Khutbah Jumat: Empat Sebab Orang Yang Merugi

3,652

BERANIDAKWAH.COM | Tema khutbah jumat pada kesempatan kali ini adalah tentang sebab orang yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga bermanfaat dan jazakallah khair.

KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Shalat Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Di kesempatan yang berbahagia ini kita tidak lupa mengingatkan hadirin sekalian agar selalu dalam keadaan taqwa dan berusaha meningkatkannya. Itulah sebaik-baik bekal. Sebaik-baik wasilah yang dapat kita gunakan untuk memohon kepada Allah kelonggaran dari kesempitan, kecukupan dari kekurangan, dan jalan keluar dan permasalahan hidup. Tidak lupa kita selalu memujinya dalam keadaan suka dan duka, sedih dan gembira, ridha maupun marah. Shalawat dan salam kita doakan kepada nabi Muhammad, keluarganya, para sahabat dan seluruh pengikutnya yang senantiasa istiqamah mengikuti risalah perjuangan beliau hingga akhir zaman.

Jamaah Shalat Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Sesuatu itu dianggap berharga jika memiliki nilai yang besar bagi manusia. Jika nilai tersebut hilang, maka manusia akan merasa sedih dan rugi. Semakin seseorang menganggap apa yang dia miliki tersebut berharga, maka semakin sedih dan rugi ketika yang dia anggap berharga itu hilang darinya. Memang sesuatu yang merugikan kita adalah sesuatu yang tidak mengenakkan. Bahkan bisa menjadikan kita sedih dan gundah gulana. Tidak sedikit di antara manusia yang imannya tipis harus berputus asa karena kerugian yang telah menimpanya.

Hari ini banyak orang yang merasa rugi saat harta yang dia miliki lepas darinya. Atau merasa gundah gulana dan sedih saat orang yang dia cintai hilang dari sisi mereka. Atau juga ada yang merasa benar-benar merugi saat jabatan yang dia usahakan dan diimpikannya hilang darinya dan diambil orang lain.

Allah Ta’ala menjelaskan kepada kita berbagai kerugian yang dialami manusia serta cara  menjauhinya. Kerugian yang paling besar adalah saat kerugian tersebut menimpa agamanya. Saat seseorang terjerembab pada perbuatan dosa dan maksiat, ibadah kepada Allah terasa hambar dan tidak merasakan kelezatan sama sekali. Kerugian ini adalah kerugian yang paling buruk, karena baik dan buruk din seseorang sangat mempengaruhi kehidupan seseorang dunia dan akhirat. Di antara sebab kerugian seseorang pada kehidupan akhirat antara lain:

Pertama, Taat Kepada Setan

Ini adalah dangkal kerugian dan kebangkrutan pada kehidupan seseorang. Allah Ta’ala berfirman

QS. An Nisa Ayat 119

Artinya: “dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.”

Imam As-Sa’di berkata, “Kerugian mana yang lebih besar dibandingkan orang yang rugi agamanya dan dunianya karena dibinasakan oleh kemaksiatan dan kesalahan-kesalahannya? Kemudian dia mendapatkan kesengsaraan yang abadi dan hilanglah darinya kesenangan yang abadi.”

Setan selalu mengajak untuk mendustakan hari Akhir, Al-Qur’an dan kebenaran, mengajak manusia untuk bersenang-senang terhadap kehidupan dunia dan lalai terhadap akhirat. Tidak hanya itu, setan mengkader para walinya untuk menjadi penyeru-penyeru kebatilan dan para penolong musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya.

Jika kita tanyakan kepada kaum muslimin, apakah setan menjadi musuh kita atau teman kita? Pasti mereka menjawab setan adalah musuh kami. Tetapi mengapa mereka masih senang terhadap setan dan mengikuti langkah-langkahnya? Mungkin karena kebodohan mereka atau nafsu mereka yang lebih kuat untuk mengikuti setan.

Sebab Yang Kedua, Mengikuti Teman Yang Buruk

Seseorang itu tidaklah jauh dari teman dekatnya. Jika dia memilih teman dekat yang baik, maka kebaikan akan menular pada dirinya. Sebaliknya, jika dia memilih teman dekat yang buruk, dia pasti akan tertular keburukannya. Allah Ta’ala berfirman:

QS. Fussilat Ayat 25

Artinya: “Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.”

Yang dimaksud dengan ada “di hadapan” ialah nafsu dan kelezatan di dunia yang sedang dicapai, sedang yang dimaksud dengan “di belakang” mereka ialah angan-angan dan cita-cita yang tidak dapat dicapai. Sedangkan taat kepada orang-orang yang rugi adalah kerugian yang besar. Maka lihatlah, betapa banyak kaum muslimin hari ini yang menaati orang-orang kafir munafik. Padahal mereka yakin bahwa orang-orang kafir dan munafik adalah orang-orang yang rugi.

Allah Ta’ala telah memperingatkan kita semua dalam ayat-Nya:

QS. Ali Imran Ayat 149

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.”

Tidka ada jalan lain, jika ingin menjauhi kerugian seharusnya kita menjauhi teman-teman yang buruk dan bahkan memusuhi mereka jika mereka memusuhi Allah dan rasul-Nya.

Lihat dulu: Waktu Yang Tepat Untuk Bertaubat

Sebab kerugian yang ketiga, tersibukkan dengan harta dan anak sehingga lupa terhadap kewajiban yang harus ditunaikan.

Allah Ta’ala berfirman tentang hal ini dalam Al-Qur’an

QS. Munafiqun Ayat 9

Artinya: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Pada ayat tersebut Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk memperbanyak mengingat-Nya. Karena hal tersebut merupakan sebab memperoleh keberuntungan dan kemenngan serta kebaikan yang banyak. Dia juga melarang kita untuk tidak menyibukkan dengan harta dan anak sehingga melalaikan dari mengingat-Nya. Mencintai harta dan anak adalah fitrah setiap orang, akan tetapi jika lebih mengutamakannya dibandingkan kecintaan pada Allah akan mengakibatkan kerugian yang amat besar. (Tafisr Ibnu Katsir)

Memang harta dan anak adalah sesuatu yang indah. Tetapi janganlah kecintaan kepada keduanya melalaikan kita dari ibadah. Karena memang Allah menguji setiap hamba dengan harta dan anak tersebut. Bagi orang yang lulus dalam ujian tersebut, Allah akan memberikan balasan surga. Sedangkan yang tidak lulus, bagi mereka kerugian yang besar.

Sebab kerugian yang keempat, meremehkann shalat wajib lima waktu

Rasulullah bersabda dalam haditsnya:

Artinya: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalatnya. Jika baik, dia telah beruntung dan berhasil. Dan jika rusak maka dia telah gagal dan rugi.” (HR. An-Nasa’i dan At Tirmidzi)

Di antara bentuk meremehkan shalat adalah tidak melaksanakan pada waktunya. Menunda-nunda shalatnya hingga hampir habis waktu shalat tersebut. Atau juga mereka yang tidak dengan tuma’ninah, tidak meluruskan punggung saat rukuk dan sujud. Shalat dengan cepat seperti ayam yang mematuk dan bentuk lain dari meremehkan shalat bagi seorang laki-laki adalah tidak melaksanakan shalat lima waktu dengan berjamaah di masjid.

Baca juga: 9 Golongan Yang Merugi Di Hari Kiamat

Jamaah Shalat Jumat Yang Dimuliakan Allah!

Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan dan kerugian, dan kita memohon pada-Nya keikhlasan dalam setiap ucapan dan amalan kita serta di kuatkan di atas kebenaran hingga ajal menjemput.

KHUTBAH KEDUA

Para nabi takut menjadi orang-orang yang merugi. Mereka juga menjauhkan keluarga dan umat dari kerugian-kerugian ini, memperingatkan umat untuk menjauhi sebab-sebab kerugian tersebut, serta mengajak di jalan kemenangan dan keberuntungan.

Mereka mengetahui bahwa kerugian karena dosa yang dilakukan anak Adam dalam kehidupan mereka akan membawa kepada murka Allah Ta’ala. Nabi Adam beristighfar karena takut mendapat kerugian disebabkan dosa yang beliau lakukan, yaitu saat beliau memakai pohon khuldi. Beliau berdoa:

QS. Al A'raf Ayat 23

Artinya: “Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Jika diri kita, keluarga dan juga masyarakat kita ingin mendapatkan ridha Allah, maka wajib bagi kita untuk meninggalkan berbagai hal yang menyebabkan kerugian tersebut. Tidak hanya itu, kita juga harus berusaha untuk selalu beristighfar dan bertaubat di atas segala dosa yang telah kita perbuat.

Tidak lupa juga senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala untuk dikuatkan dalam keimanan dan hidayah. Karena memang Allah menciptakan manusia dalam keadaan zhaluman jahula (sangat zalim dan bodoh), kecuali yang diberi petunjuk oleh Allah.

Demikian tadi sedikit pengingat untuk kita mengenai sebab orang yang merugi. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita, orang tua kita, dan keturunan kita di antara orang-orang yang beruntung. Dan semoga Allah Ta’ala menguatkan kita di atas kebenaran ini hingga ruh kita dipanggil-Nya.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan