Etika Menasehati Yang Benar Sesuai Tuntunan Islam

541,344

BERANIDAKWAH.COM | Etika Menasehati Yang Benar Sesuai Tuntunan Islam. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, selalu ada kelemahan dan kekurangannya. Setiap manusia pasti mempunyai kesalahan dan sebaik-baik mereka adalah yang bertaubat kepada Allah, menyadari kesalahannya, menyesal dan bertekad untuk tidak melakukan kesalahannya tersebut.

Oleh karena itu, saling menasehati dalam hal kebaikan dan kebenaran merupakan hal yang wajib bagi seorang muslim kepada saudaranya yang berbuat salah. Bagi yang diberikan nasehat sebaiknya menerima dengan ridha dan berterima kasih, dan yang memberikan nasehat dapat menyampaikan dengan baik sehingga tidak menyakiti saudaranya tersebut.

Pada umumnya banyak manusia yang tidak mau dipersalahkan, apalagi jika teguran tersebut disampaikan kepadanya dengan cara yang tidak baik, bukan menerimanya justru membuat pertengkaran. Untuk menghindari hal tersebut, Islam sudah mengajarkan bagaimana metode yang paling baik untuk memberi nasehat kepada orang lain. Yaitu dengan memberi nasehat kepada orang lain secara rahasia, hanya pemberi nasehat, yang diberi nasehat dan Allah lah saja yang tahu.

Contoh Ulama Yang Memberi Nasehat

Al Imam Ibnu Hibban berkata: “Nasehat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, sebagaimana telah kami sebutkan sebelum ini, tetapi dalam teknik penyampaiannya haruslah secara rahasia, tidak boleh tidak, karena barangsiapa yang menasehati saudaranya dihadapan orang banyak itu berarti dia telah mencelanya. Dan barangsiapa yang menasehati secara rahasia, maka sesunggugnya ia telah memperbaikinya. Sesungguhnya penyampaian dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun, lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan dengan maksud mencelanya.”

Dari Imam Ibnu Rajab, Fudhail bin Iyadh berkata: “Seorang mu’min menutup (aib saudaranya) dan menasehatinya sedangkann seorang fajir (pelaku maksiat) membocorkan (aib saudaranya) dan memburuk-burukkan.”

Demikian apa yang telah disampaikan oleh Fudhail bin Iyadh, ucapan yang mengandung nasehat itu adalah disampaikan secara rahasia, sedangkan menjelek-jelekan itu ditandai dengan penyiaran. Sebagaimana dikatakan, “Barangsiapa yang mengingatkan saudaranya di tengah-tengah orang banyak, maka ia telah menjelek-jelekannya.”

Jelas bahwa Allah melarang keras hambanya untuk menyebarluaskan aib saudaranya sebagaimana dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nur : 19)

Ada sebuah syair yang dinisbahkan kepada Imam Syafi’i:

“Hendaklah engkau sengaja mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian, hindarilah memberikan nasehat kepadaku di tengah khalayak ramai, karena sesungguhnya memberikan nasehat di hadapan banyak orang, sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya, jika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku, maka janganlah engkau kaget apabila nasehatmu tidak ditaati.”

Tak Harus Dilihat Orang

Walaupun demikian ada beberapa perkecualian yang membolehkan seseorang untuk menasehati orang lain di depan orang banyak. Salah seorang khatib dan imam masjid di kota Al-Khubar, Saudi Arabia dalam salah satu khutbah jumatnya mengatakan, “Ummat Islam, mereka itu memiliki kehormatan dan harga diri, oleh karena itu haruslah kita menjaga hak-hak dan kehormatan mereka, haruslah kita memelihara perasaan mereka, tapi kadang-kadang sesuatu nasehat yang akan engkau sampaikan kepada orang lain apabila engkau tunda, maka akan terlambat, maka harus sekarang juga engkau menasehatinya sebelum terlambat.”

Dari Jabir bahwasannya ia berkata: Sulaik Al Ghathafani datang (ke masjid) hari Jum’at dan Rasulullah sedang duduk di atas mimbar (dalam riwayat lainnya dari Imam Muslim, beliau sedang berkhutbah), maka Sulaik langsung duduk tanpa shalat lebih dahulu, maka Rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah melaksanakan shalat dua rakaat?” Ia berkata, “Belum”, maka beliau memerintahkan kepadanya, “Bangunlah dan shalatlah dua rakaat!”.

Ini bukanlah sedang memburuk-burukkan atau menyiarkan kesalahan orang tersebut, karena saat itu adalah waktu yang tepat untuk menasehatinya sebelum terlambat. Rasulullah memerintahkan kepada kaum muslim untuk shalat dua rakaat lebih dahulu sebelum duduk pada shalat jum’at.

Akan tetapi apabila memungkinkan bagimu untuk menunda nasehat sampai selesainya majelis, lalu engkau menasehati seseorang di hadapan orang lain di majelis tersebut, maka hal itu tidak benar. Pernah terjadi pada zaman Rasulullah, seseorang yang makan menggunakan tangan kirinya, maka Rasulullah menegurnya, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang tersebut menjawab, “Saya tidak dapat,” maka beliau mendoakan keburukan untuknya dengan mengatakan, “Semoga engkau tidak dapat,” maka langsung saja tangan orang tersebut lumpuh sehingga tidak dapat memasukan makanan ke dalam mulutya. Orang tersebut tidak mau mentaati perintah Rasulullah karena sombong.

Syaikh Salim Al-Hilali mengatakan tentang fiqh hadits di atas, diantaranya: “Boleh menasehati seseorang di hadapan orang banyak apabila di dalamnya ada kebaikan bagi semuanya.” Apabila terhadap teman, kita harus memiliki adab yang baik dalam menegurnya, maka lebih-lebih lagi apabila kita menegur seorang guru.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi berkata:

“Apabila seorang penuntut ilmu mendapatkan gurunya berbuat kesalahan maka janganlah menyebutkan kesalahan tersebut dengan terus terang, tetapi betulkanlah dengan cara bertanya sebagai seorang siswa terhadap gurunya, dan berbuat demikianlah berulang-ulang sampai terang bagi sang guru mana yang benar, karena kebanyakan manusia apabila engkau tegur secara langsung kesalahannya, kecil sekali kemungkinannya untuk rujuk, berat bagi dia untuk mengakuinya, kecuali orang yang dapat menguasi dirinya dan menghiasinya dengan akhlak yang terpuji,..”

Semoga kita menjadi seorang penasehat yang ketika memberikan nasehat bisa sangat membekas bagi orang yang kita nasehati. Sehingga dapat memberikan manfaat bagi saudara yang dinasehati dan dapat memberikan pahala bagi yang menasehati. Aamiin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan