Balasan Bagi Orang-Orang Yang Menolak Membayar Zakat Padahal Mampu

900,778

BERANIDAKWAH.COM | Balasan Bagi Orang-Orang Yang Menolak Membayar Zakat Padahal Mampu. Salah satu tanda orang-orang yang cinta dunia adalah takut kehilangan hartanya, sehingga ia akan terus mencari harta sebanyak-banyaknya dan takut untuk mengeluarkan harta tersebut untuk kepentingan fisabilillah (di jalan Allah). Padahal harta itu nantinya ketika mati hanya akan menjadi warisan dunia yang tidak berlaku apa-apa untuknya di akhirat kelak. Bahkan harta sebanyak isi dunia ini tidak akan mampu mengembalikan orang yang sudah meninggal hidup kembali, meskipun hanya satu menit.

Bagi orang-orang yang menolak membayar zakat padahal ia mampu, dibawah ini beberapa penjalasan terkait dengan hal tersebut.

1. Seluruh ulama sepakat bahwa siapa saja yang mengingkari wajibnya zakat maka ia kafir berdasarkan ijmak, sebab dia telah mendustakan Al Qur’an dan As Sunnah serta mengingkari perkara yang sudah sangat jelas dalam Islam.

2. Adapun orang yang mengakui kewajiban tersebut namun tidak melaksanakannya maka

a. Diriwayatkan dari Ahmad bahwa ia berkata, “Orang yang meninggalkannya karena bakhil adalah kafir sebagaimana orang yang meninggalkan shalat karena malas.” Sebagaimana pengikut madzhab Hanbali menguatkan riwayat ini, mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Jika mereka bertaubat dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudara kalian dalam agama…” (QS. At Taubah: 11)

Mereka mengatakan: “Persaudaraan dalam din tidak terhapus selain dengan keluarnya seseorang dari millah, sedangkan Allah menjadikan persaudaraan itu sebagai sebab dari adanya tiga hal, yaitu: bertaubat dari syirik, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.”

b. Sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwa siapa yang menolak membayar zakat karena didorong sifat kikir tanpa mengingkari kewajibannya, maka ia adalah pelaku dosa besar dan masuk dalam ancaman keras berupa adzab yang pedih pada hari Kiamat, akan tetapi ia tidak sampai keluar dari Islam asalkan masih mengakui kewajibannya.

Pendapat inilah yang benar, dan diperkuat oleh apa yang tercantum dalam hadits Abu Hurairah bahwasanya Nabi ketika menceritakan orang yang tidak mau membayar zakat emas dan perak serta hukumnya, beliau bersabda setelah itu: “…kemudian ia melihat jalan berikutnya, apakah ke surga atau ke neraka.” (HR. Muslim)

3. Adapun sanksi bagi orang yang tak mau membayar zakat ketika di dunia, maka ada dua sanksi: sanksi yang bersifat qadariy dan sanksi yang bersifat syar’i.

Sanksi yang bersifat qadariy maksudnya adalah bahwa Allah Ta’ala akan menimpakan cobaan berupa kelaparan dan paceklik kepada orang yang bakhil menunaikan hak Allah dan hak orang fakir yang ada pada hartanya. Sebagaimana sabda Nabi: “Tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat kecuali Allah akan timpakan kepada mereka musibah paceklik…” (HR. Ath Thabrani, Al Hakim, Al Baihaqi)

Sedangkan sanksi yang bersifat syar’i maksudnya adalah jika orang yang menolak membayar zakat itu ada di bawah genggaman seorang penguasa, maka zakat diambil secara paksa darinya, sesuai sabda Nabi: “Aku diperintahkan memerangi manusia sampai mereka mengucapkan la ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Jika mereka telah mengucapkannya, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan haknya, sedangkan perhitungan mereka ada pada Allah.” Dan diantara haknya adalah membayar zakat.

Abu Bakar berkata di hadapan para sahabat: “Zakat adalah hak harta. Demi Allah, jika mereka menolah membayar zakat kepadaku seekor kambing yang dulu mereka membayarkannya kepada Rasulullah pasti aku perangi mereka karenanya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun jika orang yang menolak membayar zakat adalah di luar kekuasaan seorang penguasa, maka penguasa boleh memeranginya, karena para sahabat dulu juga memerangi orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.

4. Sedangkan sanksi orang yang menolak membayar zakat di akhirat nanti, maka terdapat beberapa nash yang menyebutkannya. Di antaranya:

a. Firman Allah Ta’ala

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah: 34-35)

b. Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda:

“Barangsiapa yang Allah beri harta tapi tidak menunaikan zakatnya, pada hari Kiamat akan didatangkan kepadanya seekor ular berbisa yang memiliki dua titik hitam di kepalanya yang akan melilitnya pada hari Kiamat. Kemudia ia memagutnya dengan kedua rahangnya sambil berkata: “Akulah harta simpananmu, akulah hartamu.” Kemudia Rasulullah membaca firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari Kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (HR. Bukhari) (QS. Ali Imran: 180)

c. Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Tidaklah pemilik harta simpanan yang baik menunaikan zakatnya kecuali harta itu akan dipanaskan di neraka Jahannam lalu dijadikan lempengan-lempengan, kemudia digunakan untuk menyeterika keda lambung dan jidat mereka sampai Allah memberi keputusan kepada hamba-hamba-Nya di hari yang lamanya lima puluh ribu tahun. Setelah itu diperlihatkan jalannya, apakah ke surga atau ke neraka. Dan tidaklah pemilik unta yang tidak menunaikan zakatnya kecuali ia akan dibentangkan di sebuah tanah yang rata, kemudian unta-unta itu akan berjalan di atas tubuhnya dalam keadaanya (unta) yang paling gemuk, setiap kali unta terakhir berlalu dikembalikan ke unta pertama, sampai Allah memberi keputusan kepada hamba-hamba-Nya di hari yang lamanya lima puluh ribu tahun. Setelah itu diperlihatkan jalannya apakah ke surga atau ke neraka. Dan tidaklah pemilik kambing tidak menunaikan zakatnya kecuali ia akan diterlentangkan di tanah yang rata pada hari kiamat, dalam keadaan kambing itu paling gemuk, lalu menginjak-injak dirinya dengan kuku-kukunya dan menanduknya dengan tanduk-taduknya, tidak ada di antara kambing-kambing itu yang tanduknya tumpul atau tidak bertanduk, setiap kali kambing terakhir berlalu dikembalikan lagi ke kambing pertama, sampai Allah memberi keputusan kepada hamba-hamba-Nya di hari yang lamanya lima puluh ribu tahun. Setelah itu diperlihatkan jalannya, apakah ke surga atau ke neraka…” (HR. Muslim dan Abu Daud)

Semoga bermanfaat 😀

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan