Fatimah Az Zahra – Pemimpin Para Wanita Surga

439,996

BERANIDAKWAH.COM | Fatimah Az Zahra – Pemimpin Wanita Surga. “Beliau bercerita kepadaku bahwa:”Jibril ‘alaihissalam datang membacakan Al-Qur’an satu kali dalam setiap tahun, lalu dia ‘alaihissalam membacakan kepadaku dua kali untuk tahun ini dan aku tidak melihatnya melainkan sebagai isyarat bahwa ajalku sudah akan datang dan sesungguhnya kamu (Fatimah) adalah orang yang pertama yang akan menyusul aku di antara ahlul baitku”. Maka aku menangis karenanya, lalu beliau bersabda lagi:’’Apakah kamu ridha akan menjadi penghulu para wanita mu’min?. Maka aku menjadi tertawa karenanya.” (HR. Bukhari)

Ayahnya adalah manusia terbaik dan ibunya adalah wanita terbaik, ia adalah Fatimah binti Muhammad. Lahir di Ummul Qura (Makkah Al Mukarrahmah) saat orang-orang Quraisy memperbaiki Kabbah, tepatnya 5 tahun sebelum kenabian. Fatimah tidak dicarikan ibu susuan seperti kebiasaan bangsa Arab lainnya, tapi disusui oleh ibunya sendiri yaitu Khadijah. Fatimah tumbuh sebagai remaja terbaik menuruni sifat ibunya yang lembut, pemalu, menjaga kesucian diri, bijak, halus dan cerdas.

Ummu mukminin Aisyah berkata,”Aku tidak mengetahui orang yang penampilan, sikap dan perilakunya mirip Rasulullah selain Fatimah, semoga Allah memuliakannya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i)

Ketaqwaan dan kesucian selalu mengelilingi Fatimah semenjak ia membuka matanya, ia tumbuh lebih dewasa dan berwibawa, jiwanya tenang dan tegar. Hatinya sangat bersih, hanya keimanan yang menyelimutinya.

Maka tidak heran jika malaikat turun dan menyampaikan berita kepada Rasulullah bahwa Fatimah adalah pemimpin para wanita surga (HR. Hakim, dishahihkan adz Dzahabi). Lalu apa yang membuat Fatimah mendapatkan kedudukan yang begitu mulia dan tinggi? Tentu tidak semua kebaikan beliau bisa ditorehkan dalam artikel yang singkat ini.

Jika Rasulullah adalah pemimpin orang-orang bertaqwa lagi zuhud, tentu Fatimah termasuk wanita yang paling zuhud. Baginya gemerlap perhiasan dunia tidak melebihi sebutir debu. Suaminya, Ali bin Abi Thalib adalah Amirul Mukminin, orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan begitu juga sebaliknya.

Beliau Tetap Manusia Yang Tak Luput Dari Berkeluh Kesah

Bahwa Fatimah pernah mengeluh tentang apa yang di alaminya karena menumbuk dan menggiling tepung. Kemudian ia mendapat berita bahwa Rasulullah mendapatkan tawanan, maka ia datangi beliau sekaligus ia minta seorang pembantu namun beliau tidak setuju. Kemudia Fatimah menceritakan perkaranya kepada Aisyah, ketika Rasulullah datang Aisyah menceritakannya.

Maka beliau mendatangi kami berdua saat kami sudah masuk ke tempat tidur kami untuk beristirahat lalu beliau bersabda:”Tetaplah kalian disitu”. Hingga aku mendapatkan kedua kaki beliau yang dingin di dekat dadaku. Beliau bersabda:”Maukah kalian aku tunjukan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian pinta, yaitu jika kalian sudah berada di tempat tidur kalian, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, hamdalah (Alhamdulillah) tiga puluh tiga kali, dan tasbih (Subhaanallah) tiga puluh tiga kali karena sesungguhnya bacaan ini lebih baik dari apa yang kalian berdua minta.” (HR. Bukhari)

Inilah nasihat Rasulullah kepada putri tercinta Fatimah RA dan juga nasehat untuk para wanita muslimah sesudahnya. Fatimah dan Aisyah menyadari bahwa ridha Allah dan rasul-Nya jauh lebih bernilai daripada perhiasan dunia. Semboyannya adalah firman Allah,”Katakanlah, perhiasan dunia itu sedikit, dan akhirat lebih baik bagi orang bertaqwa.” (An Nisa : 77), hidup zuhud dan sederhana telah menjadi pilihan bersama suaminya.

Prestasi Berjihad

Di pentas jihad pun Fatimah tak tertinggal turut serta, di kisahkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, ketika di medan Perang Uhud wajah Rasulullah terluka dan gigi gerahamnya patah, saat itu Fatimah membersihkan darah yang mengucur dari kepala Rasul, dan Ali mengusapnya dengan air.

Ketika Fatimah tahu bahwa air itu tidak bisa menghentikan keluarnya darah dari kepala Rasulullah, bahkan semakin deras, lalu ia mengambil sobekan tikda dan dibakar hingga jadi abu. Lalu ditempelkan ke luka sehingga darah pun berhenti mengucur. Fatimah juga turut serta dalam Perang Khandaq dan Perang Khaibar.

 Sebelum Rasulullah meninggal, Fatimah dibisiki lebih dulu oleh Rasulullah yang membuat dirinya sedih sekaligus senang. Sampai-sampai Aisyah ingin mengetahui apa yang telah dibisikan ke Fatimah. Namun Fatimah tidak memberitahukan rahasia tersebut, sampai Rasulullah telah meninggal dan Aisyah bertanya sekali lagi perihal rahasia itu. Lalu Fatimah baru mau memberitahukan perkara apa yang dibiskan oleh Rasulullah hingga membuatnya sedih dan senang. Beliau (Rasulullah) bercerita kepadaku,

”Jibril ‘alaihissalam datang membacakan Al-Qur’an satu kali dalam setiap tahun, lalu dia ‘alaihissalam membacakan kepadaku dua kali untuk tahun ini dan aku tidak melihatnya melainkan sebagai isyarat bahwa ajalku sudah akan datang dan sesungguhnya kamu (Fatimah) adalah orang yang pertama yang akan menyusul aku di antara ahlul baitku”. Maka aku menangis karenanya, lalu beliau bersabda lagi:’’Apakah kamu ridha akan menjadi penghulu para wanita mu’min?. Maka aku menjadi tertawa karenanya.” (HR. Bukhari)

Demikian tadi sekelumit kisah teladan dari Fatimah RA, sang putri sekaligus pemimpin para wanita surga kelak. Semoga di akhir zaman saat ini masih kita dapati perempuan-perempuan seperti beliau, meskipun tidak sama persis namun bisa mengambil pelajaran dari sikap Fatimah yang pemalu, menjaga kesucian diri, bijak dan bertata krama yang baik. Aamiin

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan