Bagaimana Cara Qashar Shalat Bagi Mustawthin?

40,710

BERANIDAKWAH.COM | Bagaimana Cara Qashar Shalat Bagi Mustawthin?. Ada sebuah kasus jika fulan berasal dari kota A dan bekerja di kota B. Dulu fulan tinggal bersama istri di kota B. Tapi sementara ini istri harus tinggal di kota C (kampung halamannya). Jarak antar tiga kota tersebut kira-kira 85 km, baik dari kota A ke kota B, atau dari kota B ke kota C.

Secara periodik, fulan pulang ke kota A dimana orangtua saya tinggal kemudian ke kota C lalu kembali lagi untuk bekerja di kota B. Pertanyaannya adalah di kota manakah fulan boleh meng-qashar shalat?

Jawab

Seseorang berstatus mustawthin sehingga ia wajib mengerjakan shalat dengan sempurna dan tidak boleh meng-qasharnya adalah ketika ia berniat tinggal di suatu negeri dan disitulah ia menempatkan keluarganya. Ini berlaku meskipun ia jarang pulang atau hanya bermalam dua sampai tiga hari saat pulang.

Dari cerita diatas, dapat disimpulkan bahwa semual fulan mustawthin di kota A, kemudian di kota tempat kerja, ketika fulab tingga disana bersama istri, dan kini status bermustawthin fulan adalah di kota C.

Oleh sebab itu, ketika fulan tinggal bersama keluarga di kota C, fulan tidak mendapatkan rukhshah qashar shalat. Sedangkan saat fulan mengunjungi orangtua di kota A dan kembali ke kota B untuk bekerja, status fulan adalah musafir. Fulan mendapatkan rukhsah qashar shalat di dua kota tersebut asalkan Fulan tidak berada di sana lebih dari empat hari.

Menurut para ulama madzab Maliki dan Syafi’i, empat hari selain hari tiba dan pergi. Menurut para ulama madzab Hambali, empat hari termasuk hari tiba dan hari pergi. Imam Ahmad sendiri berpendapat apabila seseorang berniat menetap di suatu daerah lebih dari 21 shalat fardhu, status musafirnya hilang.

Dengan singgah di suatu kota lebih dari empat hari status musafir fulan berubah menjadi mukim. Para ulama seperti Imam Syafi’i, Ibnu Taymiyah, dan Ibnu Qayyim menyatakan bahwa seorang mukim tidak mendapat rukhshah yang didapat dari musafir, yaitu meng-qashar shalat dan berbuka puasa.

Lebih lanjut, para ulama menerangkan bahwa mukim ada dua. Mukim yang berniat untuk tinggal di suatu negeri untuk waktu tertentu dan mukim yang berniat tinggal tetapi tidak dapat menentukan berapa lama ia tinggal. Para ulama sepakat barangsiapa yang berniat tinggal tanpa menyebut batasan waktu maka ia mendapatkan rukhshas qashar. (Oleh : Ustadz Abu Zufar Mujtaba)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan