Bolehkah Melihat Aurat Wanita Kafir?

96,552

BERANIDAKWAH.COM | Bolehkah Melihat Aurat Wanita Kafir?. Baru-baru ini ada opini yang berkembang bahwa aurat wanita kafir itu halal untuk dilihat. Bahkan sampai pada kesimpulan bahwa melihat video porno yang diperankan artis-artis kafir hukumnya mubah. Anehnya, opini ini justru berkembang di salah satu universitas yang berlabel Islam.

Terlepas dari argumen yang diutarakan, tampak sekali bahwa opini seperti ini tidak dikembangkan melainkan oleh orang yang sudah menyimpan ‘suul qashdi’ atau niatan buruk. Yakni muncul dari seorang yang mempunyai keinginan untuk memperturuti hawa nafsu, lalu mencari pengesahan dengan dalil atau argumen yang dianggap masuk akal. Karena memang penyimpangan itu terjadi, isa muncul karena suul qushdi (niat buruk) maupun suul fahmi (pemahaman yang buruk). Tapi ketika seseorang jelas sudah mempunyai niatan buruk, ia tidak segan-segan untuk mempopulerkan paham buruknya kepada khalayak ramai untuk mendapatkan dukungan.

Bagaimana pandangan Islam yang benar mengenai masalah di atas? Apakah memang benar ada argumen yang memperbolehkannya?

Di antara dalil yang mereka jadikan dalih yang memperbolehkan melihat aurat wanita kafir adalah firman Allah,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah ia menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, …” (QS. An-Nur: 31)

Perintah menutup aurat pada ayat di atas ditujukan kepada wanita mukminah dan bukan kepada wanita kafir. Dari sinilah akhirnya mereka berpendapat bahwa boleh melihat aurat wanita kafir, karena wanita kafir tidak diperintahkan untuk menutup aurat seperti wanita muslimah. Lalu logika hawa nafsu mereka kemudian berlanjut, karena wanita kafir boleh membuka aurat maka halal bagi seorang musli untuk melihat aurat mereka.

Memang, seruan untuk menutup aurat ditujukan kepada wanita mukminah, karena mereka sudah beriman dan harus menerima konsekuensi keimanannya. Sedangkan seruan kepada wanita kafir, yang paling logis adalah ajakan untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Karena tanpa iman, niscaya kebaikan sebesar gunung pun tidak ada artinya di sisi Allah Ta’ala. Dan seruan seperti ini banyak kita temukan dalam Al-Qur’an.

Jadi, ayat ini tidak menunjukkan kebolehan untuk melihat aurat wanita kafir. Bahkan di ayat sebelumnya menunjukkan larangan untuk tidak melihat aurat wanita kecuali mahramnya. Allah berfirman,

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)

Jelas bahwa di atas ditunjukkan bagi seorang muslim untuk menundukkan pandangan terhadap wanita berlaku umum, baik itu wanita kafir maupun wanita muslimah yang bukan mahramnya. Banyak hadits Nabi Muhammad yang menyebutkan perintah menundukkan pandangan, dan perintah mengalihkan pandangan dari wanita yang bukan mahram. Karena hal tersebut sudah masuk ke ranah zina mata.

Jarir bin Abdillah berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai pandangan yang tiba-tiba. Beliau menyuruhkan untuk memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim)

Sahabat Ali bin Abi Thalib juga menuturkan bahwa Rasulullah bersabda kepadanya, “Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Karena pandangan pertama (yang tidak disengaja) adalah untukmu (tidak berdosa), sedangkan pandangan berikutnya tidak halal untukmu.” (HR. Abu Daud)

Maka sudah jelas bahwa memandang aurat wanita yang bukan mahram itu dilarang secara umum, baik terhadap wanita kafir maupun wanita muslimah.

Tindakan Melampaui Batas

Di samping itu, menikmati kepuasan syahwat yang berhubungan dengan farji, hanya diberi laluan dua jalan, yakni terhadap istri dan yang kedua adalah dengan budak wanita yang dimiliki, sebagaimana firman Allah,

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mukminun: 5-7)

Menikmati wanita kafir untuk pemuasan syahwat, baik dengan cara melihat aurat mereka secara langsung maupun lewat video, apalagi berzina dengannya, semua itu masuk ke dalam katergori ‘melampaui batas’ dalam ayat tersebut, sehingga dihukumi haram.

Sebagian mereka yang masih  ngotot memperbolehkan melihat aurat wanita kafir karena ada yang berdalih dengan menyamakan wanita kafir sebagai budak, sehingga mereka halal juga untuk ‘dinikmati’. Mereka lupa, bahwa yang halal dalam ayat ini adalah ‘budak-budak yang dimiliki’, apakah arti porno yang kafir itu termasuk budak yang mereka miliki? Tampak jelas bahwa alasan ini hanya mengada-ada.

Belum lagi jika berbicara dampaknya yang seandainya bahwa melihat aurat wanita kafir itu halal, maka tak terbayangkan nafsu masyarakat menjadi semakin liar dan membahayakan, perzinahan akan berkembang pesat, saat ini saja banyak sekali kasus pemerkosaan yang marak di kalangan masyarakat, khususnya usia remaja.

Marilah kita menjadi umat yang berhati-hati dan cerdas dalam menelaah ajaran yang masih ambigu, tidak jelas dan bahkan terkesan menyesatkan. Tidak taqlid dengan perkataan ustad atau ulama saja yang mungkin sekarang ini banyak terkesan seperti mencari popularitas, marilah kita mengkaji Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan benar dari orang-orang yang tulus ikhlas mengajarkan Islam dengan benar.

Jangan lupa baca juga :

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan