Stop! Bahaya Ghibah Digital Di Bulan Ramadhan

915

BERANIDAKWAH.COM | Bahaya Ghibah Di Bulan Ramadhan. “Ramadhan kali ini harus lebih baik!” Itulah resolusi yang biasa disiapkan saat menyambut Ramadhan. Memang seharusnya demikian, hari ini harus lebih baik dari kemarin dan Ramadhan ini harus lebih baik dari kemarin. Hanya saja, jika membuat satu hari bisa lebih baik dari kemarin tidaklah gampang, membuat bulan ini yang merupakan akumulasi dari 30 hari menjadi lebih baik dari kemarin tentu tidak lebih gampang. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

Agar Ramadhan kali ini lebih baik, syaratnya harus memperbanyak amal shalih. Adapun ketentuannya adalah tidak merusak pahala amal shalih dengan maksiat. Memperbanyak amal shalih ibarat memperbanyak debet dalam tabungan, sedang maksiat adalah kredit akan membuat saldo jadi sedikit atau berkurang.

Amal shalih yang dilakukan saat shiyam Ramadhan pahalanya besar. Tentunya, maksiat yang dilakukan pada saat itu pun akan sangat mengkhawatirkan dosanya. Padahal, Rasulullah menyatakan, “Keburukan akan memakan kebaikan seperti api melahap kayu”. Menurut Anda, seberapa besar api yang perlu dinyalakan untuk membakar setumpuk kayu?

Sekecil apapun maksiat, memiliki potensi besar melenyapkan setumpuk pahala yang didapat. Nah, saat seluruh tubuh lemas karena shaum dan lemak dari maksiat, ada satu organ yang bisa tetap dengan lincak melakukan segalanya, itulah lidah. Lidah bisa tetap sigap melakukan kebaikan tapi juga tak lemas untuk melakukan keburukan. Oleh karenanya, menjaga lidah dari dosa-dosa lisan menjadi tema nasihat yang sering ditekankan saat Ramadhan.

Di zaman ini, tak hanya lidah di mulut yang harus dijaga, tapi juga lidah digital yang menjadi perpanjangan lidah manusia modern. Lidah itu berwujud keyboard dan keypad. Suaranya berwujud SMS, statusnya Facebook atau Twitter, komentar, chatting dan sebagainya. Lidah-lidah digital ini bisa berfungsi hampir sama baiknya seperti lidah manusia. Bisa berkata baik, mahir pula mengucapkan hal-hal yang tak berguna bahkan dosa.

Misalnya ghibah digital atau menggunjing orang via online, umpatan kasar di dunia maya, mujaharah (pamer) dosa seperti memamerkan pacaran via dunia maya, aurat dan komentar yang jorok. Yang lebih parah lagi obrolan mesum via Handphone atau internet.

Saat melakukan dosa-dosa ini, bunyi yang akan terdengar barangkali Cuma ceklak-ceklik suara keypad atau keyboard, tapi pengaruh tulisannya sama dengan yang diucapkan dengan lisan. Padahal, di zaman ini tidak sedikit yang betah nongkrong di depan layar monitor maupun gadget. Tentunya kemungkinan untuk terjerumus melakukan dosa-dosa digital juga sangat besar.

Jadi, resolusi “Ramadhan yang lebih baik” di tahun ini harus memasukkan dosa-dosa digital sebagai blacklisted activities yang harus dijauhi. Panen pahala yang sudah ada di depan mata, jangan sampai terbakar ludes hanya gara-gara setitik api yang menyala di tengahnya. Semoga Allah menghindarkan dan mengampuni kita dari segala dosa, dan membuat hati kita semakin bersemangat untuk beribadah kepada-Nya. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan