Hukum Qunut Dalam Shalat Shubuh

1,163

BERANIDAKWAH.COM | Hukum Qunut Dalam Shalat Shubuh?. Bukan bermaksud untuk membesar-besarkan perbedaan pendapat. Akan tetapi uraian ini adalah bagian dari bayan atau keterangan yang sifatnya ilmiah. Perbedaan pendapat dalam masalah ini juga bukan perbedaan dalam hal fundamen melainkan hanya persoalan furu’ atau cabang saja. Namun demikian, perlu kiranya kita mengkaji secara langsung perbedaan ini agar lebih paham, sehingga pilihan amal kita berlandaskan ilmu, bukan sekedar ikut-ikutan.

Tentang qunut dalam shalat shubuh, para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Syafi’iyah dan Malikiyah berpendapat bahwa qunut dalam shalat shubuh para rakaat kedua setelah ruku’ hukumnya sunnah. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Anas bin Malik berkata, “Senantiasa Rasulullah melakukan qunut pada shalat shubuh hingga akhir hayat beliau (wafat).” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al Daruquthi, al Hakim, al Baihaqi, al Baghawi dan yang lainnya.

Sedangkan madzhab Hanbali dan sebagian pengikut Hanafiyah berpendapat bahwa qunut dalam shalat shubuh tidak disyariatkan kecuali qunut nazilah, yang pelaksanaannya bukan pada shalat shubuh saja, melainkan pada shalat fardhu yang lain. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas, “Sesungguhnya Nabi tidak melakukan qunut kecuali ketika mendoakan keaikan atau keburukan kepada suatu kaum.” (HR. Ibnu Huzaimah)

Adapun Hanafiyah berpendapat bahwa qunut dalam shalat shubuh dan lainnya adalah mansukh (sudah dihapus hukumnya) dan termasuk perbuatan bid’ah. Yang lainnya berpendapat, boleh mekakukan qunut dan boleh pula meninggalkannya. Ini merupakan pendapat At Tsauri, Ibnu Jarir At Thabari dan Ibnu Hazm. Mereka berpendapat demikian setelah mengumpulkan beberapa hadits yang menyebutkan bahwa kadang Rasulullah pada shalat-shalat tertentu melakukan qunut dan di lain waktu meninggalkannya, hal ini menjadi pelajaran bagi umat bahwa mereka diperbolehka memilih antara mengerjakan atau meninggalkannya.

Dengan demikian melakukan qunut dalam shalat shubuh masih diperselisihkan hukumnya oleh para ulama, apakah termasuk sunnah atau bid’ah. Ulama yang berpendapat sunnah berdalil dengan hadits-hadits yang mereka anggap shahih dari Rasulullah. Sedangkan yang berpendapat bukan sunnah bahkan bid’ah menyebutkan bahwa hadits-hadits yang dijadikan landasan oleh mereka yang mensunnahkan qunut dalam shalat shubuh adalah lemah.

Diantaranya adalah hadits Anas di atas. Ada seorang perawi dalam hadits tersebut yang bernama Abu Ja’far ar-Razi. Menurut ulama ahli hadits, dia banyak berbuat salah dan kurang kuat hafalannya bahkan Ibnu Hibban menyebutkan: ia sering membawakan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang mansyhur. Dengan demikian haditsnya tidak bisa dijadikan landasan. Atau kalau ada hadits shahih yang dijadikan sandaran oleh mereka yang mensunnahkannya, maka yang dimaksud adalah qunut yang berarti berdiri lama dalam shalat, karena Rasulullah berdiri lama sekali dalam shalat shubuh setelah ruku’.

Begitu pula jika Rasulullah melakukan qunut dalam shalat shubuh sampai meninggal dunia, niscaya para sahabat terutama Khulafaur Rasyidin akan mengerjakannya. Kenyataannya tidak demikian, padahal mereka adalah orang-orang yang bersemangat dalam menjalankan sunnah Rasulullah.

Dari Abi Mijlaz, ia berkata: “Aku pernah shalat shubuh bersama Ibnu Umar, tetapi ia tidak qunut.” Lalu aku bertanya kepadanya: ‘Aku tidak lihat engkau qunuh shubuh?’ Ia jawab: ‘Aku tidak dapati seorang sahabat pun yang melakukan hal itu’.”

Imam Ibnul Mubarak berpendapat: tidak ada qunut di dalam shalat shubuh. Imam Abu Hanifah berkata: “Qunuh shubuh (terus menerus itu) dilarang.” Abu Hasan al-Kurajiy asy-Syafi’i, beliau tidak mengerjakan qunut shubuh. Ketika ditanya, “Mengapa demikian?” Beliau menjawab, “Tidak ada satu pun hadits yang sah tentang masalah qunut shubuh!”

Pendapat yang rajih (kuat/unggul) adalah tidak disyariatkan melakukan qunut shubuh secara terus menerus. Dengan kata lain ia adalah sunnah ‘aridhah (kadang kala) bukan sunnah daimah (langgeng). Beliau mengerjakannya karena sebab yaitu untuk mendokan kebaikan (kemenangan) bagi kaum muslimin dan mendoakan kecelakaan (kebinasaan) bagi kaum kafir atau musyrik yang menjadi musuh Islam, itulah yang disebut qunut nazilah dan beliau meninggalkannya sebab tersebut sudah tidak ada.

Lalu, bagaimana shalat dibelakang imam yang melakukan qunut shubuh?

Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berbeda pendapat tentang masalah ini. Imam Abu Hanifah berpendapat: makmum tidak perlu mengikuti imam. Alasannya bahwa qunut shubuh itu adalah hukum mansukh (yang telah dihapus), sebagaimana takbir ke lima pada shalat jenazah. Walaupun Abu Yusuf berpendapat bahwa makmum harus mengikuti imam, sebagaimana pendapat imam Ahmad, tetapi pendapat yang dipilih pada madzhab Hanafiyah adalah makmum berdiri diam saja.

Sedangkan Imam Ahmad berpendapat bahwa makmum mengikuti imam, alasannya agar makmum tidak menyelisihi imamnya. Karena para sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka terus menerus bermakmum kepada sebagian yang lain, padahal ada perselisihan di antara mereka dalam masalah furu’.

Syaikhul Islam berkata: “Oleh karena itulah sudah selayaknya bagi makmum untuk mengikuti imamnya terhadap perkara yang didalamnya menerima medan ijtihad. Maka jika imam qunut, hendaknya dia qunut bersama imam. Dan jika imam tidak qunut maka jangan qunut. Sebab Rasulullah bersabda: “Imam itu dijadikan untuk diikuti.” Dan beliau bersabda: “Janganlah kalian menyelisihi imam-imam kalian.” Dan juga telah shahih dari beliau bahwa beliau bersabda: “Mereka (para imam) shalat untuk kalian, maka jika mereka benar, maka (pahala itu) untuk kalian dan juga untuk mereka, dan jika mereka salah, maka (pahala) bagi kalian dan (dosa) atas mereka.”

Syaikh Utsaimin pernah ditanya tentang bagaimana sikap makmum ketika imam melakukan qunut shubuh? Beliau menjawab, “Boleh bagi makmum untuk mengikutinya dan mengaminkan doanya, tetapi jika dia shalat di belakang imam yang tidak berqunut itu lebih baik.” Wallahua’alam bis shawab

 

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan