Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq

1,430,233

BERANIDAKWAH.COM | Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar merupakan sosok yang mashur, beliau adalah sahabat pertama yang memeluk Islam, mendampingi Rasulullah berdakwah dan hijrah ke Madinah. Tak ada sahabat yang lebih dicintai oleh Rasulullah selain Abu Bakar.

Dalam artikel kali ini kami ingin menyampaikan sedikit biografi tentang beliau, Abu Bakar Ash Shiddiq. Semoga bermanfaat

#Nasab Abu Bakar Ash-Shiddiq

Nama Abu Bakar Ash-Shiddiq sebenarnya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr al-Quraisy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakeknya, Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai.

Dan ibunya adalah Ummu al-Khair, Salma bin Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim. Berarti ayah dan ibunya berasal dari kabilah Bani Taim. Ayahnya diberi kunyah Abu Quhafah, dan pada masa jahilliyah Abu Bakar Ash-Shiddiq digelari dengan Atiq. Imam ath-Thabari menyebutkan dari jalur Ibnu Lahi’ah bahwa anak-anak dari Abu Quhafah ada tiga orang: Pertama, Atiq (Abu Bakar Ash-Shiddiq), kedua Mu’taq dan ketiga Utaiq.

#Ciri Fisik dan Karakter Akhlak Abu Bakar

Abu Bakar adalah seorang yang bertubuh kurus dan berkulit putih. Aisyah menerangkan ciri fisik bapaknya dengan mengatakan, “Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggang (sehingga kainnya selalu melorot dari pinggangnya), wajahnya selalu berkeringat, hitam matanya, berkening lebar, memiliki urat tangan yang tampak menonjol, dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai daun pacar (inai) maupun daun pohon al-Katm.” Begitulah karakter fisik beliau.

Sedangkan karakter akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, selalu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, murah hati, penyabar, memiliki azimah (keinginan kuat), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan (nasab) Arab dan berita-berita tentang mereka, sangat bertawakal kepada Allah dan yakin dengan segala janji-Nya, bersifat wara’ dan jauh dari segala syuhbat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah, semoga Allah meridhainya.

#Abu Bakar Masuk Islam

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah lelaki merdeka yang pertama kali memeluk Islam, beliau didahului Khadijah yang lebih dahulu masuk Islam daripada beliau. Dari golongan anak-anak, Ali yang pertama kali memeluk Islam, sementara Zaid bin Haritsah adalah yang pertama kali memeluk Islam dari golongan budak.

Keislaman Abu Bakar Ash-Shiddiq paling banyak membawa manfaat besar terhadap Islam dan kaum Muslimin dibandingkan dengan keislaman selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta kesungguhannya dalam berdakwah yang besar. Dengan keislaman beliau, beliau diikuti oleh tokoh-tokoh besar yang masyhur seperti Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ustman bin Affan, Zubbair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Pada hari keislamannya, beliau menginfakkan di jalan Allah apa yang dimilikinya sebanyak 40.000 dirham. Beliau juga banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal bin Rabah, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubaisy, Zinnirah, Nahdiyyah dan kedua putrinya. Beliau selalu mengiringi Rasulullah selama di Makkah, bahkan beliaulah yang mengiringi Nabi ketika bersembunyi dalam gua dan dalam perjalanan hijrah hingga di kota Madinah. Di samping itu beliau mengikuti seluruh peperangan yang diikuti oleh Rasulullah, baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Makkah, Hunain maupun perang Tabuk.

#Istri-Istri Dan Putra-Putri Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd bin As’ad pada masa jahiliyah, dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma. Beliau juga menikahi Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin Dahman dari Kihanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan Aisyah.

Beliau juga menikahir Asma’ binti Umais bin Ma’ad bin Taim al-Khats’amiyyah, dan sebelum itu Asma’ binti Umais diperistri oleh Ja’far bin Abi Thalib. Dari hasil pernikahan ini lahirlah Muhammad bin Abu Bakar, dan kelahiran tersebut terjadi pada waktu haji wada’ di Dzul Hulaifah. Beliau juga menikahi Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair dari Bani al-Haris bin al-Khazraj.

Abu Bakar pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih terus bermukim dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh, hingga Rasulullah wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi Khalifah sepeninggal Rasulullah. Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Kultsum, setelah Rasulullah wafat.

#Jasa-Jasa Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang pertama kali masuk Islam dan selalu meneyertai Rasulullah sepanjang hidupnya, baik di Makkah maupun ketika di Madinah. Tidak hanya itu, beliau adalah sahabat Rasulullah sekaligus teman bermusyawarah dan wazir bagi beliau. Di tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq para senior sahabat masuk memeluk Islam seperti Utsman bin Affan, Adurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubbair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq setia mendampingi Rasulullah dalam menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan ketika mendakwahkan Islam, Abu Bakar siap membela beliau dengan sepenuh jiwa, bahkan beliau pula yang membebaskan budak-budak yang disiksa karena memeluk Islam.

Beliaulah yang menemami Nabi dalam perjalanan hijrah dan turut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah. Itu semua merupakan jasa-jasa yang telah Abu Bakar Ash-Shiddiq lakukan untuk Islam semasa Rasulullah ada. Dan ketika Rasulullah dipanggil oleh Allah, Abu Bakar Ash-Shiddiq juga lah yang menenangkan kegaduhan yang timbul dalam kalangan umat Muslim, termasuk juga Ummar bin Khattab yang sempat tidak percaya bahwa Rasulullah telah tiada.

Setelah menjabat sebagai Khalifah, maka beliulah yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap seluruh negeri Islam dan wilayah kekhalifahannya sepeninggal Rasulullah, dan disinilah tercatat sejumlah reputasi beliau yang gemilang, di antaranya:

1. Menginstruksikan agar jenazah Rasulullah diurus hingga dikebumikan

2. Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah yang sebelumnya telah dipersiapkan Rasulullah sebelum wafat.

3. Menyatukan persepsi seluruh sahabat yang memerangi kaum murtad dengan segala persiapan ke arah itu, kemudian menginstruksikan untuk memerangi seluruh kelompok yang murtad di wilayah mereka masing-masing.

4. Ibnu Katsir berkata, “Pada tahun 12 H Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengumpulkan al-Qur’an dan berbagai batu tulis (batu sabak), pelepah kurma, dan dari yang dihafal dalam dada kaum Muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari’ (penghafal al-Qur’an) banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah, sebagaimana telah disebutkan dalam kitan Shahih al-Bukhari.

Imam al-Bukhari berkata, Bab Pengumpulan al-Qur’an, kemudian beliau mulai menyebutkan sanadnya sehingga sampai kepada Ibnu Syihab dari Ubaid bin as-Shiddiq mengirim kepadaku surat tentang orang-orang yang terbunuh dalam perang Yamamah. Ketika aku mendatanginya, kudapati Umar bin Khattab berada di sampingnya, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq, ‘Umar mendatangiku dan berkata, ‘Sesungguhnya banyak para Qurra’ penghafal al-Qur’an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari’ yang masih hidup kelak terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat al-Qur’an, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an.’

Aku bertanya kepada Umar, ‘Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah?’ Umar menjawab, ‘Demi Allah, ini adalah kebaikan!’ Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuk segera melaksanakannya, akhirnya aku pun setuju dengan pendapat Umar.’

Zaid bin Tsabit berkata, ‘Kemudia Abu Bakar berkata kepadaku, ‘Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh amanah, dan engkau telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah, maka carilah seluruh ayat al-Qur’an yang berserakan dan kumpulkanlah!’ Zaid berkata, ‘Demi Allah, jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung, tentulah itu lebih ringan bagiku daripada melaksanakan instruksi Abu Bakar Ash-Shiddiq agar aku mengumpulkan al-Qur’an tersebut.’

Aku bertanya, ‘Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Demi Allah, ini adalah kebaikan!’ Dan Abu Bakar terus menyakinkan aku hingga Allah melapangkan dadaku untuk segera melaksanakannya sebagaimana Allah telah melapangkan dada mereka berdua.’

Maka aku mulai mengumpulkan al-Qur’an yang ditulis di pelepah-pelepah kurma, batu-batu tulis (batu sabak) dan dari hafalan para penghafal al-Qur’an. Kemudian al-Qur’an yang telah dikumpulkan dan dibukukan itu disimpan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga Allah mewafatkannya. Setelah itu berpindah ke tangan Umar sewaktu hidupnya, dan akhirnya berpindah tangan ke Hafsah putri Umar.

5. Pengiriman pasukan untuk menyebarkan Agama Allah kepada bangsa-bangsa yang bertetangga dengan kaum Muslimin, baik kepada penduduk Persia maupun penduduk Syam, dalam rangkai merealisasikan firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS. At-Taubah: 123)

#Usia Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ibnu Katsir berkata, ‘Usia Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat pada hari senin di malam hari, ada yang mengatakan bahwa beliau wafat setelah Magrib (malam selasa) dan dikebumikan pada malam itu juga yaitu tepatnya 8 hari sebelum berkakhirnya bulan Jumadil Akhir tahun 13 H, setelah beliau mengalami sakit selama 15 hari.

Pada waktu itu Umar menggantikan posisinya sebagai imam kaum Muslimin dalam shalat. Ketika sakit, beliau menuliskan wasiat agar tampuk pemerintahan kelak diberikan kepada Umar bin Khattab, dan yang menjadi juru tulis pada waktu itu adalah Utsman bin Affan. Setelah surat wasiat selesai, segera dibacakan kepada segenap kaum Muslimin, dan mereka menerimanya dengan segala kepatuhan dan ketundukan.

Masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq berlangsung selama 2 tahun 3 bulan. Beliau wafat pada usia 63 tahun, persis dengan usia Rasulullah. Akhirnya Allah mengumpulkan jasad mereka dalam satu tanah sebagaimana Allah mengumpulkan mereka dalam kehidupan. Sebelum wafat, beliau telah mewasiatkan agar seperlima dari hartanya disedekahkan, sembari berkata, ‘Aku akan menyedekahkan hartaku sejumlah yang Allah ambil dari harta fai’ kaum Muslimin.’

Ketika beliau dalam kondisi sekarat, ada yang berkata kepadanya, ‘Maukah Anda jika kami carikan seorang dokter?’ Maka spontan dia menjawab, ‘Dia telah melihatku (maksudnya Allah) dan Dia berkata, ‘Sesungguhnya Aku akan berbuat apa-apa yang Kukehendaki.’

Disebutkan bahwa sebab beliau jatuh sakit dan wafat adalah karena beliau dan al-Harits (seorang dokter yang masyhur) pernah memakan khazirah yang dihadiahkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka setelah memakan daging itu, al-Harits berkata, ‘Angkatlah tangan Anda wahai Khalifah Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya daging ini telah beracun, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq segera mengangkat tanganna da sejak itu keduanya selalu merasa sakit hingga akhirnya keduanya wafat satu tahun kemudian.’

Versi lain ada yang mengatakan bahwa sebab wafatnya beliau karena beliau mandi pada waktu musim dingin yang amat sangat , yang membuat beliau demam lalu wafat karena itu. Wallahu bis shawab.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan