Bagaimana Hukum Menikah Dengan Niatan Cerai?

1,962

BERANIDAKWAH.COM | Bagaimana Hukum Menikah Dengan Niatan Cerai? Menikah dengan cerai dalam pembahasan ini berbeda dengan nikah mut’ah atau nikah kontrak. Kasus yang terjadi adalah seorang lelaki menikah tetapi terbesit dalam dirinya, bahwa dia akan menceraikan wanita tersebut dalam kurun waktu tertentu. Bukan nikah kontrak yang marak terjadi antara wanita pribumi dengan lelaki asing yang tengah melancong ke Indonesia. Yang seperti itu jelas merupakan nikah yang dilarang. Berikut ini penjelasan mengenai bagaimana hukum menikah dengan niatan cerai?

Dalam permasalahan ini, para ulama berbeda pendapat tentang hukum menikah dengan niat cerai:

Pendapat pertama menyatakan bahwa nikah dengan niat cerai hukumnya boleh. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Berkata Imam Al-Zurqani dari madzhab Maliki di dalam Syarh al Muwatho’, “Dan mereka sepakat bahwasannya siapa yang menikah secara mutlak, sedangkan dia berniat untuk tidak bersamanya (istrinya) kecuali sebatas waktu yang dia niatkan, maka hal itu dibolehkan dan bukan merupakan nikah mut’ah.”

Berkata Imam Nawawi dari madzhab Syafi’i di dalam Syarh Shohih Muslim (9/182), “Berkata al-Qadhi: “Mereka sepakat bahwa seseorang yang menikah dengan akad nikah mutlak (akad yang telah memenuhi rukun dan syaratnya), tetapi di dalam hatinya ada niat untuk tidak bersama istrinya kecuali dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan niatnya, maka nikah tersebut sah, dan bukan termasuk nikah mut’ah.”

Berkata Ibnu Qudamah dari madzhab Hambali di dalam Al-Mughni (7/537), “Jika seseorang menikahi perempuan tanpa ada syarat, hanya saja di dalam hatinya ada niat untuk menceraikan setelah satu bulan, atau menceraikannya jika dia telah menyelesaikan pekerjaanya di kota ini, maka jika seperti itu, pernikahannya tetap sah menurut pendapat mayoritas ulama, kecuali Al Auza’i yang mengatakan bahwa hal tersebut termasuk nikah mut’ah. Tetapi pendapat yang benar bahwa hal tersebut tidaklah apa-apa, dan niat tersebut tidak berpengaruh.”

Mereka beralasan bahwa pernikahan tersebut telah memenuhi syarat dan rukunnya, sehingga secara lahir hukumnya sah. Adapun hati dan niat diserahkan urusanya kepada Allah, selama itu tidak tertulis di dalam akad nikah. Karena, barangkali calon suami ada niat untuk menceraikannya, tapi ternyata setelah menikah dia senang dan merasa cocok dengan istrinya tersebut, atau karena pertimbangan lain, sehingga dia tidak jadi menceraikannya.

Pendapat kedua menyatakan bahwa nikah dengan niat cerai hukumnya haram. Ini adalah pendapat madzhab Ahmad dalam riwayat yang masyhur dan pendapat Imam Auza’i, serta al-Majma’ al-Fiqh al-Islami, Rabithah al-Ulama al-Islami pada pertemuannya yang ke-18 yang diadakan di Mekkah pada tanggal 10-14 Rabi’ul Awal 1427/ 8-12 April 2006 M.

Nikah seperti ini tidak boleh dilakukan karena di dalamnya mengandung unsur penipuan, tetapi walaupun begitu, jika terlanjur, pernikahan tersebut tetap sah, sedang niatnya batil dan niat tersebut harus diurungkan.

Mereka beralasan bahwa tujuan pernikahan adalah mendapatkan ketenangan, kasih sayang dan ketentraman, sebagaimana firman Allah:

QS. Ar Rum Ayat 21

Artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mau berfikir.”

Menikah dengan niat cerai telah menyalahi tujuan dari pernikahan sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas. Selain itu, bahwa ada dasarnya kehormatan (kemaluan) seorang wanita adalah haram, kecuali melalui pernikahan yang sah prosesnya dan benar maksudnya. Di dalam pernikahan yang ada niat untuk menceraikan istrinya adalah pernikahan yang maksudnya sudah tidak benar dahulu, sehingga menjadi tidak boleh. Ini sesuai dengan hukum nikah muhalil, yaitu pernikahan dengan maksud hanya ingin menghalalkan wanita yang telah diceraikan suaminya tiga kali, dan suami ingin kembali lagi kepada istri tersebut, tetapi syaratnya dia harus dinikahi oleh lelaki lain dan keduanya telah melakukan hubungan suami-istri, setelah itu istri itu diceraikan, agar suami yang pertama bisa menikahinya kembali.

Pernikahan semacamm ini hukumnya haram, karena niatnya tidak benar, yaitu hanya sekedar untuk menghalalkan wanita tersebut. Kalau nikah muhalil diharamkan, maka begitu juga halnya dengan menikah dengan niat cerai. Niat dalam masalah ini berpengaruh di dalam pernikahan, sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya perbuatan itu tergantung kepada niatnya.” (HR. Bukhari)

Pendapat ketiga menyatakan bahwa nikah dengan niat cerai hukumnya boleh tapi makruh. Ini pendapat Abul Khair al Imrani dan Ibnu Taimiyah, sebagaimana di dalam (Majmu’ Fatawa: 32/107-108), tetapi di tempat lain Ibnu Taimiyah berpendapat boleh (Majmu’ Fatawa: 32/147)

Berkata Abu al Khair al Imran yang wafat pada tahun 558 H, di dalam bukunya al Bayan, (Dar al Minhaj: 9/279), “Jika ia menikahinya dan berniat di dalam hatinya akan hal tersebut (yaitu ingin menceraikannya), kemudian ia menikahinya dengan pernikahan mutlak, maka hal tersebut makruh, tetapi tetap sah.”

Kalau dikatakan nikah seperti ini nikah mut’ah, maka penyamaan seperti ini tidak benar, karena keduanya ada perbedaan yang sangat mencolok diantaranya:

1. Nikah Mut’ah menyebutkan syarat tersebut di dalam akad pernikahan, sedang nikah ini (nikah dengan niat cerai) tidak disebutkan.

2. Nikah Mut’ah tidak ada perceraian dan tidak ada masa iddah, jika masanya habis maka pernikahan tersebut dengan sendirinya bubar. Sedang dalam pernikahan dengan niat cerai ada masa iddahnya, sebagaimana pernikahan pada umumnya.

3. Nikah Mut’ah jika masa kontraknya habis, maka pernikahan tersebut harus dibubarkan. Kalau keduanya ingin melangsungkan pernikahannya lagi, harus dengan akad baru. Sedang dalam pernikahan dengan niat cerai, bisa jadi tidak terjadi perceraian sebagaimana yang diniatkan, bahkan mungkin berlangsung terus sebagaimana pernikahan pada umumnya.

Kesimpulan

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa nikah dengan niat cerai hukumnya boleh menurut pendapat mayoritas ulama, tetapi makruh, maka sebaiknya ditinggalkan. Maksud dari boleh dan sah di sini adalah bahwa hasil dari pernikahan tersebut diakui oleh Islam, yaitu anak yang lahir dari pernikahan tersebut adalah anak yang sah dan dinisbatkan kepada orang tuanya, suami diwajibkan untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, jika salah satu dari kedua orang tuanya meninggal dunia, maka anak-anaknya berhak mendapatkan warisan darinya, dan hal-hal lainnya.

Oleh: Dr. Ahmad Zain An Najah, MA

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan