Apakah Shalat Jama’ Harus Berurutan Waktunya?

12,189

BERANIDAKWAH.COM | Apakah Shalat Jama’ Harus Berurutan?. Seorang muslim ketika safar mendapatkan keringanan dalam menjalankan shalat dengan jama atau qashar karena udzur syar’i. Sebagai contohnya seorang muslim melakukan perjalanan, ketika sampai di tujuan bertepatan dengan waktu shalat isya’ padahal juga belum melaksanakan shalat magrib. Lalu ikut imam shalat berjamaah, tapi dengan niatan shalat jama’ takhir. Muslim tadi shalat magrib terlebih dahulu, baru dilanjutkan shalat isya’. Apakah hal yang seperti itu benar? Ataukah sebaliknya, mengerjakan shalat isya’ dulu baru magrib?

Jama’ takhir merupakan keringanan yang diberikan oleh Allah kepada kita karena udzur syar’i. Misalnya ketika safar atau perjalanan ke luar kota. Caranya yaitu menggabung dua shalat wajib dan dilaksanakan pada waktu shalat yang kedua, dhuhur dan ashar di wakti ashar, maghrib dan isya’ di waktu isya’. Ulama berbeda pendapat dalam tata cara jama’ takhir. Perbedaan ini berakar dari permasalahan apakah tertib dalam shalat hukumnya wajib atau sunnah.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa tertib adalah syarat sahnya shalat jama’, baik takdim maupun takhir. Apabila ada seorang musafir berniat jama’ takhir dan kebetulan bisa ikut shalat berjamaah di masjid, ia ikut shalat berjamaah. Tapi, ia berniat shalat maghrib. Pada rakaat ketiga ia, tasyahud dan salam.

Tentang perbedaan niat imam dan makmum, menurut pendapat yang rajih (kuat) adalah boleh sebagaimana dalam Madzhab Syafi’i. Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab al Majmu’ (4/270): “Sah hukumnya shalat sunnah mengikuti imam yang shalat wajib. Begitu pula sebaliknya, shalat wajib mengikuti imam yang shalat sunnah. Sah juga shalat fardhu yang lain. Baik shalat yang rakaatnya sama, seperti shalat dzuhur dibelakang imam yang shalat ashar ataupun yang jumlah rakaatnya lebih sedikit.”

Adapun dalilnya, Muadz bin Jabal pernah shalat sunnah mengimami kaumnya yang shalat fardhu:

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Muadz bin Jabal shalat isya’ bersama Rasulullah kemudian kembali pulang kepada kaumnya, lalu shalat mengimami mereka dengan shalat tersebut.” (HR. Muslim)

Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, beliau mengatakan, “Yang benar, apabila ia masuk masjid (baik sendirian atau bersama dengan jamaah musafir) dan imam sedang melaksanakan shalat isya’ maka ia ikut bermakmum bersama imam dengan berniat shalat maghrib dan tidak menjadi masalah jika niat makmum berbeda dengan niat imam.” (Liqo Bab al Maftuh 65/23)

Dalam kitab Syarh Mumti’ beliau menegaskan untuk mengikuti syarat tertib. Yaitu shalat magrib dahulu baru shalat isya’. Jika terjadi kasus makmum yang sudah berniat jama’ takhir, kemudian ketika menjumpai imam yang shalat isya’ ia bermakmum kepadanya dan berniat shalat isya’ baru kemudian melaksanakan shalat maghrib sendiri, shalat isya’ nya tidak sah atau batal. Sedangka shalat isya’nya semula dinilai sebagai shalat sunnah.

Perlu diketahui, untuk jama’ takhir disyaratkan untuk berniat pada waktu yang pertama. Misalnya maghrib dan isya’ dilakukan di waktu isya (jama’ takhir), maka ia harus berniat pada waktu yang awal (maghrib). Apabila tidak berniat pada waktu maghrib atau telah habis waktu maghrib dan ia belum berniat jama’ takhir maka ia dianggap seperti orang yang tidak melaksanakan shalat maghrib pada waktunya dan mendapatkan dosa. Kecuali, jika tidak tahu tentang hukum ini. InsyaAllah tiada dosa baginya, shalat maghrib tadi menjadi qadha dan buka adaa’ (melakukan shalat pada waktunya).

Adapun tata cara shalat makmum yang rakaatnya lebih sedikit daripada imam, seperti shalat maghrib dibelakang imam yang shalat isya’, maka ketika sampai pada rakaat ketiga makmum boleh memilih antara duduk kemudian membaca bacaan tasyahud akhir dan salam lalu berdiri berniat melaksanakan shalat isya’ bersama imam, atau memilih duduk dan menunggu imam menyelesaikan rakaat terakhir kemudian salam bersama imam lalu mendirikan shalat isya’ sendiri. Hal ini dijelaskan Imam Nawawi dalam kitab Raudhatut Thalibin 1/368, menurut beliau cara yang kedua lebih afdhal.

Sebagian ulama berpendapat bahwa tertib atau berurutan bukan syarat sah shalat jama’. Seperti pendapat dalam Madzhab Syafi’i. Karena itu, menurut madzhab ini tidak mengapa melakukan shalat isya’ dulu bersama jamaah shalat isya’ kemudian mendirikan shalat maghrib sendiri. Imam Nawawi dalam Minhaj berkata, “Kalaulah yang awal di akhirkan (jama takhir) maka tidak wajib tertib (urut) dan muwalat (berkesinambungan).” Wallahua’lam bis shawab.

Semoga artikel di atas dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan keagamaan Anda. Jangan lupa baca juga:

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan