Khutbah Jumat: Bencana Mengabaikan Amar Makruf Nahi Munkar

672

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang bahaya dan bencana mengabaikan amar makruf nahi munkar. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Pertama-pertama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah yang telah menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan telah menunjuki kita shiratal mustaqim, jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin.

Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi junjungan Muhammad shallallahu alaihi wassallam, beserta kepada para keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang senantiasa istiqamah mengikuti petunjuk beliau hingga hari Kiamat.

Selanjutnya di atas mimbar ini, perkenankanlah saya menyampaikan wasiat kepada saudara-saudara sekalian dan kepada diri saya pribadi. Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah selama sisa umur yang Allah karuniakan kepada kita, dengan berusaha semaksimal mungkin menjauhi larangan-larangan-Nya dan melaksanakan segala perintah-perintah-Nya. Tidak ada bekal terbaik selain taqwa, oleh karena itu semoga kelak Allah mengakhiri hidup kita dengan kematian yang khusnul khatimah. Aamiin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Amar makruf nahi munkar adalah poros yang agung dalam agama Islam, karena agama Islam akan tegak dengan amar makruf nahi munkar. Amar makruf nahi munkar ini bisa dikatakan merupakan bahian dari agama Islam, karena pada hakikatnya agama Islam memang menyuruh kepada pemeluknya untuk melakukan perbuatan baik, dan melarang atau mencegah kepada perbuatan yang buruk nan keji serta mungkar.

Ketika kedzaliman di mana-mana, kemasiatan merajalela, umat semakin masa bodoh dengan berbagai kemaksiatan, manusia berubah akhlaknya menjadi berakhlak hewan dikarenakan hawa nafsunya yang mengelilingi jiwa dan hati, bahkan manusia sudah tidak punya hati nurani lagi, datanglah Rasulullah yang khusus diutus Allah untuk amar makruf nahi munkar.

Oleh karena itu setelah Rasulullah diutus, maka umat yang mengikuti seruan Rasulullah adalah sebaik-baik umat. Mereka umat yang mendapatkan petunjuk Allah melalui Rasulullah. Hal ini difirmankan oleh Allah dalam Surat Ali Imran Ayat 110:

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Sesungguhnya yang paling buruk menimpa masyarakat adalah zalimnya para thagut disertai takutnya rakyat kepada mereka, sehingga tidak ada yang menyerukan kebenaran, dakwah, nasihat, amar makruf nahi munkar. Dengan demikian hancurlah mimbar-mimbar perbaikan, semakin surut nilai-nilai kekuatan, dan semakin layu pula pohon-pohon kebaikan. Sementara kejahatan dan para penyerunya semakin berani untuk bermunculan dan menyebarkannya. Mereka berhasil membuka pasar-pasar kerusakan, melarikan dagangan iblis dan tentaranya, tanpa ada yang berani melawan atau menghentikan. Karena itu, sudah sepatutnya Allah mendatangkan adzab kepada masyarakat tersebut.

Yang lebih buruk lagi jika hati masyarakat Islam telah mati atau paling tidak sakit. Setelah lama bergaul dengan kemungkaran dan mendiamkannya, kehilanganlah rasa cemburu ketika larangan Allah dilanggar. Padahal dengan perasaan itulah akan diketahui yang makruf dari yang mungkar. Mereka telah kehilangan juga kecerdasan yang (seharusnya) mampu membedakan antara yang baik dengan yang buruk, yang halal dan yang haram, yang lurus serta mana yang menyimpang. Ketika itu rusaklah standar masyarakat sehingga mereka melihat perkara yang sunnah menjadi bid’ah, dan yang bid’ah justru menjadi sunnah. Naudzubillah min dzalik.

Gejala lain adalah apa yang saat ini kita lihat dan rasakan di kalangan anak-anak kaum muslimin, yaitu anggapan bahwa berpegang teguh kepada ajaran agama itu merupakan suatu kemunduran. Istiqamah dan teguh dalam pendirian justru dianggap jumud (beku), sementara kemaksiatan dikatakan sebagai seni, kekufuran menjadi kebebasan, dekandesi moral menjadi suatu kemajuan dan memanfaatkan warisan salaf dianggap keterbelakangan dalam berfikir. Sampai pada hal-hal yang tidak kita ketahui, atau dengan kata lain yang singkat, yang makruf telah menjadi mungkar, dan yang mungkar telah menjadi makruf dalam pandangan mereka.

Lebih buruk dari itu semua ketika suatu kebenaran itu mulai meredup (hilang), sementara teriakan kebatilan semakin menggelora memenuhi seluruh penjuru dunia untuk mengajak manusia berbuat kemaksiatan dan kerusakan, memerintahkan mereka untuk berbuat kemungkaran dan melarang dari yang makruf. Itulah teriakan orang-orang munafik, dan Allah berfirman tentang mereka bahwa mereka adalah penghuni Neraka dan kekal di dalamnya.

Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. ”

QS. At Tubah Ayat 68

Artinya: ” Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. “

Sifat-sifat itu sangat bertentangan dengan sifat-sifat masyarakat Islam, suka  menolong, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

QS. At Taubah Ayat 71

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Setiap kewajiba Allah yang ditinggalkan umat Islam pasti akan mendatangkan akibat, entah di dunia maupun di akhirat. Termasuk kewajiban amar makruf nahi munkar jika diabaikan dan tidak dilaksanakan, pastilah orang-orang yang mengabaikan dan tidak melaksanakannya akan mendapat dosa. Tidak ada satu umat pun yang mengabaikan perintah amar makruf dan nahi mungkar kecuali Allah menimpakan berbagai hukuman kepada umat itu. Di antara hukuman tersebut ialah,

Pertama, adzab yang menyeluruh

Apabila kemaksiatan telah merajalela di tengah-tengah masyarakat, sedangkan orang-orang shalih tidak berusaha mengingkari dan membendung kerusakan tersebut, maka Allah akan menimpakan adzab kepada mereka secara menyeluruh kepada orang-orang yang jahat maupun mereka yang shalih. Allah berfirman

QS. An Anfal Ayat 25

Artinya: “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. ”

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dengan sanadnya dari Zainab bin Jahsy bahwa dia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa padahal di tengah-tengah kita ada orang-orang yang shalih?” Rasulullah menjawab, “Ya, apabila kemaksiatan telah merajalela.”

Abu Bakar berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya jika orang-orang melihat orang yang berbuat zalim lalu tidak mencegahnya, maka hampir saja menimpakkan siksa secara menyeluruh kepada mereka.” (HR. At Tirmidzi)

Kedua, tidak dikabulkannya doa orang-orang yang shalih

Apabila suatu masyarakat mengabaikan amar makruf dan nahi mungkar serta tidak mencegah orang yang berbuat zalim dari kelakuannya, maka Allah akan menimpakan siksa kepada mereka dengan tidak dikabulkan doa mereka. Rasulullah bersabda:

Artinya: “Demi dzat yang diriku ada di tangan-Nya, hendaknya kamu menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan menimpakan siksa kepadamu kemudian kamu berdoa kepada-Nya lalu tidak dikabulkan.” (HR. At Tirmidzi)

Ketiga, pemusnahan mental

Sebagai kehormatan kepada Nabi Muhammad, Allah tidak memusnahkan umat beliau secara fisik sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu seperti kaum Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Nuh, Nabi Luth dan Nabi Syu’aib. Tetapi bisa saja Allah membianasakan umat Muhammad secara mental.

Maksudnya umat ini tidak dimusnahkan fisiknya, tetapi dalam keadaan hidup, sekalipun melakukan dosa dan maksiat yang menyebabkan kehancuran dan kebinasaan. Namun walaupun banyak jumlahnya, melimpah ruah kekayaannya, di sisi Allah tidak ada nilainya sama sekali. Musuh-musuhnya tidak merasa takut, serta kawan-kawannya tidak merasa hormat. Inilah yang diberitakan Rasulullah ketika umat ini takut mengatakan yang hak dan tidak mencegah orang-orang berbuat zalim.

Artinya: Dari Abdullah bin Umar, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Apabila kamu melihat umatku tidak mau mengatakan kepada orang-orang yang berbuat zalim di antara mereka, ‘Kamulah orang yang berbuat zalim’, maka mereka dibiarkan dalam kemaksiatan dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad)

Demikian khutbah jumat yang kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi saya dan jamaah sekalian. Menambah iman dan taqwa kita pada Allah Ta’ala dan semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan pada kita hidayah-Nya hingga kita dimatikan dalam keadaan khusnul khatimah.

KHUTBAH KEDUA

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Demikianlah sebagaimana Allah memberikan peringatan kepada kita semua, umat Islam lewat lisan Rasul-Nya Muhammad bahwasanya betapa pentingnya amar makruf nahi munkar. Dengannya kebaikan seluruh elemen masyarakat akan terjaga jika ditegakkan dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, jika ditinggalkan akan berakibat kemunduran dan kehancuran suatu masyarakat.

Marilah kita memohon kepada Allah agar diberi kekuatan untuk melaksanakan amar makruf nahi munkar dan disingkirkan dari perkara-perkara yang menghalanginya. Juga di hati kita semua diteguhkan perasaan cemburu dan tidak suka ketika larangan Allah dilanggar dan kemungkaran merajalela.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan