Ancaman dan Balasan Membantu Penguasa Zalim

31,223

BERANIDAKWAH.COM | Ancaman Dan Balasan Membantu Penguasa Zalim. Dari Abu Said al Khudri dan Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, “Sungguh akan datang suatu zaman di saat mana para penguasa menjadikan orang-orang jahat sebagai kaki-tangan dan menunda-nunda pelaksanaan shalat dari awal waktunya. Barangsiapa mendapati mereka maka janganlah ia menjadi penasehat, polisi, penarik pajak atau bendahara bagi mereka.” (HR. Ibnu Hibban dinilai shahih oleh Syaikh al Albani)

Hadits ini dikategorikan para ulama sebagai hadits yang memberitakan tanda kiamat kecil (shugra). Artinya, fenomena yang diceritakan dalam hadits terjadi sebelum tanda-tanda kiamat besar (kubra) muncul. Jadi, jika mengukur dari zaman Nabi, hal dimana beliau wafat juga menjadi tanda dari kiamat kecil, zaman kita masuk dalam rentang waktu kemunculan tanda ini. Dan terbukti, setelah runtuhnya Khilafah Islamiyyah, yang ada tinggal penguasa yang zalim.

Zalim dalam arti suka berbuat sewenang-wenang dan menzalimin rakyat, atau zalim dalam arti mengabaikan syariat Allah dan sunnah Rasul-Nya. Boleh jadi mereka peduli terhadap rakyat, menyejahterakan dan memajukan perekonomian rakyat. Namun disamping itu mereka juga melegalkan kemaksiatan seperti zina, homoseksual, minuman keras, narkoba dan perbuatan-perbuatan lain yang bertentangan dengan syariat Islam. Yang paling zalim adalah penguasa yang tidak menegakkan syariat Islam serta menyengsarakan rakyat.

Melirik dari hadits di atas tadi, Nabi memberikan suatu arahan manakala menjumpai kondisi seperti itu maka jangan sampai kita menjadi kaki-tangannya. Sebab, menjadi kaki-tangan penguasa zhalim berarti ta’awun alal itsmi wal ‘udwan, tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.

Barangkali dari umat muslim bertanya, bagaimana jika menjadi salah satu pejabatnya dengan maksud untuk berdakwah dan memperbaiki dari dalam?

Wallahua’lam. Dalam dakwah, strategi apapun asal sesuai dengan syariat dapat digunakan untuk memperbaiki umat. Hanya saja nilai efektifitas dan resiko dari strategi tersebut harus dipertimbangkan secara matang. Perlu diingat bahwa kekuasaan merupakan sebuah sistem, sama halnya seperti sisem komputer jika ada program-program yang tidak sesuai pasti tak akan bisa dijalankan, salah-salah justru dianggap virus atau dimusnahkan. Kekuasaan zalim pun demikian, jika ada personal-personal yang tidak sesuai dengan pola sistemnya, pasti akan didepak atau diformat agar sesuai dengan pola sistem yang berlaku.

Tentu saja strategi seperti itu resikonya tidak ringan. Sudah banyak da’i yang melakukan strategi tersebut, namun pada akhirnya mereka gagal. Bahkan yang paling tidak diharapkan justru mereka hanyut dalam lingkaran ombak kekuasaan yang dipenuhi dengan nafsu dunia sehingga lupa dengan maksud awalnya dia masuk dalam sistem tersebut.

Pilihan yang selamat dan memiliki resiko ringan adalah memperbaiki dari luar, tidak mudah memang. Dengan jalan dakwah dan ishlah yang bersih pasti akan mendapati kendala yang banyak nan berat, seperti halnya beliau Rasulullah ketika dakwah dulu.

Mengapa Polisi?

Kembali melihat hadits di atas tadi ada hal menarik yang perlu kita cermati, yaitu Rasulullah tidak menganjurkan untuk menjadi kaki-tangan penguasa zalim dengan jabatan polisi atau tentara. Kenapa demikian?

Sebab faktor utama yang bisa membuat penguasa berbuat zalim dan sewenang-wenang adalah loyalitas tentaranya. Tanpa mereka, apalah artinya seorang penguasa? Mereka kuat karena tentaranya banyak serta bersenjata. Menjadi tentara mereka, selain membantu mereka dalam dosa, kita juga akan terkena hadits berikut:

Dari Abu Umamah berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Akan datang di akhir zaman polisi-polisi yang berangkat pagi-pagi dalam keadaan dimurkai Allah dan pulang sore hari juga dimurkai oleh-Nya, maka janganlah kalian menjadi teman dekat mereka.” (HR. Thabrani dinilai shahih oleh Syaikh al Albani)

Dan juga hadits berikut:

“Dua macam manusia dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang, yaitu: (salah satunya) kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya,…” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abi Hurairah, shahih)

Di dalam kitab Faidhul Qadir dijelaskan, orang-orang tersebut bukan lain adalah para algojo dan polisi bawahan penguasa yang dikenal sebagai “Jalladin” alias tukang cambuk. Jika mereka disuruh memukul, mereka melakukannya secara berlebihan dari batasan hukuman yang diberlakukan syariat. Mereka juga sering terbawa nafsu saat menghukum. Ditambah sifat bawaan mereka yang zalim, orang-orang terhukum pun sering celaka karena ulah mereka. Ada juga yang berkata bahwa mereka adalah para pengawal penguasa zhalim yang membawa cambuk untuk menghalau manusia. (Faidhul Qadir, IV/275)

Nah, itulah tadi nasihat dari Rasulullah tentang agar tidak membantu penguasa zhalim. Semoga kita selalu dilindungi Allah dari dosa membantu penguasa zhalim. Dan mari kita selalu berdoa agar negara Indonesia dijauhkan dari penguasa-penguasa zhalim, pemimpinya selalu diberikan arahan serta petunjuk oleh Allah untuk mengatur rakyat sehingga mampu tercipta masyarakat yang baik sesuai syariat Allah. Aamiin

(Anwar, Ar Risalah)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan