan penuh semangat dan  kata-kata yang beliau keluarkan begitu tegas. Jika para khatib menggunakan cara penyampaian yang dicontohkan Rasulullah, ditambah dengan materi yang aktual, hangat dan dinamis, niscaya para jamaah yang hadir akan bergairah dan penuh semangat pula.

Karena itu, seorang yang ditunjuk untuk mengemban amanah sebagai khatib Jum’at maka alangkah sebaiknya mempelajari kembali adab-adab khutbah Jumat sebagaimana yang ada dalam tuntunan syariah Islam. Tujuannya agar para khatib dapat menjalankan khutbah Jum’at dengan sebaik-baiknya dan materi yang disampaikan mampu meresap ke dalam sanubari jamaah.

9 Adab Yang Benar Bagi Khatib Jumat

Pertama, khatib naik mimbar, kemudian mengucapkan salam kepada hadirin. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdullah

“Sesungguhnya Nabi Muhammad jika telah naik mimbar biasa mengucapkan salam.” (HR. Ibnu Majah)

Kedua, berdiri untuk berkhutbah dan membukanya dengan hamdalah, sanjungan kepada Allah, syahadatain, shalawat, bacaan ayat-ayat takwa, dan perkataan amma ba’d.  Hal ini antara lain ditunjukkan oleh banyak hadits, diantaranya hadits Abdullah.

doa jumat

Dia mengatakan, “Rasulullah mengajarkan kami khutbah hajah, yakni: ‘Alhamdulillah…, artinya segala puji bagi Allah (kami memujiNya), mohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Serta kami memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amalan kami.

Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, tidak ada seorangpun yang menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah (semata, tidak ada sekutu bagi-Nya), dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

QS. Ali Imran Ayat 102

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)

QS. An Nisa Ayat 1

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisa: 1)

QS. Al Ahzab Ayat 71

QS. Al Ahzab Ayat 72

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al-Ahzab: 70-71)

Setelah memaparkan sanad-sanad hadits khutbah hajah, Syaikh Al-Albani berkata dalam penutup kitab kecil beliau Khutbah Hajah, “Dari hadits-hadits yang telah lalu, menjadi jelas bagi kita bahwa khutbah ini (yaitu, perkataan innal hamda lillah…) digunakan untuk membuka seluruh khutbah-khutbah, baik khutbah nikah, khutbah Jum’at atau lainnya.” (Khutbah Hajah, hal 31, karya Syaikh Al-Albani)

Walaupun membuka khutbah Jum’at dengan khutbah hajah sebagaimana di atas hukumnya bukan wajib, namun pastilah merupakan keutamaan karena diajarkan oleh Rasulullah. Dan dari khutbah hajah itu kita mengetahui bahwa khutbah Rasulullah dibuka dengan: hamdalah, pujian kepada Allah, syahadatain, bacaan ayat-ayat takwa dan perkataan amma ba’d.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah Rasulullah berkhutbah, kecuali beliau membuka dengan hamdalah, membaca syahadat dengan dua kalimat syahadat, dan menyebut dirinya sendiri dengan nama diri beliau.” (Zad Al-Ma’ad, I/189)

Membaca shalawat di dalam khutbah merupakan sunnah dan keutamaan, sebagaimana dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dalam khutbahnya. Disebutkan dalam riwayat di bawah ini:

Dari ‘Aun bin Abi Juhaifah, dia berkata, “Dahulu bapakku termasuk pengawal Ali dan berada di bawah mimbar. Bapakku bercerita kepadaku bahwa Ali naik mimbar, lalu memuji Allah Ta’ala dan menyanjung-Nya, dan bershalawat atas Nabi Muhammad dan berkata, ‘Sebaik-baik umat ini setelah Nabi Muhammad adalah Abu Bakar, yang kedua adalah Umar.’ Ali juga berkata, ‘Allah menjadikan kebaikan di mana Dia cintai’.” (HR. Ahmad)

Ketiga, khatib berdiri dan menghadapkan wajah kepada jamaah, dan jamaah menghadap wajah kepada khatib.

Dari Ibnu Umar, dia berkata:

“Rasulullah biasa berkhutbah dengan berdiri pada hari Jum’at, kemudian beliau duduk, kemudian berdiri lagi.” (HR. Muslim)

Ibnu Hajar mengatakan, “Di antara hikmah makmu menghadap kepada imam, yaitu bersiap-siap untuk mendengarkan perkataannya dan melaksanakan adab terhadap imam dalam mendengarkan perkataannya. Jika makmum menghadapkan wajah, tubuh, hati dan konsentrasinya, hal itu lebih mendorong untuk memahami nasihatnya dan menyepakati imam terhadap apa yang telah disyariatkan baginya untuk dilaksanakan.” (Fath Al-Bari, II/489)

Keempat, duduk di antara dua khutbah, tidak berbicara ketika duduknya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir, dia berkata,

“Aku melihat Rasulullah berkhutbah berdiri, lalu duduk sebentar, beliau tidak berbicara.” (HR. Abu Dawud)

Kelima, khutbah hendaklah sebentar, shalat lebih panjang namun keduanya itu sedang.

Abu Wa’il berkata, “Ammar berkhutbah kepada kami dengan ringkas dan jelas. Ketika dia turun, kami berkata, ‘Hai Abul Yaqzhan (panggilan Amar). Engkau telah berkhutbah dengan ringkas dan jelas, seandainya engkau perpanjang sedikit!’ Dia menjawab, ‘Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya panjang shalat seorang dan pendek khutbahnya merupakan tanda kefahamannya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah khutbah! Dan sesungguhnya di antaranya penjelasan merupakan sihir’.” (HR. Muslim)

Adapun ukuran panjang shalat Jum’at dapat dilihat dari kebiasaan Nabi Muhammad. Beliau biasa membaca surat Al-A’la dan Al-Ghasiyah, atau Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun. Sehingga khutbah Jum’at hendaklah tidak lebih lama dari itu.

 Dari An-Nu’man, dia berkata, “Rasulullah biasa membaca di dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at dengan: Sabbihisma Rabbikal a’la dan Hal ataka haditsul ghasyiyah.” (HR. Muslim)

Keenam, khatib hendaklah menjiwai khutbahnya.

Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Kebiasaan Rasulullah jika berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suaranya tinggi, dan kemarahannya sungguh-sungguh. Seolah-olah memperingatkan tentara dengan mengatakan, ‘Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi,’ ‘musuh akan menyerang kamu pada waktu sore’.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi berkata, “Hadits ini dijadikan dalil, bahwa khatib disukai yang membesarkan perkara khutbah (yakni serius dan sungguh-sungguh), meninggikan suara dan membesarkan perkataannya. Dan hal itu (hendaklah) sesuai dengan tema yang dia bicarakan, yang berupa targhib (dorongan kepada kebaikan) dan tarhib (ancaman terhadap keburukan). Dan kemungkinan kemarahan beliau yang sungguh-sungguh yaitu ketika memperingatkan perkara yang besar dan urusan yang penting.” (Al-Minhaj, VI/155-156)

Ketujuh, berkhutbah dengan perkataan jelas, pelan-pelan dan tidak berbicara dengan cepat, sebagaimana hadits Aisyah: “Beliau tidak berbicara cepat sebagaimana engkau berbicara cepat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, disebutkan: “Tetapi beliau berbicara dengan pembicaraan yang terang, jelas, orang yang duduk bersama beliau dapat mengahafalnya.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah tidak memperbanyak perkataan dalam khutbahnya, juga tidak mengiringkan perkataan mengikuti lainnya, sehingga perkataan itu masuk ke perkataan lainnya. Beliau tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan khutbah, bahkan melambatkan perkataan dan tidak terburu-buru dalam mengeluarkannya. Metode ini, jelas memberikan kemampuan para pendengar untuk memahamu khutbah dan mencapai tujuannya.

Kedelapan, jika ada keperluan, khatib boleh menghentikan khutbahnya sementara. Seperti mengingatkan orang yang hadir tentang shalat tahiyatul masjid, menegur hadirin yang ramai, dan semacamnya. Sebagaimana dalam hadits Jabir, bahwa Sulaik, masuk masjid pada hari Jum’at sementara Rasulullah sedang berkhutbah, lalu dia langsung duduk. Maka Rasulullah bersabda kepadanya,

“Hai, Sulaik! Berdirilah, lalu shalatlah dua rakaat, dan ringkaskanlah dua rakaat itu.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kamu datang pada hari Jum’at, ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia shalat.” (HR. Muslim)

Kesembilan, jika berdoa, mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan tidak dengan menengadahkan kedua tangan. Hal ini sebagaimana hadist Rasulullah,

“Dari Umarah bin Ruaibah, dia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar sedang mengangkat kedua tangannya. Maka Umarah berkata, “Semoga Allah memburukkan dua tangan itu! Sungguh aku telah melihat Rasulullah tidaklah lebih dari mengisyaratkan dengan tangannya begini.” Dia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.” (HR. Muslim)

Demikianlah 9 adab yang benar bagi khatib Jumat. Jika para khatib melaksanakan adab-adab tersebut, insya Allah khutbahnya akan memiliki pengaruh pada para jamaah serta diberkahi Allah Ta’ala.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan