Khutbah Jumat: Amalan-Amalan Menuju Surga

1,291

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang amalan-amalan menuju surga. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmt iman dan Islam kepada kita. Nikmat inilah yang akan mengantarkan kita ke surge-Nya nanti. Aku bersaksi tiada sesembahan yang wajib disembah kecuali Allah Ta’ala. Tiada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam adalah utusan Allah. Semoga shalawat dan shalam selalu tercurahkan kepadanya, sahabat, dan seluruh pengikutnya yang senantiasa istiqamah mengikuti risalah perjuangan beliau hingga akhir nanti.

Tidak lupa juga khatib mengingatkan untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah dengan selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah dan mendekatkan diri dengan mematuhi segala apa yang Allah perintahkan serta Rasulullah ajarkan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Sesungguhnya kehidupan orang mukmin di dunia ini memiliki tujuan. Tujuan hidup tidak lain adalah untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Mencapai surga yang luasnya seluas langit dan bumi, itulah kemenangan yang nyata. Allah berfirman

QS. Ali Imran Ayat 185

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Tujuan kita adalah mencari ridha Allah, menggapai surga-Nya. Karena surge adalah tempat tinggal yang pertama, tempatnya yang asli dan tempat tinggal abadi bagi hamba-hamba-Nya yang Dia ridhai. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

QS. Al Baqarah Ayat 35

Artinya: “Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

Surga adalah tempat tinggal bapak kita, Adam. Kemudian Adam dikeluarkan darinya karena tergoda bujukan musuh kita, yaitu Iblis. Iblis berhasil menipu Adam dan Hawa dengan makan dari pohon yang dilarang Allah untuk dimakanya. Allah Ta’ala berfirman:

QS. Al A'raf Ayat 22

Artinya: “maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?””

Tujuan seorang muslim di dunia ini adalah sampai ke tempat tinggal tersebut. Tempat tinggal kemuliaan dan senikmat-nikmatnya tempat tinggal bagi orang yang bertaqwa, disamping itu juga merupakan tempat tinggal keselamatan.

Allah Ta’ala berfirman:

QS. An An'am Ayat 127

Artinya: “Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.”

Mereka sampai ke tempat itu dengan tambahan kemuliaan yaitu dengan diberikan kesempatan melihat wajah-Nya. Surga juga merupakan tempat tinggal yang di dalamnya berkumpul para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Surga adalah tempat tinggal yang seseorang tidak melihat dan mendengar di dalamnya kecuali kebaikan pula.

Allah berfirman:

QS. Yunus Ayat 10

Artinya: “Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.”

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah amalan apakah yang bisa menghantarkan seorang mukmin ke surga yang luas tersebut, yang jika dia berjalan di bawah naungan satu pohonnya selama 100 tahun, maka dia belum bisa melewati naungan tersebut. Di dalam surga tersebut dia berada dalam kenikmatan dan amat senang. Mereka tidak haus dan tidak pula menjadi tua renta, tidak sakit, tidak mati, tidak tidur dan tidak bosan, awet muda dan pakaiannya tidak akan using atau rusak.

Maka tempat tinggal seperti itu haruslah dicapai dengan amal kebaikan!

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Di antara amal-amal yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk meraih surga-Nya adalah:

Pertama, keimanan yang benar serta keyakinan yang kuat

Iman maksudnya keyakinan yang kuat kepada Allah, malaikat, kitab dan rasul-Nya, hari Kiamat, dan takdir-Nya yang baik maupun yang buruk. Iman yang tidak bercampur dengan keraguan, iman yang murni kepada Allah dengan segala apa yang juga diberitahukan oleh Rasulullah. Karena surga diharamkan bagi orang-orang kafir, musyrik dan yang ragu atau menentang. Allah Ta’ala berfirman

QS. Al Maidah Ayat 72

Artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”

Kedua, Jujur

Jujur kepada Allah Ta’ala, jiwa dan manusia. Jujur artinya keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar atau jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya.

Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik, tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah, secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Rasulullah, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta merupakan ciri atau sifat orang munafik.

Rasulullah bersabda:

Artinya: “Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran itu akan member petunjuk kepada kebaikan. Dan kebaikan akan member petunjuk kepada surga. Dan seseorang itu masih dalam keadaan jujur dan mencari kejujuran sehingga Allah pun menulisnya sebagai orang yang jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi dusta. Karena dusta itu akan memberi petunjuk kepada kemaksiatan. Dan kemaksiatan itu akan memberi petunjuk kepada neraka. Dan seseorang yang masih dalam keadaan dusta dan mencari kedustaan, sehingga Allah pun menulis sebagai orang yang dusta.” (HR. Muslim)

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan.”

Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelematkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenaran). Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. Al Ma’idah: 119)

Dan kejujuran yang paling tinggi adalah kejujuran di dalam memegang sumpah setia dan menunaikan janji dengan dakwah hingga titik darah penghabisan. Seperti yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya yang menunjukkan hanya sebagian orang yang mampu berbuat demikian.

QS. Al Ahzab Ayat 23

Artinya: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).”

Sebab yang ketiga, sabar dan bersyukur atas qadha’ dan takdir Allah.

Rasulullah bersabda:

Artinya: Anas berkata, bersabda Rasulullah, “Iman itu ada dua bagian, bagian yang pertama ada dalam kesabaran dan sebagian pada syukur.” (HR. Baihaqi)

Seorang mukmin hidup di dunia ini dalam keadaan susah payah. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”

Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surge bagi orang kafir. Maka, yang diminta bagi orang mukmin adalah bersabar terhadap apa yang menimpa badannya, dirinya, keluarganya, hartanya, dan sabar terhadap qadha’ Allah dan takdir-Nya karena Allah telah memberitahukan bahwa sabar itu balasannya adalah surga.

Allah berfirman:

QS. Az Zumar Ayat 10

Artinya: “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Terakhir, marilah kita renungkan hadits Rasulullah

Artinya: “Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan dia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kemudaratan/kesusahan dia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Kita berdoa semoga Allah melimpahkan surga kepada kita. Dan, melimpahkan perkataan dan perbuatan yang bisa mendekatkan kepada surga tersebut. Kita juga berlindung kepada Allah dari siksa kubur serta siksa Neraka, dan berlindung dari perkataan maupun perbuatan yang mendekatkan kepada neraka. Aamiin

KHUTBAH KEDUA

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Itulah surga, tempat yang dijanjikan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Tiada seorang muslim pun pasti menginginkan sebagai salah satu penghuninya. Allah dan Rasul telah menerangkan bagaimana jalan yang harus kita tempuh agar sampai kepadanya dengan selamat.

Marilah kita sejenak memohon kepada Allah agar diberi kekuatan untuk melakukan amal shalih yang dapat menjauhkan kita dari kemaksiatan, perasaan takut yang menghantarkan kita kepada rahmat-Nya, dan keyakinan yang dengannya kita menganggap remeh musibah-musibah dunia, juga semoga kita tidak diberi hati yang cita-citanya hanya untuk kenikamatan dunia.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan