Benarkah Rasulullah Adalah Orang Miskin?

20,846

BERANIDAKWAH.COM | Benarkah Rasulullah Adalah Orang Miskin? Ada sebuah hadits yang artinya berbunyi,

“Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan wafatkanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkan aku pada hari kiamat bersama golongan orang-orang miskin.”

Melihat dari hadits tersebut, apakah Rasulullah adalah orang miskin? Lalu apakah hadits tersebut bisa dipertanggungjawabkan (shahih)?

Jawab:

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari sahabat Anas, dan sebagian besar ulama hadits ini mendha’ifkannya. Yaitu: Imam Tirmidzi, Ibnul Jauzi, Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar al-Asqalani, Namawi, Dzahabi, Ibnu Rajab al-Hambali, al Bushiriy, Ibnu Mulaqan dan as Sakhawi.

Adapun yang menghasankan atau menshahihkan hadits ini mengartikan kalimat miskin dengan tawadhu’ dan khusyu’ kepada Allah dan tidak dimaknai dengan makna fakir dan membutuhkan. Ibnu Qutaibah mengatakan bahwa makna miskin dalam hadits (bangkitkanlah aku dalam keadaan miskin) artinya tawadhu’, seolah-olah Nabi meminta kepada Allah untuk tidak dijadikan dalam golongannya orang-orang yang sombong dan takabur, dan tidak dibangkitkan bersama mereka. Dan kalimat miskin diambil dari kata sukun, seperti tamaskana rajulu yang berarti laki-laki yang tawadhu’ dan khusyu’ dan tunduk. (Ta’wil Mukhtalaf Hadits hal. 167)

Namun ujung teks hadits ini: (“Mengapa wahai Rasul?” Nabi menjawab, “Sesungguhnya mereka akan masuk surga empat puluh tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya, wahai Aisyah jangan kamu tolak orang miskin walaupun hanya dengan memberikan secuil kurma.”)

Nash ini mengindikasikan bahwa makna miskin adalah (qillatul mal) sedikit hartanya. Al Hafidz Ibnu Rajab sependapat bahwa miskin yang dimaksud adalah miskin harta. Meskipun perlu diperhatikan lagi bahwa sanad hadist ini dhaif, menurut beliau dalam kitab Ikhtiyar al-Aula halaman 20.

Terlepas dari itu semua jika banyak orang yang menganggap Rasulullah miskin dalam hal harta? Bukankah ketika beliau menikah dengan Ibunda Khadijah tersebut maharnya 100 ekor unta, yang mana unta merupakan kendaraan terbaik pada waktu itu. Bila dibandingkan sekarang ini katakanlah mobil terbaik adalah Lamborghini, maka bisa dibilang bahwa mahar Rasulullah adalah 100 Lamborghini.

Hidup miskin berbeda dengan hidup sederhana? Rasulullah adalah seorang muslim yang hidup sederhana, karena Rasulullah tidak tersilaukan dengan gemerlap dan kemewahan dunia ini. Bila mau ketika Rasulullah ditawarkan harta, tahta dan wanita tercantik oleh kaum kafir Quraisy, dia bisa menjadi orang terkaya (harta). Namun semua itu beliau tolak demi menegakan syiar Islam di muka bumi ini.

Kesimpulannya, bahwa hadits diatas merupakan hadits dha’if atau tidak bisa dijadikan sandaran dalam berdalil, sama saja apakah maknanya dibawa kepada makna yang tawadhu’ dan khusyu’ ataupun miskin harta. Wallahu’alam

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan