Cara Menghitung Zakat Emas Dan Perak

307,091

BERANIDAKWAH.COM | Cara Menghitung Zakat Emas Dan Perak. Apabila pada emas dan perak serta pemiliknya telah terpenuhi syarat-syarat wajib zakat yang telah kami bahas pada artikel sebelumnya, yaitu telah mencapai nishab dan melewati haul dan lain sebagainya, maka zakat wajib dikeluarkan dari keduanya dan cukup dilakukan sekali dalam satu tahun.

Disebutkan dalam hadits Ali bin Abi Thalib, dari Nabi, beliau bersada, “Jika kamu memiliki dua ratus dirham dan telah mencapai haul, maka kewajibannya adalah lima dirham. Dan kamu tidak punya kewajiban apapun –yakni dalam emas- sebelum mencapai dua puluh dinar, jika kamu telah memiliki dua puluh dinar dan telah mencapai haul maka kewajibannya adalah setengah dinar.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i)

Rasulullah juga bersabda, “Tidak ada shadaqah pada perak yang jumlahnya di bawah lima uqiyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari dua hadits di atas bisa diambil faedah cara menghitung zakat emas dan perak:

  • Pertama: Nishab perak adalah lima uqiyah = 200 dirham perak murni = 595 gram perak. Sedangkan nishab emas adalah 20 dinar = 20 mitsqal = 85 gram emas 24 karat = 97 gram emas 21 karat = 113 gram emas 18 karat.
  • Kedua: Bahwa nishabnya itu harus melewati haul (satu tahun penuh kalender hijriyah) lebih untuk terkena wajib zakat.
  • Ketiga: bahwa zakat emas dan perak adalah 2,5% = 1/40

Contoh:

Seseorang memiliki 500 gram emas 24 karat, berapakah zakat yang harus dikeluarkan jika emas itu telah melewati masa satu haul?

Jawab: Karena emas yang dimiliki telah melebihi nishab (85 gram), maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah 500 gram x 1/40 = 12,5 gram.

Apakah emas harus digabungkan dengan perak untuk menyempurnakan nishab?

Jika seseorang memiliki sejumlah emas yang tidak mencapai nishab dan sejumlah perak yang juga dimiliki tidak sampai nishab, maka dalam masalah ini ulama mempunyai dua pendapat:

Pertama: Emas digabung dengan perak supaya nishab terpenuhi, setelah itu zakatnya dikeluarkan. Inilah pendapat jumhur ulama (madzhab Hanafi, Maliki, salah satu riwayat dari Ahmad, Ats-Tsauri dan Al-Azwa’i). Mereka beralasan karena manfaatnya sama, karena sama-sama barang berharga yang dijadikan alat tukar dalam jual beli.

Kedua: Tidak perlu digabung satu sama lain. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i, salah satu riwayat dari Ahmad, ucapan Abu Ubaid, Ibnu Abi Laila, Abu Tsaur, Ibnu Hazm, dipilih oleh Al-Albani dan merupakan pendapat yang rajih insya Allah. Mereka berargumentasi dengan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Keumuman sabda Nabi

“Tidak ada shadaqah pada apa yang tidak mencapai lima uqiyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan juga

“Kamu tidak berkewajiban apa-apa –yakni pada emas- sampai jumlahnya mencapai 25 dinar.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i)

Kedua hadits ini menunjukkan bahwa siapa yang menggabungkan emas dengan perak, berarti ia telah mewajibkan zakat pada sesuatu yang masing-masing belum mencapai nishab.

2. Qiyas terhadap sapi dan kambing, dimana masing-masing tidak bisa terpenuhi nishabnya dengan keberadaan yang lain, meskipun tujuan keduanya adalah pengembang-biakkan. Gandum sya’ir juga tidak bisa digabung dengan gandum burr, bahkan mereka yang mengatakan emas bisa digabung dengan perak pun mengakui hal ini. Sebab suatu jenis tidak bisa digabung dengan jenis lain yang berbeda, wallahu’alam.

Faedah:

Ada pengecualian di sini yakni harta tukang emas, di mana emas dan perak di sini digabungkan, bukan karena satu jenis digabungkan dengan jenis berbeda, tetapi karena maksud dari keduanya adalah sama yaitu perniagaan, maka keduanya dianggap sebagai barang perniagaan.

Kalaulah mengambil pendapat emas dan perak bisa digabung, apakah yang digabung bagian-bagiannya atau cukup nilainya?

Mereka yang berpendapat emas bisa digabung dengan perak berselisih kepada dua pendapat:

1. Malik, Abu Yusuf, Muhammad (bin Al-Hasan) dan Ahmad dalam salah satu riwayat berpendapat bahwa yang digabung adalah bagian-bagiannya. (Asy-Syarh Al-Mumti’).

Artinya, siapa yang memiliki emas separuh nishab dan perak separuh nishab, maka ia wajib membayar zakat. Begitu juga jika ia memiliki seperempat emas dan tiga perempat perak atau sebaliknya. Kemudian, masing-masing baik dari emas maupun perak, dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.

2. Abu Hanifah berpendapat bahwa yang digabungkan adalah nilainya dengan salah satu dari keduanya yang paling menguntungkan kaum fakir, yakni digabungkan yang lebih banyak kepada yang lebih sedikit.

Sebagai contoh: Jika seseorang memiliki perak separuh nishab dan emas yang hanya seperempat nishab, padahal seperempat nishab emas itu sama nilainya dengan setengah nishab perak, maka orang ini terkena zakat.

Sampai disini penjelasan mengenai cara menghitung zakat emas dan perak, semoga memberikan manfaat bagi pembaca semua. Jazzakumullah khorin katsir.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan