Bagaimana Hukumnya Operasi Payudara Dalam Islam?

899,628

BERANIDAKWAH.COM | Bagaimana Hukumnya Operasi Payudara Dalam Islam?. Banyak wanita yang bertanya tentang hukum operasi payudara, karena ingin membahagiakan suami mereka atau karena memang keinginan dari suami mereka. Wanita-wanita itu beralasan bahwa membahagiakan suami itu akan mendapatkan pahala, tapi disini lain mereka takut jika hal tersebut bertentangan dengan hukum Islam, karena larangan merubah ciptaan Allah.

Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai masalah ini? Simak ulasannya dibawah ini.

Operasi Payudara

Mengubah ukuran payudara secara medis, yaitu dengan cara operasi. Salah satu cara paling mutakhir adalah dengan metode TUBA (trans-umbilical breast augmentation) atau pembesaran payudara melalui irisan di sekitar pusar.

Teknik operasi implant ini ditemukan, dikembangkan dan dipopulerkan oleh Dr. Gerald Johnson, seorang dokter ahli operasi plastik dari Amerika. Irisan TUBA adalah irisan yang dilakukan dengan membelah pusar kemudian menyusuri sebagian pinggirannya. Operasi ini lebih jarang dilakukan dibandingkan dengan tiga metode pemasangan implant yang lain, yaitu Peri-areolar Incision, Inframammary Fold Incision, dan Transaxillary Incision.

Setelah irisan dilakukan, dokter akan menggunkan endoskopi atau semacam tabung silinder untuk membuat jalan dari perut menuju payudara. Jalur dibuat melalui jaringan lemak di bawah kulit perut. Implan flatable digulung kemudian di pasangkan di ujung endoskopi, diarahkan dan ditempatkan di dalam payudara.

Operasi Payudara Yang Normal

Operasi payudara kadang dilakukan oleh seorang wanita yang mempunyai payudara yang normal dan standar, mungkin tidak terlalu besar dan montok, tetapi juga tidak terlalu kecil sekali, alias sehat dan tidak cacat. Kenapa seorang wanita membesarkannya dengan cara medis padahal payudaranya normal? Hal ini tidak lepas dari dua faktor:

Pertama, karena keinginannya sendiri, sekedar iseng dan ingin berbangga diri, baik dia mempunyai suami maupun belum mempunyai suami. Dalam keadaan seperti ini, tidak dibolehkan baginya untuk melalukan pembesaran dengan cara medis dalam bentuk apapun, karena masuk dalam kategori merubah ciptaan Allah.

Kedua, karena ingin membahagiakan suaminya atau karena suami yang memintanya. Apakah hal ini termasuk berbakti dan taat kepada suami sehingga mendapatkan pahala? Jawabannya adalah seorang istri akan mendapatkan pahala jika dia mentaati perintah suaminya. Sebagaimana firman Allah :

“Maka, wanita yang sholeh, ialah yang taat kepada Allah (dan kepada suaminya), lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An Nisa : 34)

Tetapi ketaatan itu terbatas pada masalah yang ma’ruf dan baik serta tidak dilarang dalam Islam. Jika perintah tersebut menyalahi ajaran Islam, maka tidak boleh ditaati. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Imran bin Husain, bahwasannya Rasulullah bersabda :

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah)

Melakukan operasi payudara yang sebenarnya masih normal adalah bentuk dari merubah ciptaan Allah dan tanda bahwa orang tersebut tidak ridha dengan ketentuan Allah, maka perintah suami dalam hal ini tidak boleh ditaati. Justru jika sebagai istri Anda tahu mengenai hukum merubah ciptaan Allah ini tidak boleh, sebaiknya di sampaikan kepada suami.

Operasi Payudara Yang Cacat

Operasi payudara yang dilakukan oleh perempuan yang mempunyai payudara tidak normal atau cacat, maka dalam masalah ini diperbolehkan membesarkan ukuran payudaranya sampai batas normal.

Dalam fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia (25/16, no : 20919), ketika menjawab pertanyaan dari seorang suami yang merasa murug dan menderita karena istrinya mengalami kelainan dalam tubuhnya, terutama payudaranya yang sangat kecil, sehingga ukurannya kadang-kadang sama dengan ukuran laki-laki.

Hal ini juga mengakibatkan istri tertekan batinnya sehingga tidak percaya diri ketika berhadapan dengan suaminya. Apakah diperbolehkan bagi istrinya untuk melakukan operasi sewajarnya sehingga ukuran payudaranya kembali normal? Jawablah Lajnah Daimah sebagai berikut :

“Jika faktanya sesuai dengan yang disebutkan oleh penanya, maka dibolehkan untuk dilakukan operasi demi memperbaiki bentuk payudara, jika hal itu juga tidak membahayakan tubuh istrinya. Ini dibolehkan karena yang diceritakan tadi termasuk salah satu penyakit yang dibolehkan untuk diobati berdasarkan dalil-dalil syar’i yang begitu banyak.

Kesimpulan

Bagi wanita yang mempunyai payudara normal, walaupun kadang tidak ideal menurut mereka, hendaknya selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut. Sekali-kali tidak dibolehkan untuk melakukan operasi payudara, kecuali jika payudaranya cacat atau terkena penyakit.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan