Khutbah Jumat: Akibat Suka Berbuat Maksiat

1,044

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang akibat suka berbuat maksiat kepada Allah. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah!

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita seorang mukmin yang senantiasa berusaha untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan Dia-lah yang telah memberikan kepada kita nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga kita ditakdirkan dapat melaksanakan shalat jumat siang hari ini di masjid ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada uswah kita, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam yang melalui beliaulah kita terselamatkan dari zaman kebodohan menuju jalan cahaya Islam.

Dari mimbar ini kami menyeru kepada jamaah sekalian agar senantiasa berpegang teguh dengan keimanan dan selalu meningkatkan ketaqwaan. Karena tidak ada bekal terbaik untuk menghadap Allah Ta’ala kecuali taqwa dan semoga Allah mematikan kita dengan keadaan taqwa kepada-Nya.

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah!

Sesungguhnya musibah-musibah yang menimpa kaum muslimin saat ini yang berupa penderitaan, kesulitan dan kesempitan, baik pada harta maupun keamanan, yang menyangkut masalah pribadi ataupun social, tidak lain sesungguhnya disebabkan oleh maksiat-maksiat yang dilakukan oleh manusia sendiri.

Allah berfirman:

QS. An Nisa Ayat 79

Artinya: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.”

Sesungguhnya kebanyakan orang-orang sekarang mengembalikkan sebab musibah-musibah yang mereka alami, baik musibah yang menyangkut harta atau yang menyangkut keamanan dan politik mereka mengembalikan sebab-sebab musibah-musibah ini hanya kepada sebab-sebab alami, materi, atau kepada sebab pergolakan politik, atau sebab perekonomian, atau kepada sebab perselisihan tentang daerah perbatasan antara dua Negara.

Tidak disangsikan lagi, hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mereka dan lemahnya iman mereka dan kelalaian mereka dari mentadaburi Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah.

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah!

Islam selalu mengajarkan kebaikan kepada pengikutnya. Demikian pula Islam melarang pemeluknya berbuat dosa dan kemaksiatan. Tidaklah Islam memerintahkan serta melarang sesuatu kecuali ada hikmah di balik semua itu.

Setiap orang yang melanggar syariat Islam, pasti pelakunya akan mendapat kesengsaraan di dunia dan akhirat. Dia akan menjadi titik hitam yang sulit dibersihkan jika tidak bertaubat dan dibarengi dengan perbuatan yang baik. Dari Abu Hurairah bahwsanya Rasulullah bersabda:

Artinya: “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan titik warna hitam. Jika dia bertaubat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, nuktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka’.” (HR. At Tirmidzi)

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah!

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan akibat berbuat maksiat pada Allah Ta’ala. Di antara akibat tersebut adalah:

1. Maksiat menghalangi pengetahuan

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”

Ketahuilah bahwa Islam ini adalah cahaya. Ia akan menerangi jalan menuju surga-Nya. Dan ketahuilah bahwa cahaya Islam ini tidak akan masuk ke dalam hati kita jika kemaksiatan masih menghiasi kehidupan kita. Banyaknya pengajian yang kita hadiri, ceramah-ceramah dari para dai dan khatib yang kita dengarkan, akan tetapi banyak dari yang sulit untuk diserap dalam pikiran kita. Mungkin penyebabnya adalah maksiat.

Bagaimana tidak, telinga kita masih mendengarkan musik-musik jahiliyah dari pada mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Mata kita masih menonton tayangan-tayangan televise yang jauh dari tuntunan Islam. Serta anggota badan kita masih banyak melakukan dosa-dosa sehingga Allah belum memberikan ilmu-Nya kepada kita.

2. Maksiat menghalangi rezeki

Jika ketaqwaan adalah penyebab datangnya rezeki dari Allah, sebaliknya meninggalkan ketaqwaan berarti menimbulkan kefakiran.

Dari Tsauban, bersabda Rasulullah, “Sesungguhnya seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad)

Kita harus yakin bahwa taqwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rezeki dan memudahkannya dan tidaklah mudah mendapatkan rezeki Allah kecuali kita tinggalkan kemaksiatan dan janganlah kita penuhi jiwa kita tumbuh dengan hal-hal yang maksiat.

Kita juga harus membersihkan rezeki kita dari barang-barang yang haram dan syuhbat. Jauhkan diri dari riba, menipu, serta transaksi-transaksi yang dilarang dalam Islam. Dan ingatlah bahwa satu suap yang didapat dari barang haram bisa menjadikan diri kita terjerumus ke dalam Neraka. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Setiap jasad yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. At Thabrani)

3. Maksiat menimbulkan jarak dengan Allah

Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”

4. Maksiat menjauhkan pelakunya dengan orang baik

Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orng yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

5. Maksiat menyulitkan urusan

Jika ketaqwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam setiap urusannya. Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk.”

Demikian khutbah pertama yang saya sampaikan, mudah-mudahan yang sedikit ini mampu menjadi pelecut hati kita untuk berbuat baik dan meinggalkan maksiat. Dan tidak lupa kita berdoa pada Allah Ta’ala agar Dia menjauhkan kita dari maksiat dan memudahkan segala urusan kita dalam ketaatan.

KHUTBAH KEDUA

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah!

Sesungguhnya kemaksiatan sangat mempengaruhi keamanan Negara, sangat berpengaruh terhadap ketentraman bangsa dan perekonomiannya, serta mempengaruhi hati-hati rakyatnya. Meskipun berbagai kemaksiatan terpampang di depan mata dengan berbagai macam dan ragam, jika kita saling bahu membahu mencegahnya sesuai dengan kemampuan kita, insya Allah semuanya akan sirna dan barakah akan diturunkan ke muka bumi.

Saya mengajak diri saya sendiri dan jamaah sekalian untuk bersatu di jalan Allah dan saling bergandengan tangan dalam menegakkan syariat Allah, saling menasehati satu dengan yang lainnya, berdialog dengan siapa saja yang memang butuh untuk diajak dialog namun dengan metode yang terbaik dan dengan hujjah (argumentasi) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta dengan argumentasi akal, tidak membiarkan para pelaku kebatilan tetap pada kebatilan mereka. Karena mereka berhak untuk kita jelaskan kepada mereka kebenaran yang hakiki kemudian kita memotivasi mereka untuk melaksanakannya serta kita jelaskan juga kepada mereka kebatilan mereka dan kita memperingatkan mereka dari kebatilan tersebut.

Kita mohon kepada Allah agar mengembalikan orang yang sesat dari umat ini menuju jalan yang benar, agar menjadikan kita saling bergandengan tangan dalam melaksanakan kebenaran, saling tolong menolong dalam mengerjakan kebajikan dan ketaqwaan hingga kita mengembalikkan apa-apa yang telah sirna berupa kemuliaan dan ketinggiannya, sesungguhnya Allah Maha Menguasai hal itu dan Maha Mampu mewujudkannya.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan