Begini Isi Pidato Iblis Di Hari Kiamat

19,879

BERANIDAKWAH.COM | Isi Pidato Iblis Di Hari Kiamat. Tidak hanya manusia saja yang bisa berpidato, tetapi kelak di hari Kiamat, Iblis akan berpidato kepada para pengikutnya. Allah berfirman;

“Dan berkhutbahlah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca aku, akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku…” (QS. Ibrahim: 22)

Sungguh pemandangan yang menegangkan, saat pertama orang-orang durhaka melihat nyala api yang siap membakar mereka. Segala perangkat siksa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, hingga mereka pun mencicipi kali pertama betapa panasnya api neraka. Alangkah pedihnya siksa yang menimpa mereka. Saat itu mereka mencari-cari sebab terjerumusnya mereka ke neraka. Lalu mereka menunjuk iblis sebagai biangnya. Mereka pun mencela Iblis dan sekutunya, gara-gara mengikuti bujukannya, mereka masuk neraka.

Saat itulah Iblis memberikan konfirmasi, ia berdiri di atas mimbar dari api neraka sebagaimana disebutkan oleh Imam Hasan al-Bashri. Juga dijelaskan oleh ar-Raazi, “Khutbah iblis itu terjadi kelak tatkala penduduk jannah sudah masuk jannah dan penduduk neraka telah masuk neraka. Maka ketika itu semua penduduk neraka mencela dan menyalahkan Iblis. Lalu dia pun berdiri untuk menyampaikan khutbahnya.”

Selanjutnya, semua mata penduduk tertuju kepada Iblis yang meeka tuduh sebagai biangnya. Mereka penasaran, apa kiranya pesan yang akan disampaikan oleh Iblis yang telah menjadi ikutan dan panutan mereka di dunia. Maka mulailah Iblis membuka khutbahnya, ketika itu Iblis menyampaikan khutbah dengan tema yang sangat “menyentuh”. Maka mengalirlah air mata, hati para pendengarnya tertusuk karena sakitnya. Timbullah penyesalan mereka karena telah mengikuti bujuk rayu Iblis di dunia.

Betapa tidak, setelah ia menggoda manusia, setelah menipu mereka, setelah menjerumuskan mereka ke dalam neraka, dan setelah tercapai cita-citanya, ia pun berlepas diri dari pengikutnya. Ia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas godaan-godaannya. Bahkan ia tidak mau disalahkan dan dicela. Maka khutbah Iblis ini menjadi “bonus” siksaan bagi penduduk neraka sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “Maka Iblis pun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin bertambah kesedihan di atas kesedihan, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan.”

Ketika itu Iblis mengatakan “kejujuran” tentang hakikat yang sebenarnya. Ia berkata:

“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar.”

Yakni janji bahwa siapa yang menaati Allah maka Allah akan memberinya pahala dan memasukannya ke dalam jannah. Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah niscaya akan dicampakkan ke dalam neraka. Janji Allah atas manusia adalah benar, adapun Iblis adalah sebaliknya. Pada khutbah ini ia akhirnya mengakui:

“Dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya.”

Seakan Iblis memperolok-olok para pengikutnya, betapa bodohnya mereka. Bagaimana bisa mereka mengesampingkan janji-janji Allah dan tidak mengindahkannya. Padahal Allah mustahil ingkar janji, pada saat bersamaan mereka justru mengikuti bisikan-bisikan setan yang jelas-jelas menjadi musuh nyata bagi manusia.

Padahal Iblis tak mampu memberikan balasan ataupun hukuman walau seberat debu, selain hanya ancaman dan angan-angan kosong. Tak ada hasil yang bisa diperoleh manusia tatkala mengikuti rayuan Iblis. Tak ada pula resiko yang menimpa ketika mereka menerjang ancaman Iblis. Hal yang pada saat itu Iblis juga mengakui:

“Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku.”

Iblis tak punya kekuasaan untuk mengganjar para pengikutnya dengan pahala, dan tak akan ada kewenangan baginya menghukum manusia yang membangkan perintahnya. Karena itulah, Allah menyebutkan bahwa tipu daya setan itu lemah, “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An Nisa: 76)

Dengan alasan itulah Iblis kemudian mengelak dan tak mau disalahkan. Bukan salahnya dia menggoda, tapi karena manusia yang kelewat bodohnya. Sebagaimana yang ia sampaikan dalam khutbahnya:

“Oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku, akan tetapi cercalah diri kalian sendiri.” (QS. Ibrahim: 22)

Setelah Iblis puas menggoda manusia di dunia, dengan mudahnya ia mengatan itu. Maka apakah layak kita ikuti seruan yang tidak bertanggung jawab ini? Lalu kita abaikan seruan Allah demi mengikutinya?

Iblis tidak puas menanggung dosa manusia, dan memang ia tidak mampu menolong pengikutnya. Sebagaimana para pengikutnya tidak pula mampu menolong pemimpin mereka dalam kesesatan. Alangkah beruntungnya kita mengetahui peristiwa yang akan terjadi pada Hari Kiamat nanti, dari sumber paling terpercaya, yaitu Dzat Yang Maha Tahu Segalanya. Maka belumlah cukup alasan bagi kita untuk mendurhakai Iblis?

Mungkin masing-masing dari kita merasa telah menjadi musuh Iblis dan meras jauh dari kriteria orang yang menjadi objek khutbahnya Iblis di neraka. Padahal, setiap kali kemaksiatan dilakukan manusia, berarti ia telah mentaati perintah Iblis dan mengeyampingkan titahnya Allah.

Orang-orang yang tatkala di dunia tidak tersentuh oleh nasihat-nasihat al-Qur’an dan as-Sunnah, tidak tergerak hati mereka untuk berbuat dan bertindak sesuai petunjuk Allah, sebenarnya mereka memiliki potensi besar untuk menjadi pendengar Iblis saat ia berkhutbah di neraka. Kita berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan