As’ilah: Sahkah Shalat Dengan Celana Isbal?

665

BERANIDAKWAH.COM | Sahkah Shalat Dengan Celana Isbal?. Isbal atau memanjangkan pakaian (celana) melebihi/ di bawah mata kaki. Persoalan yang seringkali ditanyakan adalah mengenai shalat dengan celana isbal, apakah shalatnya sah atau tidak?

Dalam hal ini terdapat hadits yang menjelaskan tidak diterima shalatnya laki-laki yang menjulurkan pakaian menutup mata kaki. Namun hadits ini cacat menurut Al Mundziry dalam mukhtasharnya (6/51 no 3927) yaitu jahalatul hal/ tidak diketahui nama dari Abu Ja’far yang meriwayatkan dari Abu Hurairah. Dan Al Albani mendhaifkan sanadnya (melemahkan jalur periwayatnya) dalam al Jami’ as shagir 1/361. Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya Alla Ta’ala tidak menerima shalat seorang laki-laki yang memanjangkan pakaiannya (hingga melewati mata kaki).” (HR. Abu Dawud)

Sehingga tidak pas bila ada seorang muslim yang melinting ujung celananya ketika hendak shalat saja bersandar dengan hadits ini, dikarenakan hadits ini dhaif. Pun demikian tidak pula mengindikasikan bolehnya seorang musbil ketika shalat maupun diluar shalat, karena terdapat ancaman dan larangan secara umum (baik dalam shalat maupun diluar shalat) tentang hal ini, yaitu hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari:

Artinya: “Apa saja yang berada di bawa mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di Neraka.”

Nabi Muhammad shallallahu alahi wa sallam bersabda:

Artinya: “Isbal berlaku bagi sarung, gamis, dan sorban. Barangsiapa yang menurunkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah di Hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Juga, “Sarung seorang mukmin sebatas pertengahan kedua betisnya. Tidak mengapa ia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka.” (HR. Malik dalam Muwaththa, dan Abu Dawud dengan sanad shahih)

Ada juga orang yang tidak isbal namun menaikannya secara berlebihan sampai di atas lututnya, sehingga tampak paha-paha mereka, sebagaimana yang dilakukan ketika berolahraga, sepakbola, dan bulutangkis misalnya. Dan ini juga dilakukan oleh sebagaian karyawan dan siswa sekolah dasar dan menengah di Indonesia.

Kedua paha adalah aurat yang wajib ditutupi dan haram dibuka. Ali berkata, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Jangan engkau singkap kedua pahamu dan jangan melihat paha orang yang masih hidup dan juga yang telah mati.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al Hakim)

Maka tidak boleh bagi laki-laki menurunkan kainnya yang bawah menutupi mata kaki disebabkan ancaman neraka yang terdapat dalam hadits. Selain itu tidak diperolehkan juga bagi laki-laki menyerupai sifat pakaian wanita yang menutupi kaki mereka.

Jika ada yang beranggapan boleh memanjangkan celana menutupi mata kaki asal tidak sombong, seperti halnya sahabat Abu Bakar itu dikarenakan beberapa hal bahwa sahabat ini memiliki tubuh yang kurus sehingga ketika memakai pakaian (celana) selalu melorot, dan sebentar-bentar beliau harus membenarkan celananya yang melorot tersebut.

Menurut hemat penulis adalah shalat dengan celana tidak isbal, jika melaksanakan shalat dengan celana isbal dan ada kekhawatiran atau keragu-raguan dalam shalatnya justru menjadikan shalat tidak khusyu. Dan keragua-raguan akan menjadi celah bagi setan untuk menggoda kita saat shalat. Wallahua’lam.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan