Bagaimana Hukum Shalat Untuk Janin Yang Gugur?

5,056

BERANIDAKWAH.COM | Hukum Shalat Untuk Janin Yang Gugur? Seorang ibu yang sedang hamil dan mengalami keguguran, apakah bayinya yang lahir, apakah dimandikan, disholatkan, dikafani dan dikuburkan sebagai seorang muslim yang meninggal pada umumnya. Ataukah langsung dikuburkan karena dianggap darah yang belum ada nyawanya?

Masalah ini mungkin sedikit dari umat muslim memperhatikannya, oleh karena itu pada kesempatan ini akan menyampaikan informasi mengenai hal diatas. Di dalam literatur fiqih, kita dapatkan para ulama berbeda pendapat tentang hukum mensholatkan bayi yang lahir dalam keadaan gugur, sebagian melihatnya dari sisi umur janin selama dalam kandungan, sebagian lain melihatnya dari sisi tanda kehidupan setelah lahir. Adapun rinciannya sebagai berikut:

Para ulama sepakat bahwa jika bayi lahir sebelum berumur empat bulan dalam kandungan, maka tidak dishalatkan, sebagaimana disebutkan al-Abdari (Al-Aini, Umdah al-Qari’, 13/36). Tetapi mereka berbeda pendapat jika bayi yang gugur sudah berumur empat bulan:

Pendapat pertama adalah dengan melihat umur janin. Hal ini tidak lepas dari dua keadaan, yaitu:

Keadaan pertama: jika janin tersebut belum berumur empat bulan, maka status janin tersebut adalah makhluk yang belum bernyawa, dan dikategorikan benda mati, sehingga tidak perlu dimandikan, dikafani, dishalatkan, tetapi cukup dengan dikuburkan dalam tanah seperti biasa.

Keadaan kedua: janin tersebut sudah berumur empat bulan, maka status janin tersebut adalah makhluk yang bernyawa, dan dikategorikan sebagai makhluk hidup, sehingga harus dimandikan, dikafani, dishalatkan, serta dikuburkan sebagaimana kalau mengubur orang yang sudah meninggal dunia. Ini adalah pendapat pertama Syafi’i, Ahmad dan Ishaq bin Ruhawaih serta Ibnu Taimiyah pengarang kitab “Al-Muntaqa”. (An-Nawawi, Syareh Shahih Muslim, 7/48, Ibnu Rajab, Fathu Bari: 1/487, Al Mabarkafuri, Tuhfatu al-Ahwadzi, 4/102-104)

Dalilnya adalah hadits Ibnu Mas’ud, bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya seseorang dari kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah segumpal darah beku. Ketika genap empat puluh hari ketiga, berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh, serta memerintahkan untuk menulis empat perkara, yaitu penentuan rizki, waktu kematian, amal, serta nasibnya, baik yang celaka maupun yang bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata Imam Ahmad: “Setiap janin yang sudah ditiupkan ruh kepadanya, dan sudah berumur empat bulan sepuluh hari, hendaknya disholatkan.”

Berkata Ishaq bin Ruhawaih: “Untuk mendapatkan warisan, seorang bayi harus hidup terlebih dahulu sebelum dia meninggal dunia. Tetapi jika dia sudah sempurna dan ditiupkan ruh, maka hendaknya dishalatkan.”

Berkata Ibnu Taimiyah: “Bayi tersebut dishalatkan, jika sudah ditiupkan kepadanya ruh, yaitu ketika berumur empat bulan. Adapun jika gugur sebelum umur tersebut, maka tidak dishalatkan, karena dia bukanlah orang yang mati, karena belum ditiupkan ruh pada dirinya.”

Pendapat kedua adalah melihat tanda kehidupan, dan ini bisa diketahui dengan adanya suara tangisan, atau batuk, atau teriakan, atau gerakan. Sehingga bayi yang gugur tersebut mempunyai dua keadaan:

Keadaan pertama: Terdengar suara tangisan, atau batuk, atau teriakan, atau gerakkan maka wajib dishalatkan.

Keadaan kedua: Tidak terdengar suara tangisan, atau teriakan, atau gerakan maka tidak dishalatkan. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i dalam pendapat kedua, dan dipilih oleh Syaukani.

Dalilnya adalah hadits Jabir bin Abdullah bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Dari Jabir dari Nabi bersabda: “Seorang bayi tidak perlu dishalati, juga tidak mewarisi dan mewariskan hingga dia dapat menangis (menampakan tanda kehidupan).” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Berkata Syaukani menerangkan hadits di atas: “Letak perbedaan ulama dalam masalah ini adalah jika bayi tersebut gugur setelah umur empat bulan. Hadits di atas, menunjukkan bahwa bayi tersebut (yang tidak menangis) tidaklah dishalatkan, dan ini pendapat yang benar, karena tangisan, menunjukkan adanya kehidupan, baik sebelum gugur, maupun setelah gugur. Ketentuan yang ditetapkan oleh syariah tentang adanya tangisan ini, menunjukkan bahwa kehidupan setelah terjadinya keguguran, dijadikan standar untuk menshalatkan bayi tersebut, dan hal itu tidak cukup hanya dengan mengetahui bahwa bayi hidup selama dalam kandungan.” (Syaukani, Nail al-Authar: 4/53)

Kesimpulan

Setelah dijelaskan dua pendapat ulama di atas beserta dalil-dalilnya, maka menurut hemat penulis, bahwa pendapat yang benar adalah pendapat pertama yang mengatakan bahwa janin jika belum berumur empat bulan dalam kandungan, tidak perlu dishalatkan. Dan jika sudah berumur empat bulan dalam kandungan, maka wajib untuk dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan sebagaimana orang-orang meninggal dunia. Wallahua’lam.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan