Bicara Kotor Dan Jorok (al Fuhsyu) Hanya Untuk Diketawai

35,407

BERANIDAKWAH.COM | Bicara Kotor Dan Jorok (al Fuhsyu) Hanya Untuk Diketawai. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang bicara jorok dan orang yang punya kebiasaan bicara jorok. Dan demi Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, hari Kiamat tidak akan terjadi sampai ucapan kotor dan kebiasaan bicara jorok merajalela, juga banyaknya pemutusan silaturahmi dan jeleknya hubungan bertetangga.”

(HR. Ahmad dan Al Hakim, dinilai shahih oleh Imam al Hakim dan Adz Dzahabi)

Kata al Fuhsyu memiliki makna segala sesuatu yang terlalu berlebihan dan kelewat batas hingga menjadi tercela, baik itu ucapan ataupun perbuatan. Sedang at tafahusy artinya kegemaran melakukan perbuatan yang kelewat batas tersebut. Hanya saja, kata al fuhsy lebih dominan digunakan untuk menyebut perkataan yang jorok, menjurus kepada perzinaan dan bersifat vulgar.

Sebagaimana dijelaskan oleh banyak ulama, salah satunya adalah Imam al Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumudinnya. Adapun at tafahusy adalah kegemaran atau kebiasaan bicara kotor. Menjamurnya kebiasaan buruk ini merupakan tanda dekatnya kiamat. Dan poin inilah yang akan menjadi pembahasan pada postingan kali ini.

Omongan jorok, lelucon laris manis

Imam ad Dawudi memaknai at tafahusy dengan “bicara kotor agar diketawai orang” (Fathul Bari: 17/176). Benar apa yang beliau katakan, al fuhsyu memang paling sering dilakukan orang saat ingin melawak dan diketawai. Ungkapan-ungkapan verbal yang melampui batas menjadi jurus jitu untuk mengundang tawa.

Al fushyu dalam bentuk guyonan porno dan yang menjurus ke hal-hal “begituan” menjadi bumbu wajib bagi para pelawak untuk membuat penonton bergelak. Dalam bentuk sindiran maupun vulgar, bumbu ini seperti penyedap rasa yang tak boleh lupa untuk dituangkan dalam guyonan (candaan). Kalaupun ada sensor, itu hanya berlaku hanya pada satu atau beberapa kata vulgar saja. Padahal, akhir-akhir ini tontonan lawakan menjadi acara yang banyak digemari oleh penonton.

Selain ungkapan kotor, kata-kata yang kelewat batas menjadi jurus alternatif yang ampuh. Misalnya saja seperti melecehkan dan merendahkan orang lain atau bahkan diri sendiri secara berlebihan. Dan semua ini tidak hanya di tontonan televisi, dalam kehidupan sehari-hari pun hal semacam ini sudah sering terjadi.

Umpatan tanda keakraban?

Selain disajikan dalam bentuk guyonan, al fuhsyu juga kerap disajikan dalam bentuk umpatan. Kata-kata kotor dan porno, atau kalimat-kalimat buruk lainnya yang sering dijadikan pelampiasan kekesalan. Hewan-hewan kotor juga “organ-organ tubuh tertentu” adalah objek yang biasa di pakai untuk mengumpat.

Parahnya, ungkapan buruk semacam ini bukan hanya dilakukan saat kesal saja, melainkan sudah menjadi kebiasaan atau katakanlah, jadi cemilan. Bagi beberapa orang, kata-kata jorok dan umpatan, katanya justru menjad bumbu keakraban. Keakraban dan kedekatan mereka ditandai dengan saling lempar ejekan dan kata-kata kotor. Jika seseorang sudah bisa cuek atau ketawa saat diumpat dengan kata-kata kotor, saat itulah keakraban secara resmi terjalin.

Padahal sejatinya, keakraban semacam ini hanyalah keakraban semu. Tidak dijalin atau dilandasi dengan kasih sayang dan keimanan karena Allah. Itu tak lebih dari keakraban sementara binatang-binatang buas saat kenyang. Pada akhirnya jika perut mereka lapar, mereka akan berebut dan saling cakar.

Atau kalaupun di dunia bisa akrab, di akhirat keakraban yang dijalin atas kebusukan seperti itu akan berubah menjadi permusuhan yang sangat sengit. Allah berfirman yang artinya, “Orang-orang yang  sewaktu di dunia saling mencintai, pada hari itu, sebagian mereka akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)

Kata-kata kotor memutus silaturahmi

Untuk menjadi catatan bahwa belum menemukan penjelasan dari ulama mengenai adanya hubungan antara ketiga fenomena ini: ungkapan keji, pemutusan silaturahmi dan buruknya hubungan bertetangga. Namun, barangkali tidak salah jika kita memahami mungkin ada maksud yang ingin Nabi Muhammad sampaikan ketika menggabungkan ketiga fenomena ini dalam satu hadits.

Secara  logika, kata-kata keji dan tidak baik, atau lebih buruknya kata-kata kotor bisa menjadi pemicu putusnya hubungan silaturahmi dengan orang lain, bisa jadi keluarga sendiri ataupun tetangga. Faktanya sudah banyak sekali terjadi di lingkungan sekitar kita saat ini.

Mudahnya saja dengan tetangga, jika dalam lingkungan rumah kita memiliki tetangga yang suka berbicara kotor tentu akan membuat risih keluarga kita. Apalagi jika kita mempunyai anak kecil yang pada usia mereka belajar apa saja, termasuk menirukan perkataan. Ini akan menjadikan kita lebih khawatir lagi, sehingga dalam hal ini akan membuat hubungan bertetangga semakin renggang.

Ramadhan, time to change

Tanda kiamat ini menjadi peringatan bagi kita agar lebih waspada. Ungkapan porno, kata-kata kasar dan pembicaraan buruk yang lain hendaknya benar-benar di jauhi. Jika Anda merupakan orang yang sulit untuk menghilangkan kebiasaan bicara kotor, Ramadhan menjadi bulan perubahan untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut. Rasulullah bersabda:

“Shaum itu perisai, maka janganlah bicara kotor dan berbuat bodoh. Dan jika ada orang yang memancingnya, berkelahi atau mengumpatnya, katakanlah, “Aku sedang shiyam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu, marilah bersama-sama kita bersihkan lisan dari sampah-sampah omongan yang tidak berguna agar hati kita bersih dan pahala Ramadhan tidak berkurang. Ingat, bahwa kita akan dimatikan oleh Allah sesuai dengan kebiasaan kita lakukan sehari-hari dalam kehidupan, jangan sampai kita nanti di panggil oleh Allah dalam keadaan yang hina sehingga tempat kembali tidaklah surga, melainkan neraka. Na’udzubillah

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan