Apakah Ada Dalil Tentang Wudhu dan Mandi Setelah Bekam

517

BERANIDAKWAH.COM | Apakah Ada Dalil Tentang Wudhu Dan Mandi Setelah Bekam? Wudhu sebelum bekam dan mandi setelah bekam apakah termasuk sunnah Rasulullah? Dan apakah ada bacaan-bacaan khusus dari ayat-ayat al-Qur’an sebelum berbekam?

Hijamah atau bekam merupakan teknik pengeluaran darah kotor (racun) dengan sayatan di permukaan kulit tubuh seperti punggung untuk kebutuhan berobat. Dan berobat dengan hijamah (bekam) hukumnya mustahab, didasari dengan sabda Rasulullah:

“Berobatlah kalian wahai hamba Allah, karena Alla ‘azza wajalla tidak pernah menurunkan penyakit, kecuali juga menurunkan obatnya, kecuali kematian dan kepikunan.” (HR. Ahmad)

Dan juga sabda Rasulullah lain:

“Sebaik-baik sesuatu yang kalian gunakan untuk obat adalah bekam.” (HR. Bukhari)

Adapun berwudhu sebelum berbekam, tidak kami temukan dalil yang bersumber dari Rasulullah, dan dalam kitab-kitab fiqih tidak disebutkan adanya kesunnahan dalam hal ini. Karena wudhu merupakan ibadah taqarub ilallah, maka sebab-sebab yang mendasari seseorang ketika hendak berwudhu pun harus benar. Contoh yang dibenarkan syari’at mengenai keadaan yang disunnahkan untuk berwudhu diantaranya adalah berwudhu sebelum shalat, berwudhu sebelum mandi wajib, berwudhu sebelum tidur dan berwudhu sebelum berjima’.

Kalaupun wudhu sebelum berbekam itu baik, tentu hal ini akan disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya, karena saat itu Rasul dan para sahabat pun sudah melakukan bekam. Maka siapa saja yang menganjurkan pasien untuk berwudhu sebelum berbekam perlu mendatangkan dalil, bila tidak ada, maka sebaiknya ditinggalkan. Begitu juga dengan anjuran membaca beberapa surat pendek karena ingin berbekam seperti surat al Ikhlas, al Falaq dan an Nas atau ayat kursi maka tidak ada dalil yang mendasarinya.

Permasalahan lain, apakah bekam atau keluarnya darah selain dari dua jalan (dubur dan qabul) membatalkan wudhu? Hanafiyah dan Hanabilah memandang bekam membatalkan wudhu, sedangkan Malikiyah dan Syafi’iyah memandang tidak membatalkan wudhu (Fiqh Islam wa Adillatuhu 1/369-370), dan yang rajih (pendapat yang kuat) adalah yang tidak membatalkan wudhu. Wallahua’lam

Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada riwayat dari nabi yang menyatakan beliau memerintahkan sahabatnya untuk berwudhu setelah bekam, atau berwudhu dari luka-luka (berjihad).” (Majmu’ Fatawa 20/572)

Sedangkan untuk masalah mandi setelah berbekam, terdapat hadits yang diriwayatkan Abu Daud, Ahmad dan ad Daruquthniy:

“Bahwa Rasulullah mandi (ibadah) karena empat sebab: junub, hari jum’at, berbekam dan memandikan mayat.”

Namun Abu Daud berkata hadits ini dha’if (lemah), sebagaimana dinukil dan di dha’ifkan oleh al Albani dalam dha’if Abu Daud. Jadi tidak ada kewajiban mandi setelah berbekam. Wallahua’lam

Oleh: Ustad Taufik el Hakim, Lc

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan