Khutbah Jumat: Ciri-Ciri Ulama Pewaris Nabi

602

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang cir-ciri ulama pewaris nabi. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Jum’at Yang Dimuliakan Allah!

Marilah kita selalu mengulangi ucapan rasa syukur kepada Allah karena nikmat-nikmat-Nya yang telah tercurahkan kepada kita semua, sehingga kesehatan jasmani dan ruhani masih menghiasi kita. Semoga rasa syukur yang kita panjatkan ini menjadi kunci lebih terbukanya pintu-pintu karunia-Nya.

Allah berfirman,

QS. Ibrahim Ayat 7

Artinya: “Jika kalian bersyukur, maka akan Kami tambahkan bagimu dan jika kamu mengingkarinya, sesungguhnya siksaan-Ku itu sangat pedih.”

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan pada nabi junjungan, nabi besar Muhammad shallallahu alaihi wassallam, beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikut setia beliau hingga akhir zaman.

Kami wasiatkan juga kepada para jamaah dan diri saya sendiri, agar senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’la. Tujuannya adalah agar iman dan taqwa tersebut mengakar kuat dan kokoh di lubuk hati yang paling dalam. Sebab itulah modal yang hakiki untuk menyongsong kehidupan abadi, agar hari-hari kita nanti bahagia.

Jamaah Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Sesungguhnya para ulama seperti bintang di langit. Lewat tangan mereka manusia mendapat petunjuk. Mereka yang menjelaskan kepada umat ini jalan dan keistiqamahan di atas petunjuk tersebut. Dengan mereka pula umat paham tentang kemungkaran dan cara menjauhinya. Mereka ibarat hujan yang turun di atas tanah gersang sehingga menumbuhkan berbagai tanaman yang bermanfaat.

Ulama yang shalih serta komitmen terhadap dinnya adalah pewaris para nabi. Mereka yang akan mengarahkan dan menuntun umat dari kegelapan menuju cahaya. Mereka lentera-lentera kehidupan ini. Sebagaimana sabda Rasulullah:

HR. Ibnu Majah No 209

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami [Nashr bin Ali Al Jahdlami] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Daud] dari [‘Ashim bin Raja` bin Haiwah] dari [Dawud bin Jamil] dari [Katsir bin Qais] ia berkata; “Ketika aku sedang duduk di samping [Abu Darda] di masjid Damaskus, tiba-tiba datang seseorang seraya berkata; “Hai Abu Darda, aku mendatangi anda dari kota Madinah, kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena satu hadits yang telah sampai kepadaku, bahwa engkau telah menceritakannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam! ” Lalu Abu Darda bertanya; “Apakah engkau datang karena berniaga?” Katsir bin Qais menjawab; “Bukan, ” Abu Darda` bertanya lagi, “Apakah karena ada urusan yang lainnya?” Katsir bin Qais menjawab; “Bukan, ” Katsir bin Qais berkata; “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, Allah akan permudahkan baginya jalan menuju surga. Para Malaikat akan membentangkan sayapnya karena ridla kepada penuntut ilmu. Dan seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air. Sungguh, keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar.”

Demikian tingginya kedudukan ulama di dalam Islam sehingga Rasulullah menyebut mereka pewaris para nabi. Di tangan mereka risalah ini akan menyebar sampai ke hati-hati para hamba dan menyelamatkan mereka dari kegelapan jahiliyah dan menuntun mereka ke Surga.

Jamaah Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Perlu diketahui bahwa di samping ada ulama pewaris nabi, ada juga ulama su’ yang menjual akhirat mereka untuk mendapatkan secuil dari dunia. Mereka jual agama ini kepada para penguasa, berfatwa dalam rangka mencari ridha penguasa sehingga tersesatlah umat karena lisan-lisan dan tulisan mereka.

Rasulullah bersabda dalam haditsnya

Artinya: “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati, lisan mereka lebih manis dari gula, namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Allah berfirman, “Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang Ku-berikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Dirik-Ku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka sehingga mereka tidak mampu melespakan diri darinya).” (HR. At Tirmidzi)

Ulama su’ adalah peringkat ulama yang paling rendah, paling buruk dan paling merugi. Semua itu dikarenakan mereka mengajak kepada kejahatan dan kesesatan, menampilkan keburukan dalam bentuk kebaikan, menggambarkan kebatilan dengan gambar sebuah kebenaran. Mereka menjilat para penguasa dan orang-orang zhalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, penghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka. Atau ada juga yang melakukan itu karena sengaja menentang Allah dan Rasul-Nya demi menciptakan kerusakan di muka bumi ini. Mereka tidak lain adalah para khalifah setan dan para wakil Dajjal.

Jamaah Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Ciri Ulama Pewaris Nabi

Marilah kita membahas sifat-sifat ulama yang menjadi pewaris para nabi dan menjadi pembimbing umat menuju jalan yang lurus:

Pertama, mereka menjauhi penguasa dan menjaga diri dari mereka

Hudzaifah bin Yaman berkata: “Hindari oleh kalian tempat-tempat fitnah.” Dia ditanya, “Apa itu tempat-tempat fitnah?” Dia menjawab, “Pintu-pintu para penguasa. Salah seorang di antara kalian masuk menemui seorang penguasa, lantas dia akan membenarkan penguasa itu dengan dusta dan menyatakan sesuatu yang tidak ada padanya.”

Sain bin Musayyib menegaskan, “Jika kamu melihat seorang alim bergaul dengan penguasa, maka hati-hatilah darinya karena sesungguhnya dia adalah pencuri.” Sebagian salaf menjelaskan, “Tidaklah kamu mendapatkan sesuatu kehidupan dunia (dari para penguasa), melainkan mereka telah memperoleh dari agamamu sesuatu yang lebih berharga darinya.”

Betapa banyak kita saksiksan para ulama yang menjadi teman dekat para penguasa telah merubah hukum dan aturan-aturan Islam. Yang halal diharamkan, sebaliknya yang haram dihalalkan.

Kedua, mereka tidak terburu-buru dalam berfatwa (sehingga mereka tidak berfatwa kecuali setelah menyakini kebenarannya)

Adalah para salaf saling menolak untuk berfatwa sampai pertanyaan kembali lagi kepada orang yang pertama (ditanya).

Abdurrahman bin Abi Laila menceritakan kisahnya, “Aku pernah mendapati di masjid (nabi) ini 120 orang sahabat Rasulullah. Tidak ada seorang pun dari mereka saat ditanya tentang suatu hadits atau fatwa melainkan dia ingin saudaranya (dari kalangan sahabat yang lain) yang menjawabnya. Kemudian tibalah masa pengangkatan kaum-kaum yang mengaku berilmu saat ini. Mereka bersegera menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalau seandainya pertanyaan ini dihadapkan kepada Umar bin Khattab, niscaya beliau mengumpulkan ahli Badar untuk diajak bermusyawarah dalam menjawabnya.”

Sedangkan hari ini kita lihat banyak orang gampang berfatwa. Bahkan mereka tidak segan menjawab berbagai pertanyaan yang tidak mereka ketahui karena malu pamor mereka turun. Persis keadaan kita hari ini dengan sebuah hadits Rasulullah:

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga bila tidak tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu. Mereka pun sesat dan menyesatkan (orang lain).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, mengamalkan ilmunya

Orang yang berilmu tapi tidak mau mengamalkan ilmunya seperti orang-orang Yahudi. Sebaliknya, beramal tanpa ilmu menyerupai orang-orang Nasrani. Kita diajarkan oleh Allah Ta’ala untuk selalu berdoa dalam shalat kita:

Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan buka (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah: 6-7)

Seorang ulama tidak hanya dilihat dari omongannya. Tetapi yang lebih diperhatikan oleh para muridnya adalah perbuatannya. Apa artinya omongan yang lantang dan tegas serta memukai akan tetapi amalannya jauh dari apa yang disampaikan.

Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya manusia semua pandar bicara, maka barangsiapa ucapannya sesuai dengan perbuatannya, itulah orang yang mendapatkan bagiannya, dan barangsiapa perbuatannya menyalahi ucapannya maka sesungguhnya dia sedang mencaci dirinya.” (Jami’ Bayan Al-Ilmi I/696)

Abu Darda berkata:

Artinya: “Engkau tidak akan menjadi seorang alim hingga engkau menjadi orang yang belajar. Dan engkau tidak dianggap alim tentang suatu ilmu, sampai engkau mengamalkannya.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

Artinya: “Seorang alim senantiasa dalam keadaan bodoh hingga dia mengamalkan ilmunya. Bila dia sudah mengamalkannya, barulah dia menjadi alim.” (Awa’iq Ath-Thalab)

Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita kekuatan untuk memilih para ulama yang baik. Jika kita hari ini Allah takdirkan menjadi seorang guru ataupun uztadz dan juga ulama, kita berusaha untuk memenuhi sifat-sifat tersebut.

Demikian khutbah jumat yang kami sampaikan. Ada benarnya datangnya dari Allah Ta’ala, dan jika ada salahnya datangnya dari saya karena bisikan setan.

KHUTBAH KEDUA

Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, “Orang-orang telah banyak yang tertipu di hari ini tentang siapakah ulama yang jujur. Mereka mengira bahwa ulama adalah yang pandai berdebat dan mengolah kata-kata. Inilah kebodohan! Lihatlah para sahabat yang agung dan para ulamanya seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Mu’adz, Zaid bin Tsabit. Mereka tidak lebih sedikit perkatannya dibandingkan Ibnu Abbas. Akan tetapi mereka lebih pandai dari Ibnu Abbas. Demikian pula para tabiin lebih banyak perkatannya, akan tetapi para sahabat lebih pandai dibandingkan mereka.”

Bukankah ilmu itu dengan banyaknya riwayat dan perkataan. Akan tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah pancarkan dalam hati seorang hamba. Dengannya pemiliknya dapat membedakan antara yang haq dan batil.

Seorang salaf mengatakan, “Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah bukakan pintu amal dan Allah tutup pintu debat. Dan jika Allah berkehendak pada seseorang suatu kejelekan, Allah bukakan pintu debat dan Allah tutup pintu amal.”

Semoga Allah memberik kita ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan