Bentuk Penyimpangan Aqidah Dan Cara Mengatasinya

207,567

BERANIDAKWAH.COM | Bentuk Penyimpangan Aqidah Dan Cara Mengatasinya. Penyimpangan aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi prasangka dan keragu-raguan yang lama-kelamaan mungkin menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan. Sehingga hidupnya terasa sempit dan ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan menyudahi hidupnya atau bunuh diri.

Masyarakat yang tidak dipimpin dengan aqidah yang benar merupakan masyarakat bahimi (hewani), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia, sekali pun mereka bergelimang harta tetapi terkadang justru menyeret mereka pada kehancuran, sebagaimana yang kita ketahui pada masyarakat jahiliyah jaman dulu. Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar kecuali Allah Ta’ala.

Allah berfiman:

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih.” (QS. Al Mu’minun: 51)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbilah berulang-ulang bersama Daud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah ayamannya, dan kerjakanlah amalan yang shalih. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba’: 10-11)

Maka kekuatan aqidah tidak boleh dipisahkan dari kekuatan madiyah (materi). Dan jika hal itu dilakukan dengan menyeleweng kepada aqidah yang batil, maka kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti pada negara-negara kafir yang memiliki materi melimpah namun tidak memiliki aqidah yang benar/ shalih.

Sebab-sebab penyimpangan dari aqidah shahihah yang harus kita ketahui adalah

1. Kebodohan terhadap aqidah shahihah, karena tidak mau mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya. Sehingga tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal aqidah shahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikannya. Akibatnya, mereka menyakini yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai yang haq. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Khalifah Umar bin Khattab:

“Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan.”

2. Ta’ashshub (fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekali pun itu batil, dan mencampakkan apa yang menyalahinya, sekalipun hal itu benar. Sebagaimana difirmankan oleh Allah:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al Baqarah: 170)

3. Taqlid buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang telah terjadi pada golongan-golongan seperti Mu’tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka ber-tauhid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam sesat, sehingga mereka juga ikut sesat dan akhirnya jauh dari aqidah yang benar.

4. Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih, serta mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya, sehingga menyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun menolak kemudharatan. Juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara Allah dan makhluk-Nya, sehingga sampai pada tingkatan menyembah wali dan bukan menyembah Allah.

Mereka ber-taqqarub kepada kuburan para wali itu dengan hewan qurban, nadzar, doa, istighatsah dan meminta pertolongan. Sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh terhadap orang-orang shalih ketika mereka berkata:

“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr’.” (QS. Nuh: 23)

5. Ghaflah (lalai) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat raya ini (ayat-ayat Kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam Kitab-Nya (ayat-ayat Qur’aniyah). Di samping itu juga terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata. Sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan:

 “Sesungguhnya aku diberi harta hanyalah karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al Qashash: 78)

Atau sebagaimana perkataan orang lain yang sombong:

“Sesungguhnya  aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” (QS. Az Zumar: 49)

Mereka tidak berpikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan-keistimewaan alam serta memfungsikannya demi kepentingan manusia.

6. Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pengarahan yang benar sesuai dengan syariat Islam. Padahal baginda Rasulullah telah bersabda:

“Setiap bayi dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Jadi orangtua mempunyai peranan besar dan penting dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya.

7. Kemajuan teknologi dan budaya barat yang semakin menggerogoti pikiran generasi bangsa. Banyaknya media-media informasi seperti televisi, radio, dan media online yang menyajikan materi-materi yang jauh dari akidah. Tidak dipungkiri bahwa hal ini juga merupakan cara dari orang-orang kafir untuk merusak akidah generasi bangsa dari dalam. Menggunakan media adalah cara paling cepat dan mudah untuk menjauhkan mereka dari ajaran Islam.

Terlebih lagi munculnya banyak aplikasi dan game-game yang berbau merendahkan Islam tersemat didalamnya semakin diminati generasi muda lantaran permainannya yang menyenangkan. Dari sinilah sebenarnya peran orang tua juga penting, mengontrol dan memfasilitasi anak-anaknya secara wajar hingga tidak keluar batas dari ajaran Islam.

Cara-Cara Mengatasi Penyimpangan Ini

1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah untuk mengambi aqidah shahihah. Sebagaimana para Salaf Shalih mengambil aqidah mereka dari keduannya. Tidak akan dapat memperbaiki akhir umat ini kecuali apa yang telah memperbaiki umat terdahulu. Juga dengan mengkaji aqidah golongan sesat dan mengenal syuhbat-syuhbat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa yang tidak mengenal keburukan, ia dikhawatirkan akan terperosok kedalamnya.

2. Memberi perhatian pada pengajaran aqidah shahihah, aqidah salaf, diberbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan di rumah, sekolah maupun media-media informasi lainnya.

3. Harus ditetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelajaran. Sedangkan kitab-kitab sesat/ menyimpang harus dihindarkan dan dimusnahkan.

4. Menyebarkan para dai yang meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan aqidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh aqidah batil.

5. Peran pemerintah dan seluruh elemen lapisan masyarakat bekerja sama untuk mengontrol program-program yang jauh dari aqidah. Dan memperbanyak pembelajaran aqidah yang lurus.

Semoga bermanfaat.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan