Bagaimana Hukum Penukaran Uang Receh Menjelang Lebaran?

76,893

BERANIDAKWAH.COM | Bagaimana Hukum Penukaran Uang Receh Menjelang Lebaran?. Satu fenomena yang pasti ada menjelang lebaran adalah adanya jasa penukaran uang di pinggir-pinggir jalan raya. Jasa penukaran uang tersebut biasanya akan dipotong sebesar 2,5-3% dan terus bertambah tiap tahunnya? Katakanlah jika ingin menukar uang sebesar 1 juta maka akan dipotong 2,5% untuk penyedia penukaran uang. Dengan kata lain Anda hanya mendapatkan Rp 975.000 dari penukaran 1 juta. Nah, dalam hukum islam apakah itu diperbolehkan? bagaimana hukum penukaran uang receh dengan jasa seperti di atas?

Jawab

Kebanyakan ulama kontemporer mengharamkan praktik jual beli uang seperti yang di atas, karena jelas bahwa hal tersebut merupakan salah satu bentuk riba. Namun beberapa ulama juga ada yang berpendapat hal itu diperbolehkan, tentu masing-masing pendapat ini mempunyai landasan atau argumen sendiri-sendiri.

Oleh karena itu marilah kita bahas masing-masing pendapat tersebut sehingga nantinya kita bisa lebih paham, lebih jelas dan bijak dalam menentukan suatu tindakan.

1. Pendapat Yang Mengharamkan

Argumen yang menolak atau mengharamkan praktik jual beli uang seperti di atas tadi didasarkan pada hadits Nabi Muhammad shallallahu’alahi wa sallam  yang melarang tukar menukar suatu barang yang sama dengan nilai yang berbeda.

Dari Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam bersabda,”Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, barley dengan barley, kurma dengan kurma, garam dengan garam. Semua harus sama beratnya dan tunai. Jika jenisnya berbeda maka jualah sekehendakmu akan tetapi harus tunai.” (HR. Muslim)

Dalam ilmu fiqih, akad seperti yang di atas tadi termasuk akad riba, atau biasa disebut dengan riba fadhl. Riba fadhl adalah riba yang terjadi dalam barter atau tukar menukar barang sejenis namun nilai penukarannya berbeda.

Untuk lebih jelas contohnya seperti ini: jika punya emas seberat 150 gram ditukar dengan emas seberat 100 gram secara langsung. Dengan kondisi emas yang 150 gram kualitas karatnya cuma 22, sedangkan 100 gram kualitas karatnya 24. Ini adalah jenis penukaran sama jenisnya namun beda kualitasnya/ beda ukuran, maka termasuk riba fadhl.

Sehingga kasus penukaran uang seperti yang di atas tadi dikatakan haram karena meskipun sama jenisnya namun nilai/ ukuran yang ditukarkan berbeda. Oleh karena itu penukaran tersebut termasuk riba dan hukummnya haram.

2. Pendapat Yang Memperbolehkan

Ada ulama yang memperbolehkan hal tersebut kendati mempunyai argumen sendiri, setidaknya ada 2 alasan kenapa mereka memperbolehkannya.

Pertama, uang kertas bukan termasuk dalam jenis 6 harta yang disebutkan dalam hadits tadi. keenam jenis harta berdasarkan hadits di atas tadi adalah emas, perak, gandum, barley, kurma dan garam. Mata uang yang dipakai saat ini ada yang terbuat dari kertas dan logam, sehingga uang dari kertas tidak diharamkan jika ada praktek jual beli meskipun nilainya berbeda.

Kedua, uang kertas bila ditukarkan dengan uang logam maka tidak termasuk haram karena tidak sejenis. Dan oleh karena itu tidak terkena larangan hukum riba.

Bantahan Pihak Yang Mengharamkan

Alasan bahwa riba fadhl diharamkan hanya pada 6 jenis harta itu sebagai pendapat yang kurang tepat. Sebab waktu itu Rasululla shallallahu’alahi wa sallam  menyebutkan keenam jenis benda itu tujuannya bukan untuk membatasi, melainkan untuk memberikan contoh.

Buktinya, mayoritas ulama juga memasukkan haramnya tukar menukar 2 jenis beras yag berbeda kualitas dengan ukuran timbangan yang berbeda. Padahal dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam  tidak menyebutkan beras.

Disinilah titik haramnya karena saat ini dalam realitanya jika uang kertas 100 ribuan ditukar dengan uang kertas 5 ribuan dan hanya mendapatkan Rp 975.000 itu termasuk riba, meskipun jenisnya sama namun berbeda nominalnya.

Solusi

Lalu bagaimana menyikapi perbedaan pendapat tersebut? Mana yang harus diikuti? Disinilah umat sering bingung karena adanya perbedaan yang saling bertentangan. Sehingga untuk menyikapi hal ini bisa di ambil jalan tengah.

Lalu solusi atau jalan tengahnya bagaimana?

Perlu diketahui jika jauh sebelum lebaran pihak dari Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan pos-pos untuk penukaran uang receh tanpa ada potongan sedikitpun. Dengan kata lain jika Anda ingin menukarkan uang sebesar 2 juta 100 ribuan, maka juga akan kembali sebesar 2 juta dalam nominal yang lebih kecil. Masalahnya, apakah Anda mau capek dan antri lama di Bank Indonesia untuk menukarkan uang tersebut?

Jika tidak mau, maka minta orang lain yang mau menukarkan uang Anda di Bank Indonesia dan sebagai imbalannya Anda memberikan upah. Sehingga jatuh akadnya adalah ‘upah’ bukan uang catutan atau uang kutipan hasil pemotongan penukaran uang tadi. Dan penukaran uang tadi dikatakan halal karena penukaran uang kembali 100%.

Wallahu a’lam bisshawaab dan semoga bermanfaat.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan