Bai’at Abu Bakar Ash-Shiddiq Sebagai Khalifah Dan Pidato Pelantikannya

172,321

BERANIDAKWAH.COM | BAI’AT ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ SEBAGAI KHALIFAH DAN PIDATO PELANTIKANNYA. Telah berkata kepadaku Anas bin Malik bahwa dia mendengar pidato terakhir Umar bin Khattab ketika duduk di mimbar satu hari setelah Rasulullah wafat, sementara Abu Bakar duduk dan diam. Umar berkata, “Aku berharap agar Rasulullah diberi umur yang panjang hingga menjadi orang yang paling terakhir di antara kita (maksudnya wafat terakhir di antara seluruh sahabat) kini beliau telah wafat, namun Allah telah menjadikan di hadapan kita cahaya petunjuk yang telah diberikannya kepada Muhammad. Selanjutnya Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah ketika mereka berdua berada di dalam gua. Beliaulah yang paling pantas menjadi pemimpin segala urusan kalian, maka berdirilah dan bai’atlah beliau.” Sebelumnya sebagian dari kaum muslimin telah membai’at Abu Bakar di Saqifah bani Sa’idah, namun bai’at secara umum dilaksanakan di dalam masjid di mimbar.

Az-Zuhri berkata, diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, “Aku mendengar Umar berkata pada hari itu kepada Abu Bakar, ‘Naiklah ke mimbar,’ maka beliau pun terus menuntut hingga Abu Bakar akhirnya naik ke mimbar dan dibai’at oleh seluruh kaum muslimin.”

Muhammad Ibnu Ishaq berkata, telah berkata kepadaku az-Zuhri, dia berkata, telah berkata kepadaku Anas bin Malik, dia berkata, “Ketika Abu Bakar dibai’at di Saqifah, keesokan harinya beliau duduk dimimbar sedang Umar berdiri disampingnya memulai pembicaraan sebelum Abu Bakar berbicara. Umar mulai mengucapkan pujian terhadap Allah sebagai pemilik segala pujian dan sanjungan. Kemudian Umar berkata, “Wahai saudara-saudara sekalian, aku telah katakan kepada kalian kemarin perkataan yang tidak kudapati dalam Kitabullah, dan tidak pula pernah diberikan Rasulullah padaku. Aku berpikiran bahwa pastilah Rasulullah akan terus hidup dan terus mengatur urusan kita, dan sesungguhnya Allah telah meninggalkan untuk kita Kitab-Nya yang membimbing Rasulullah, maka jika kalian berpegang teguh dengannya, Allah pasti akan membimbing kalian sebagaimana Allah telah membimbing RasulNya. Dan sesungguhnya Allah telah mengumpulkan seluruh urusan kita di bawah pimpinan orang terbaik dari kalian. Ia adalah sahabat Rasulullah dan orang yang kedua ketika ia dan Rasulullah bersembunyi di dalam gua. Maka berdirilah kalian dan berikanlah bai’at kalian kepadanya.’ Maka orang-orang segera membai’at Abu Bakar secara umum setelah sebelumnya dibai’at di Saqifah.

Selepas dibai’at, Abu Bakar mulai berpidato, dan setelah memuji Allah pemilik segala pujian, beliau berkata, “Amma ba’du, hai sekalian manusia sesunggugnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan aku bukanlah yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan, bantulah aku, dan jika aku bertindak keliru, maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian, maka dialah yang lemah di sisiku hinggaaku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka hinaan, dan tidaklah suatu kekejian tersebar di tengah suatu kaum kecuali azab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya, maka tiada kewajiban taat atas kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat, semoga Allah merahmati kalian’.” (Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah)

Dan ini adalah sanad yang shahih, dan ungkapan beliau, ‘Sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik’ adalah bagian dari ketawadhu’an beliau. Sebab mereka seluruhnya sepakat bahwa beliaulah yang terbaik dan termulian di antara mereka.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan