Jabatan, Posisi Yang Penuh Dengan Jebakan

1,325

BERANIDAKWAH.COM | Jabatan, Posisi Yang Penuh Dengan Jebakan. Harta, tahta dan wanita termasuk jurang maksiat yang paling mudah menjerumuskan manusia kedalam maksiat. Setan sangat lihai untuk menggoda manusia dengan rayuan-rayuan tersebut, dan hanya segelintir orang yang benar-benar beriman kepada Allah saja yang bisa lolos dari rayuan tersebut.

Jabatan, satu pintu maksiat yang penuh dengan jebakan. Semakin tinggi jabatan yang ia miliki, semakin besar pula godaan yang akan dia terima. Penuh fitnah, dan saling menjatuhkan untuk mendapatkan posisi yang ia inginkan.

Rasulullah bersabda, “Kami tidak akan memberikan jabatan kepada orang yang menginginkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan, karena jika engkau diberi jabatan karena memintanya, niscaya engkau akan dibebani dengan hal itu, tapi jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, engkau akan ditolong dalam menjalankannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat di atas, ada kesan kuat yang mengindikasikan ketidaksukaan Rasulullah pada sifat rakus terhadap jabatan dan kekuasaan. Yang pertama, peringatan agar jangan mempercayakan jabatan terhadap orang kamaruk terhadap kedudukan dan yang kedua, larangan yang lugas agar jangan meminta dan berambisi mendapat jabatan.

Maksud dari “Kami tidak menyerahkan jabatan terhadap orang yang menginginkannya” artinya terhadap orang yang mencari dan berambisi terhadapnya. Sebab, dibalik ambisinya pasti ada tendensi negatif yang harus diwaspadai. (Shahihul Bukhari, Tahqiq dan Ta’liq oleh Dr. Mushtafa Dieb al Bagha)

Tentunya, Rasulullah tidak bermaksud menjauhkan umatnya dari kepemimpinan, mematikan potensi sebagai pemimpin dan mendidik umatnya menjadi pribadi yang inferior (minder) dan pengekor. Bukan seperti itu, Rasulullah hanya ingin memperingatkan bahaya yang mengintai dalam jabatan dan kekuasaan. Tujuannya agar umat jangan sampai dirasuki virus hubbu ri’asah, cinta dan ambisi mencari jabatan dan kedudukan. Sebuah ambisi yang sarat dengan kepentingan nafsu, meski sering disamarkan dengan propaganda menyejahterakan rakyat.

Peringatan beliau ini bersifat umum, baik dalam jabatan sistem daulah Islam, lebih-lebih dalam jabatan sistem di luar Islam. Sebab, meskipun sistemnya Islam, tapi bagaimanapun itu hanyalah sistem. Sistem bisa disiasati atau dilanggar dengan sembunyi-sembunyi. Masih mungkin ada korupsi dan penyalahgunaan jabatan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Peluang itu akan semakin lebar jika sistem yang digunakan bukan sistem Islam.

Jabatan =  Jebakan

Jabatan merupakan posisi yang dikelilingi penuh dengan godaan. Ada banyak sekali celah bagi setan untuk memasang perangkapnya. Lubang paling besar dan mudah adalah dengan godaaan harta, dan juga sebaliknya harta adalah senjata sakti untuk meraih jabatan dan mempertahankannya. Seperti yang kita saksikan saat ini, rasanya hampir mustahil bisa jadi pejabat tanpa memiliki harta yang melimpah.

Inilah lubang paling besar yang siap memerangkap para pejabat. Tentunya, dengan lubar sebesar ini, setan akan sangat kecewa apabila tak sedikitpun sangggup menjerumuskannya. Kecil kemungkinan seorang pejabat tak menaruh pamrih soal harta. Sebab bagaimanapun, jabatan akan menaikkan status yang memiliki aksesoris wajib berupa rasa gengsi. Kedudukan akan membuat seseorang merasa ‘lebih’ dibandingkan dengan orang lain, paling tidak bawahannya.

Hal itu bukan saja murni berasal dari hati, tapi pandangan manusia juga membentuk dan memupuk perasaan itu. Seperti sentilan ‘masa pejabat kok cuma pakai sepeda motor’, ‘rumahnya cuma ukuran 36’, dan banyak lagi. Dan juga mungkin masih ada desakan dari anggota keluarga yang ingin menempatkan dirinya layaknya seperti keluarga pejabat. Tuntutan finansial semakin besar seringkali melampaui pendapatan reguler atau gaji resmi. Lubang perangkap pun semakin menganga dan licin tepiannya. Semua tahu, bukan urusan mudah menepis gengsi, Ibarat kain, gengsi adalah kain hitam lebar nan tebal yang lebih dari cukup untuk menutup mata, telinga dan hati untuk menghalangi pengaruh nasihat dan jeritan nurani.

Lubang semakin menganga, tinggal sedikit jegalan untuk membuat manusia terperosok tanpa mampu naik kembali. Dan akhirnya, yang dilakukan adalah menyalahgunakan jabatan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Kadangkala wujudnya tidak harus berupa korupsi, tapi pengadaan fasilitas yang melebihi batas kebutuan dengan alasan fasilitas dinas. Kendaraan dan rumah dinas mewah, anggaran kunjungan kerja yang jumlahnya tidak rasional, fasilitas pribadi yang berlebih, handphone canggih nan mahal dan masih banyak sejenis lainnya.

Untuk ini, Imam Ibnul Jauzi dalam bukunya Talbisul Iblis menjelaskan, para pejabat sering arogan dalam menggunakan harta dan menganggapnya baik dan berhak. Padahal ini talbis (tipudaya setan) yang bisa disanggah dengan argumen, orang yang suka berlebihan dalam membelanjakan hartanya sendiri saja wajib di kenai sanksi, lantas bagaimana dengan orang yang dititipi harta orang lain (rakyat). Dia hanya berhak mendapatkan harta sesuai kadar pekerjaannya dan tidak ada alasan untuk berlebihan. (Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, Bab ke-7: 137)

Namun kadangkala, setelah terjebak, nurani hendak memberontak. Karena bagaimanapun durhakanya, ada kalanya nurani manusia bangkit dan tersadar. Ada keinginan untuk membersihkannya. Tapi tentunya, hal ini tidak luput dari pengamatan dan strategi setan. Untuk sekedar menghilangkan rasa bersalah, setan sering mengecoh mereka para pejabat korup untuk mendatangi ulama dan memohon doa dari mereka. Dipilihlah ulama yang buruk dan dengan sedikit tips (amplop), doa pun akan mengalir sejauh yang mereka inginkan. Ditanamlah harapan berlebih bahwa doa itu akan menghapus atau minimal mengurangi dosa yang kadung mereka buat.

Masih dari kitab dan bab yang sama, Ibnul Jauzi menuturkan bahwa ada seorang pedagang berlabuh. Tiba-tiba kapalnya ditahan oleh pejabat pemungut pajak, lalu pedagang datang kepada Malik bin Dinar (seorang ulama shalih) dan menceritakan kisahnya. Beliaupun bangkit dan menemui para pejabat. Melihat beliau mereka berujar, “Wahai Abu Yahya, mengapa Anda tidak mengutus orang saja dan kami akan penuhi keperluan Anda?” “Keperluan saya, saya ingin kalian melepaskan kapal orang ini.” Mereka memiliki wadah tempat uang dirham yang mereka pungut (suap) dari orang-orang. Mereka berkata, “Doakanlah kami, wahai Abu Yahya.” Beliau menjawab, “Mintalah pada wadah uang itu untuk mendoakan kalian! Bagaimana mungkin aku mendoakan kebaikan untuk kalian, sedang seribu orang tengah mendoakan keburukan bagia kalian. Apa kalian pikir, doa satu orang akan lebih dikabulkan dari seribu orang?”

Ini baru jebakan dalam hal harta, belum pada wanita dan ambisi untuk mempertahankan jabatannya tersebut. Karena itu, jika jadi pejabat jangan lengah untuk juga membentengi hati dan kewaspadaan harus diperkuat agar rayuan dan bujukan setan tidak mudah merasuki pribadi Anda. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan kekuatan kepada pejabat yang menjalankan tugasnya dengan benar demi kepentingan umat. Aamiin

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan