Bagaimana Hukum Safar Bagi Wanita?

5,359

Hukum Safar Bagi Wanita

Hukum safar bagi wanita/ perempuan masih menjadi bahan perdebatan di kalangan ulama. Hal ini karena dalil-dalil yang berhubungan dengan safar wanita masih bersifat umum, sehingga berpotensi menimbulkan berbagai penafsiran. Tulisan ini akan menyajikan dan menjelaskan perbedaan ulama tentang hukum safar bagi wanita tersebut.

Bentuk-bentuk Safar Wanita

Safar yang dilakukan oleh wanita bisa dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu:

Pertama: Safar Mubah, seperti melakukan perjalanan untuk rekreasi.

Kedua: Safar Mustahab (yang dianjurkan), seperti melakukan perjalanan untuk mengunjungi orang sakit atau menyambung silaturahim.

Imam Baghawi menuturkan sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathu al-Bari (4/76), “Para ulama tidak berbeda pendapat tentang ketidakbolehan seorang perempuan melakukan perjalanan yang bukan wajib, kecuali harus disertai suaminya atau mahramnya. Kecuali bagi perempuan kafir yang masuk Islam kemudian ingin berhijrah dari Dar al-Harbi (Negara Kafir) atau dia dalam keadaan di tawan musuh dan bisa lepas.”

Pernyataan di atas kurang akurat, karena pada kenyataannya terdapat perbedaan pendapat dalam masalah ini. Seperti yang diriwayatkan dari al-Karabisi, salah satu ulama Sayafi’iyah, yang memperbolehkan wanita melakukan safar mustahab tanpa disertai mahram.

Ketiga: Safar Wajib, seperti melakukan perjalanan untuk melaksanakan ibadah Haji, menolong orang sakit dan berbakti kepada orangtua. Jika seorang wanita melakukan safar dalam bentuk ketiga ini tanpa mahram, para ulama berselisih pendapat tentang status hukumnya.

Pendapat pertama, seorang wanita tidak boleh melaksanakan ibadah haji kecuali dengan mahramnya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Ahmad dalam salah satu riwayat dari beliau. Mereka berdalil dengan keumuman hadits yang melarang seorang wanita melakukan safar tanpa mahram, diantara hadits Ibnu Abbas bahwa dia mendengar Nabi bersabda:

“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita dan janganlah sekali-kali seorang wanita berpergian kecuali bersama mahramnya.” Lalu ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah mendaftarkan diriku untuk mengikuti suatu peperangan sedangkan istriku pergi menunaikan haji.” Maka beliau bersabda, “Tunaikan haji bersama istrimu.” (HR. Bukhari)

Hadits tersebut menunjukan bahwa mahram adalah syarat wajib bagi seorang wanita muslimah yang berpergian.

Pendapat kedua, seorang wanita muslimah dibolehkan melaksanakan ibadah haji tanpa mahram. Mahram bukanlah syarat wajib haji bagi seorang perempuan muslimah. Ini pendapat Hasan Basri, Auza’i, Imam Malik, Syaifi’i dan Ahmad dalam salah satu riwayat dari beliau, serta pendapat Zhahiriyah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah dalam riwayat terakhir beliau.

Imam Malik menyatakan bahwa mahram bisa diganti dengan rombongan wanita yang bisa dipercaya selama perjalanan aman. Imam al-Baji al-Maliki berkata,

“Adapun yang disebut sebagaian ulama dari teman-teman kami, itu dalam keadaan sendiri dan jumlah yang sedikit. Adapun dalam keadaan jumlah rombongan yang sangat banyak, sedang jalan yang di lewati adalah jalan umum yang ramai dan aman, maka bagi saya keadaan tersebut seperti keadaan dalam kota yang banyak pasar-pasarnya dan para pedagang yang berjualan, maka seperti ini dianggap aman bagi wanita yang bepergian tanpa mahram.” (Al Muntaqa: III/17)

Dalil mereka adalah sebagai berikut:

Dalil pertama, hadits Adi bin Hatim, bahwa Nabi bersabda:

“Seandainya kamu diberi umur panjang, kamu pasti akan melihat seorang wanita yang mengendarai kendaraan berjalan dari Al-Hirah hingga melakukan thawaf di Ka’bah tanpa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah.” (HR. Bukhari)

Hadits ini berisi tentang pujian dan sanjungan pada suatu perbuatan, hal itu menunjukkan kebolehan. Sebaliknya hadits yang mengandung celaan pada suatu perbuatan menunjukkan keharaman perbuatan tersebut. (Umdatul al-Qari: XVI/148)

Dalil kedua, atsar Ibnu Umar

Dari Ibnu Umar bahwa beliau memerdekakan beberapa budak perempuannya. Kemudian beliau berhaji dengan mereka. Setelah dimerdekakan, tentunya mereka bukan mahram lagi bagi Ibnu Umar. Berarti para wanita tersebut pergi haji tanpa mahram. (disebutkan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla)

Dalil ketiga, atsar Aisyah

Dari Aisyah tatkala ada orang yang menyampaikan kepada beliau bahwa mahram adalah syarat wajib haji bagi wanita muslimah, beliau berkata, “Apakah seua wanita memiliki mahram untuk pergi haji?” (HR. Baihaqi)

Dalil keempat, kaidah fiqiyah

“Dalam masalah ibadah mahdah dasarnya adalah ta’abbud (menerima apa adanya tanpa dicari-cari alasannya, seperti jumlah rakaat shalat) dan dalam masalah muamalah dasarnya adalah ta’lil (bisa dicerna dengan akal dan bisa dicari alasannya, seperti jual beli dan pernikahan).”

Masalah safar wanita termasuk dalam kategori muamalah, sehingga bisa dicari alasan dan hikmahnya, yaitu untuk menjaga keselamatan wanita itu sendiri dan ini bisa terwujud dengan adanya teman-teman yang banyak dan jalan dianggap aman.

Dalil kelima, kaidah fiqiyah

“Hukum yang ditetapkan dengan ijtihad bisa berubah menurut perubahan waktu, keadaan, tempat dan perorangan.”

Berdasarkan kaidah tersebut, sebagian ulama kontemporer seperti Syaikh Abdurrazaq Afifi (Fatawa Rasail: I/201) membolehkan seorang wanita bepergian sendiri tau bersama beberapa temannya yang bisa dipercaya dengan naik pesawat, diantar oleh mahramnya ketika pergi dan dijemput juga ketika datang. Bahkan keadaan seperti ini jauh lebih aman dibandingkan jika seorang wanita berjalan sendiri di dalam kota, khususnya kota-kota besar.

Dalil keenam, kaidah fiqiyah

“Apa-apa yang diharamkan karena zatnya, tidaklah dibolehkan kecuali dalam keadaan darurat, dan apa-apa yang diharamkan dengan tujuan menutup jalan (kemaksiatan) maka dibolehkan pada saat dibutuhkan.”

Ketidakbolehan wanita melakukan safar tanpa mahram tujuannya untuk menutup jalan kemaksiatan dan bahaya baginya. Oleh karena itu, hal itu menjadi dibolehkan manakala ada kebutuhan, khususnya jika ditemani dengan rombongan yang dipercaya dan keadaan jalan aman.

Pendapat Yang Kuat

Pendapat yang kuat adalah bahwa mahram bukanlah syarat wajib bagi wanita muslimah berdasarkan hadits dan atsar di atas. Tetapi boleh bersama rombongan perempuan yang bisa dipercaya, khususnya jika keadaan aman.

Adapun hadits Ibnu Abbas yang mensyaratkan mahram, peristiwa tersebut bukan pada haji wajib, tetapi pada haji yang sunnah. Sebab, haji baru di wajibkan pada tahun 10 H, dimana Rasulullah pada waktu itu juga melaksanakan ibadah haji.

Walaupun demikian, diharapkan bagi wanita muslimah yang ingin melaksanakan ibadah haji dan umrah atau melakukan safar lainnya, hendaknya bersama mahramnya, karena itu lebih terhindar dari fitnah dan marabahaya lainnya. Ini pada safar wajib, tentunya dalam safar mubah dan mustahab lebih ditekankan lagi.

Tetapi dalam keadaan-keadaan tertentu yang dibutuhkan sekali, kita bisa mengambil pendapat ulama yang membolehkan dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Dengan demikian Islam dipahami sebagai agama yang selalu menjaga kehormatan dan keselamatan wanita, sekaligus memberikan solusi-solusi yang bisa dipertanggungjawabkan baik secara agama maupun sosial.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan