Bukan Minal Aidin Wal Faizin, Berikut Doa Yang Di Sunnahkan

1,592,031

BERANIDAKWAH.COM | Bukan Minal Aidin Wal Faizin, Berikut Doa Yang Di Sunnahkan. ‘Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin’ – rasanya tidak ada yang lebih populer dari kalimat ini ketika momen Idul Fitri datang hingga habisnya bulan syawal. Ada yang menarik untuk dikupas dari kalimat tersebut. Tentang susunan kalimatnya, makna yang terkandung dalam kalimat itu, kebiasaan orang dalam melafalkannya dan termasuk asal usul dari mana kalimat itu di ucapkan ketika Idul Fitri.

Pertama, tentang lafal dan tulisan, kita sering dapatkan ada beberapa versi ungkapan yang terpajang di spanduk, kartu lebaran dan media cetak maupun online lainnya. Ada beberapa versi penulisan dan pelafalan dari kalimat itu, contohnya minal adzin wal faidzin, minal aizin wal faidzin, atau minal aizin wal faizin.

Tak semua memahami asal dari kalimat tersebut, atau sekedar tulisannya dalam versi Arab juga jarang didapatkan. Yang ada justru biasana versi tulisan latin dengan pilihan font yang seperti huruf Arab. Sebagian lagi mendapatkan hanya dari mulut ke mulut, sehingga ada sisi kesalahan ucap secara bahasa. Supaya lebih jelas, tulisan dalam bahasa Arab aslinya berbunyi

Arti minal ‘aidin wal faizin

Yang apabila ditulis ke dalam bahasa Indonesia sekurang-kurangnya adalah berbunyi Minal ‘aidin wal faizin.

Yang kedua, dari susunan kalimatnya. Kalimat tersebut sepertinya tidak menunjukkan sebagai jumlah mufiidah (kalimat sempurna) yang setidaknya memenuhi unsur Mubtada’ dan Khabar jika jumlah ismiyah (kalimat yang di awali dengan kata benda), atau fi’il dan fa’il jika berupa jumlah fi’liyah (kalimat yang di awali dengan kata kerja).

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Qaris Tajudin dalam buku berjudul, “Bahasa!” terbitan TEMPO. Di halaman 177 buku itu, Qaris Tajudin mengungkapkan bahwa memang frasa Minal Aidin Wal Faizin berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama Islam maupun Kristen.

Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frasa Minal Aidin Wal Faizin juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frasa ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia, tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam tema kata per kata.

Ungkapan tersebut seperti penggalan dari sebuah kalimat, atau ada yang tersembunyi di bagian awalnya. Mungkin dengan mengucapkan penggalan kalimat tersebut, yang diajak bicara sudah dianggap paham maksud dan arti secara keseluruhan. Dan sayangnya, kebanyakan kaum muslimin di Indonesia tidak banyak yang mengetahui penggalan awalnya. Karena memang bahasa Arab bukan menjadi bahasa yang dipahami kebanyakan kita. Sekurang-kurangya, penggalan awal dari kalimat tersebut berbunyi:

minal ‘aidin wal faizin

“Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faaiziin.”

Makna Kalimat Minal Aidin Wal Faizin

Poin ketiga yang menarik untuk dikupas adalah sisi maknanya. Dalam survey kecil-kecilan yang dilakukan, masyarakat mengartikan kalimat minal ‘aidin wal faizin dengan ‘mohon maaf lahir dan batin’. Atau silahkan pembaca semua mengecek ke orang terdekat, kebanyakan dari mereka akan menerjemahkan kalimat minal ‘aidin wal faizin dengan ‘mohon maaf lahir dan batin’. Padahal sejatinya kedua kalimat tersebut tidak mempunyai arti yang sama, bahkan jauh berbeda.

Adapun secara harfiah, makna penggalan kalimat ‘min’ artinya (termasuk dari), ‘aidin artinya orang-orang yang kembali (kepada Allah), wa artinya dan, sedangkan al-faizin maknanya golongan orang-orang yang sukses atau memperoleh kemenangan.

Jika digabung dengan penggalan kalimat pertama, maka makna “Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin” adalah semoga Allah menjadikan kami dan juga Anda termasuk golongan orang-orang yang kembali kepada Allah dan sukses (dalam mengisi Ramadhan). Sehingga dari kalimat tersebut secara makna tidak ada kaitannya dengan saling meminta maaf dan memaafkan, tapi berupa ungkapan untuk saling mendoakan.

Ucapan Yang Tepat Untuk Hari Raya Idul Fitri

Ungkapan minal ‘aidin wal faizin sama sekali tidak ada riwayat dari Nabi yang menyebutkan hal itu. Ungkapan tahniah (ucapan selamat) yang disebutkan atsarnya dari para sahabat adalah “Taqabballallahu minna wa minkum,” yang artinya semoga Allah menerima amal kami dan juga amal kalian.

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Dahulu para sahabat Nabi mengucapkan ‘Taqabballallahu minna wa minka’ ketika saling bertemu di hari Idul Fitri.” Al Hafidz (Ibnu Hajar) berkata tentang riwayat ini, “sanadnya hasan”. Syeikh al-Albani dalam Tamaamul Minnah mengomentari bahwa sanad dari riwayat ini shahih.

Tentang ucapan selamat dengan versi lain, di antara ulama seperti Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin membolehkan ucapan selamat dengan ungkapan ‘Ied mubarak dan semisalnya. Hanya saja, apa yang menjadi kebiasaan para sahabat tentu lebih baik. Wallahu a’lam.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan