Batasan Mahram Ibu Mertua, Boleh Dinikahi atau Tidak?

729

BERANIDAKWAH.COM | Batas Mahram Ibu Mertua, Boleh Dinikahi atau Tidak? Ada sebuah pertanyaan yang sampai saat ini masih mengganjal di hati saya. Sebagaimana saya ketahui, Ibu mertua adalah mahram, sementara bagi kita karena sebab menikahi putrinya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kalau sekiranya istri kita meninggal dunia, apakah ibu mertua tersebut masih menjadi mahram kita atau tidak? Sebabnya kan meninggalnya isteri bukan karena perceraian. Terus bagaimana posisi anak-anak kita kepada neneknya, terutama kalau anak kita laki-laiki?

Pertanyaan di atas cukup pelik dan mungkin masih banyak dari umat muslim bingung dengan hal di atas. Semoga ulasan di bawah ini dapat memberikan pengetahuan dan menjelaskan dari pertanyaan di atas.

Benar bahwa ibu mertua adalah mahram yang tidak boleh dinikahi, termasuk di dalamnya ibu dari ibu mertua dan ibu dari bapak mertua (nenek). Allah Ta’ala berfirman, “Diharamkan atas kamu (mengawini) … ibu-ibu isterimu (mertua).” (QS. An-Nisa: 23)

Sebelumnya perlu dipahami, ada dua jenis mahram wanita yang tidak boleh dinikahi: muharramaat mu’abbad, yaitu tidak boleh dinikahi sampai kapan pun, dan muharramaat mu’aqqat yaitu boleh dinikahi pada kondisi atau waktu tertentu, yang bila kondisi dan waktu tersebut tiada maka boleh dinikahi.

Ibu mertua dalam hal ini termasuk dari mahram yang tidak boleh dinikahi sampai kapan pun atau termasuk muharramaat mu’abbad. Hal ini disebabkan oleh hubungan mushaharah (kerabat karena pernikahan).

Syaikh Al-Utsaimin berkata, “Ibu dari isteri (mertua) menjadi mahram atas suami dari anak perempuannya untuk selama-lamanya walau hanya dengan adanya akad pernikahan. Seandainya saja seorang laki-laki melakukan akad nikah secara syar’i dan sah, lalu ketika itu juga ia mencerainya, maka tetap ibu dari wanita mantan isteri tersebut haram baginya, demikian sebaliknya.”

Para ulama telah menjelaskan kebolehan mahram mu’abbad ini melihat sesuatu yang biasa dilihat, jabat tangan atau khalwat (berduaan) dengannya. Imam An-Nawawi menyebutkan, “Para ulama sepakat haramnya berkhalwat dengan wanita ajnabi (bukan mahram) dan dibolehkannya khalwat dengan wanita mahram. Dan yang dimaksud mahram di sini yang haram dinikahi untuk selamanya dengan sebab yang mubah.” Ibnu Qudamah berpendapat, “Dibolehkan seorang laki-laki melihat mahramnya sesuatu yang bbiasa terlihat seperti kepala, leher, kedua telapak tangan dan kedua kaki. Dan tidak boleh melihat anggota badan yang biasa tertutup seperti dada, punggung dan yang lainnya.” (Fatawa Yas’alunaka: 6/202, Al-Mausu;ah Al-Fiqhiyyah: 2/13322)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan