Doa Pergi Dan Pulang Berkendaraan Ketika Safar

40,919

BERANIDAKWAH.COM | Doa Pergi Dan Pulang Berkendaraan Ketika Safar. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi setiap muslim, bahka ia juga syifaaun, penawar bagi penyakit. Sudah selayaknya setiap muslim mengambilnya untuk menunjuki setiap jengkal kehidupannya, serta menjadikan obat dari setiap penyakit yang diderita. Siapa yang meninggalkannya pasti tersesat dan siapa yang mengabaikannya tak akan selamat.

Simak firman Allah dalam surat Thaha berikut,

“…lalu barang siapa yang mengikuti pentujuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. At Thaha: 123-124)

Ya, barang siapa yang mengikuti kitab-Nya dan rasul-Nya, maka ia beruntung dan bahagia. Barang siapa menyelesihi petunjuk, bahkan memilih petunjuk selain dari-Nya, maka kehidupannya akan sempit, susah, dan di akhirat pun celaka dan menderita.

Safar atau berpergian merupakan rutinitas yang dilakukan manusia. Allah menciptakan sarana-sarananya agar manusia mudah bertebaran dan mendapatkan kebutuhannya. Petunjuk yang terbaik ketika seorang hendak safar adalah apa yang ada dalam al-Qur’an dan sebagaimana diteranangkan dan dipraktekkan oleh Rasul-Nya Muhammad.

Allah berfirman dalam surat Az-Zuhruf,

“…Dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi, supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Rabbmu. Apabila kamu telah duduk di atasnya, dan (supaya) kamu mengucapkan, “Maha suci Rabb yang telah menundukkan semua ini bagi Kami padahal sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.” (QS. Az Zuhruf: 12-14)

Ibnu Umar mengabarkan kepada kita bagaimana Rasulullah menafsirkan ayat di atas dalam bentuk praktik, Ibnu Umar berkata:

Apabila Rasulullah telah berada di atas kendaraan hendak berpergian (safar), maka terlebih dahulu beliau bertakbir sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membaca doa sebagai berikut:

“SUBHAANALLADZI SAKHKHARA LANAA HAADZA WAMAA KUNNAA LAHU MUQRINIIN WA INAA ILAA RABBINA LAMUNQALIBUUN. ALLAHUMMA INNAA NASALUKA FI SAFARINAA HADZAL BIRRA WAT TAQWA WA MINAL ‘AMALI MAA TARDLA. ALLAHUMMA HAWWIN ‘ALAINAA SAFARANAA HADZA WATHWI ‘ANNA BU’DAHU. ALLAHUMMA ANTASH SHAAHIBU FIS SAFARI WAL KHALIIFATU FIL AHLI WA’TSAA ‘IS SAFARI WAKA ‘AABATIL MANZHARI WA SUU’IL MUNQALABI FIL MAAL WAL AHLI

Yang artinya:

“Maha suci Rabb yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini. Kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam berpergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga.”

Dan jika beliau kembali pulang, beliau membaca doa itu lagi dan menambahkan di akhir doanya sebagai berikut:

“AAYIBUUNA TAA’IBNUUNA ‘AABIDUUNA LIRABBINAA HAAMIDUUNA” yang artinya “Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji Rabb kami” (HR. Bukhari)

Inilah sebaik-baik petunjuk yang seharusnya dicontoh setiap muslim, berdoa naik kendaraan ketika hendak safar atau bepergian jauh. Tidak malah melakukan ritual-ritual yang penuh dengan kesyirikan, ataupun pergi begitu saja tanpa dihiasi dengan petunjuk Nabi dan sibuk menyiapkan bekal perjalanan dunia melupakan bekal akhirat.

Dengan mengucapkan doa ini, seorang muslim mentauhidkan Allah, mensyukuri nikmat yang diberikan dan yakin ia akan kembali kepada-Nya. Ketika bisa mengendalikan tunggangannya, ia berterimakasih kepada Allah karena telah menundukkannya, tidak merasa sombong atas kemampuan yang dimilikinya. Perjalanan yang ditempuh di dunia pun mengingatkan bahwa sebenarnya ia juga sedang bepergian menuju Rabbnya. Maka tiadalah bekal terbaik melainkan kebajikan-kebajikan yang bisa dilakukan di dunia, dan mengamalkan amalan yang mendapatkan keridhaan-Nya.

Segala sesuatu ada dalam ilmu-Nya, maka manusia memohon segala kebaikan di dalam safarnya dan memohon dihindarkan dari segala keburukan yang mungkin menimpa. Ketika perjalanan kembali dan hendak sampai rumah, doa ini pun tetap dipanjatkan karena ia masih dalam safar, yang doa orang safar adalah mustajab, keluarga dan harta pasti dikhawatirkan keadaannya. Kemudian ditutup dengan menambahkan doa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah di atas.

Semoga Allah selalu menjaga langkah kaki kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya, dimudahkan untuk tetap beribadah dan memuji Allah Ta’ala. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan