Beberapa Kesalahan Yang Sering Dilakukan Saat Berkhutbah

9,156

BERANIDAKWAH.COM | Kesalahan Yang Sering Dilakukan Saat Berkhutbah. Ibadah Jum’at merupakan ibadah utama yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ibadah dianggap baik jika sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Karenanya menjadi suatu keharusan bagi setiap muslim, apalagi seorang khatib dan imam untuk mengetahui tata cara pelaksanaan Jum’at yang benar. Tujuannya adalah agar terhindar dari penyimpangan dan kesalahan sebagaimana banyak dilakukan oleh para khatib pada hari ini.

Jangan sampai persiapan khutbah Jum’at yang sudah disusun rapi menjadi rusak karena kesalahan-kesalahan umum yang sering kali dilakukan saat berkhutbah. Di antara kesalahan-kesalahan yang dilakukan khatib adalah sebagai berikut:

Memanjangkan Khutbah Dan Memendekkan Shalat

Salah satu karakteristik shalat Jum’at bila dibandingkan dengan shalat wajib lainnya adalah di daamnya terdapat khutbah sebelum pelaksanaan shalat. Dan kedudukan khutbah ini menjadi syarat sah shalat Jum’at, menurut pendapat jumhur ulama.

Dari riwayat-riwayat yang ada, bahwa Rasulullah senantiasa berkhutbah pada shalat Jum’at (sebelumnya). Dan tidak pernah sekalipun beliau shalat Jum’at tanpa khutbah. Dan karena ada khutbah inilah, maka shalat Jum’at dilaksanakan dua rakaat. Sebaliknya, ketika tidak ada khutbah maka shalat dilaksanakan empat rakaat, dan itu tidak lagi disebut shalat Jum’at, tapi shalat dzuhur.

Abu Al-Mundzir As-Saidi menyebutkan beberapa larangan dalam khutbah. Beliau menempatkan pada urutan pertama, “Memanjangkan khutbah atau shalat sehingga memberatkan para makmum.” Memanjangkan khutbah merupakan kesalahan yang sangat jelas berdasarkan sabda Rasulullah,

“Sesungguhnya panjang shalat seseorang dan khutbahnya yang pendek menjadi tanda kedalaman pemahaman agamanya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah. Sesungguhnya sebagian dari kata-kata itu ada yang bisa menjadi sihir.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau tidak memanjangkan khutbah pada hari Jum’at. Sesungguhnya khutbah beliau hanya ucapan-ucapan yang pendek saja.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Sesungguhnya ruh dari khutbah adalah nasihat yang baik dengan menggunakan bahasa yang lugas, ringkas dan jelas sehingga mudah dipahami oleh semua tingkatan manusia. Tidak menggunakan teori-teori dan rumus-rumus yang rumit atau menggunakan sajak dan peribahasa yang sulit dicerna dengan otak. Karenanya kemampuan dalam menyampaikan khutbah dengan cara tadi menunjukkan kepahaman sang khatib terhadap agama.

Dari ulasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa faidah memendekkan khutbah, kurang lebih ada 2 hal, yaitu:

Pertama, supaya jamaah tidak merasa bosan

Kedua, materi yang disampaikan akan lebih mudah dipahami dan diingat bagi siapa saja yang mendengarnya

Sedangkan maksud dari memanjangkan shalat disyariatkan sesuai dengan khutbah, bukan secara mutlak. Dan, jika memanjangkan shalat malah memberatkan para makmum maka diharamkan, karena Rasulullah pernah sangat marah terhadap Mu’adz ketika dia memanjangkan bacaan saat mengimami manusia pada shalat Isya. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Mengangkat Tangan Ketika Berdoa (Ketika Khutbah)

Larangan mengangkat kedua tangan saat berdoa didasarkan pada sabda Rasulullah,

“Dari Umarah bin Ruaibah, dia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar sedang mengangkat kedua tangannya. Maka Umarah berkata, “Semoga Allah memburukkan dua tangan itu! Sungguh aku telah melihat Rasulullah tidaklah lebih dari mengisyaratkan dengan tangannya begini.” Dia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.” (HR. Muslim)

Ketika menjelaskan riwayat ini, Imam Nawawi mengungkapkan, “Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu sunnah ketika berkhutbah adalah tidak mengangkat tangan ketika berdoa. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Imam Malik, pengikut madzhab Asy-Syafi’i dan lain sebagainya. Ucapan Ammarah, “Semoga Allah mencelakakan kedua tangan itu” dalam riwayat di atas ditujukan kepada kedua tangan yang diangkat Bisyr ketika berdoa dalam khutbahnya. Hal itu dilakukan karena mengangkat tangan ketika berdoa bertentangan dengan tuntunan sunnah. Segala bentuk perbuatan yang menyalahi tuntunan sunnah, tentu tidak diterima di sisi Allah dan termasuk perbuatan tercela.

Akan tetapi dalam doa istisqa’, Rasulullah mengangkat kedua tangannya. Sunnah tersebut hanya terdapat pada doa istisqa’ dan buka pada khutbah Jum’at. Anas bin Malik meriwayatkan,

“Nabi Muhammad tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam berdoa kecuali ketika memanjatkan doa istisqa’. Dan (pada saat itu) beliau mengangkat kedua tangannya hingga ketiaknya yang putih terlihat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak Melakukan Persiapan Dengan Baik

Banyak dari khatib yang hanya sekedar membaca buku khutbah yang dipersiapkan oleh takmir masjid. Buku tersebut diletakkan di atas mimbar dan dibaca oleh khatib tanpa ada penambahan dan penekanan. Bahkan buku tersebut dibaca berulang-ulang oleh para khatibnya. Sehingga banyak para khatib yang kurang persiapan dan bahkan materi pun tidak tepat tepat dengan kondisi para jamaahnya.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan, “Beliau pada saat berkhutbah senantiasa memperhatikan kebutuhan dan kemaslahatan jamaahnya.” (Zad Al-Ma’ad, I/189)

Mendasarkan Uraiannya Pada Hadits Lemah Dan Palsu, Bukan Pada Ayat-Ayat Allah Dan Hadist Shahih

Sebagai seorang khatib tidak pantas rasanya jika menyampaikan materi tanpa ada penjelasan atau landasannya. Malas untuk mempelajari derajat hadits-hadits yang disampaikan akan mengakibatkan hal yang fatal, jika hadits yang disampaikan lemah bahkan palsu dan ini didengar oleh para jamaah, lalu jamaah menyampaikannya ke yang lain maka akan menyebarlah hadits-hadits dha’if dan palsu tersebut. Sehingga hal-hal yang seharusnya tidak diajarkann oleh Rasulullah justru dikerjakan oleh umat Islam.

Di antara kemalasan dan kebodohan serta peremehan yang dilakukan oleh para khatib adalah ketergantungan mereka terhadap buku-buku kuno, padahal tidak sesuai dengan zaman dan keadaan kita hari ini. Dan hal itu juga menyelisihi syariat yaitu dengan dibacanya hadits-hadits maudhu’ dan dhaif, seperti hadits tentang keutamaan bulan Rajab, nisyfu Sya’ban dan hadist lainnya tanpa ada penjelasan benar kepada jamaah. Ini adalah pemalsuan dan bahkan penipuan terhadap kaum muslimin. (As-Sunan wa Al-Mubtada’at: 76)

Seorang dari harus hati-hati dalam menyampaikan ceramahnya, jangan sampai menyebarkan hadits-hadits yang tidak jelas kepada umat. Dan jika para dai melakukan hal tersebut dengan sengaja maupun tanpa sengaja, berarti telah menyebarkan kesesatan di tengah-tengah umat Islam, juga terancam dengan hadits Rasulullah:

“Barangsiapa berdusta atas namaku maka hendaklah menempati tempat duduknya dari api Neraka.” (HR. Bukhari)

Tidak Mengutip Ayat-Ayat Al-Qur’an Sepanjang Khutbahnya

Perbuatan ini adalah bertentangan dengan petunjuk Rasulullah. Padahal para sahabat dapat hafal ayat-ayat dalam Al-Qur’an adalah dari khutbah beliau. Hal ini sebagaimana sebuah hadits:

Binti Haritsah bin An-Nu’man meriwayatkan, “Aku hafal surat Qaf dari Rasulullah, karena beliau membacanya setiap khutbah Jum’at.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,

Dari Jabir bin Samurah berkata, “bahwasanya khutbah Rasulullah itu dua kali, yang beliau duduk di antara keduanya. Beliau membaca Al-Qur’an dan mengingatkan manusia.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi berkata, “Membaca ayat dalam khutbah adalah disyariatkan tanpa ada perselisihan. Akan tetapi para ulama berselisih akan wajibnya. Sedangkan yang benar menurut kami adalah wajib walaupun hanya satu ayat.” (Syarah Muslim, VI/160)

Tidak Menghayati Khutbahnya

Yaitu berkhutbah dengan suara pelan, lembut dan tidak jelas apa yang diucapkannya. Perbuatan khatib yang seperti itulah yang menyebabkan para jamaah menjadi ngantuk saat khutbah berlangsung. Hal ini menyelisihi perbuatan Rasulullah. Jabir bin Abdullah meriwayatkan,

“Bila Rasulullah berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suaranya keras dan kemarahannya memuncak, seolah sedang memimpin pasukan.” (HR. Muslim)

Itulah beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh para khatib saat khutbah Jum’at. Masih banyak kesalahan-kesalahan lain yang tidak disebutkan dalam artikel ini, namun bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya bisa membaca buku yang khusus membas permasalahan ini, di antaranya adalah Al-Inba’ bi Akhtha’i Al-Khuthaba karangan Su’ud bin Mulluh bin Sulthan Al-Anazi, dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Koreksi Total Praktik Khutbah & Ceramah oleh penerbit Imam Syafi’i.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan