Fiqh Nazilah: Hukum Berobat Dengan Khamr, Boleh Atau Tidak?

1,071

BERANIDAKWAH.COM | Bagaimana Hukum Berobat Dengan Khamr? Berobat dengan barang haram adalah masalah yang sering ditanyakan masyarakat tentang hukumnya, apakah diperbolehkan secara mutlak, atau dibolehkan dengan syarat-syarat tertentu atau bahkan diharamkan sama sekali.

Dalam hal ini, para ulama kontemporer masih berselisih pendapat di dalamnya, mengingat permasalahan iini belum dibahas oleh para ulama terdahulu secara luas. Mereka lebih banyak membahas salah satu sub dari pengobatan dengan khamr (minuman keras).

Untuk memudahkan pembahasan, kita bisa membaginya dalam tiga point:

Pertama: berobat dengan khamr atau barang haram murni (yang tidak dicampur dengan barang mubah) dan tidak dalam keadaan darurat hukumnya haram. Adapun dasar pengharamannya adalah:

Hadits Abu Darda, bahwasanya Rasulullah berkata, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan menurunkan obat, serta menyediakan obat bagi setiap penyakit, maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Abu Dawud)

Hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah melarang untuk berobat dengan barang haram. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadits Thariq bin Suwaid, ketika ia bertanya kepada Rasulullah tentang obat yang berasal dari khamr, maka Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ia (khamr tersebut) bukanlah obat, akan tetapi penyakit.” (HR. Muslim)

Sebagian kalangan menganggap bahwa khamr atau minuman keras bisa menghangatkan badan atau bisa mengobati rasa haus yang amat sangat, atau bahkan bisa menyembuhkan penyakit jantung. Akan tetapi anggapan ini tidak benar, karena banyak dokter yang menyatakan bahwa khamr atau minuman keras justru akan membuat badan dingin dan haus, serta menambah parah penyakit jantung. Bahkan dalam keputusan Mukhtamar Internasional Untuk Memerangi Minuman Keras yang ke-21 di Helsinki, Finlandia pada tahun 1939 M, disebutkan bahwa dokter yang menganjurkan pasiennya untuk berobat dengan khamr atau minuman keras dianggap sebagai dokter yang ilmunya sangat terbelakang dan ketinggalan puluhan tahun.

Kedua: berobat dengan khamr atau barang haram yang dicampur dengan barang mubah. Dalam hal ini para ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Ulama Malikiyah tetap melarangnya (Tafsir Qurthubi: 2/231), sedang Ulama Syafi’iyah membolehkannya jika tidak ada obat lain (Mughni Muhtaj: 4/188).

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sebagian obat-obatan, bahkan makanan dan minuman yang beredar di masyarakat memang mengandung alkohol dan barang-barang haram lainnya. Bahkan sebagiannya mengandung alkohol sampai 20% lebih. Barangsiapa yang bisa menghindari obat-obatan tersebut, maka tentunya lebih baik dan lebih selamat dari terjatuh kedalam hal-hal yang haram.

Ketiga: berobat dengan khamr dan barang-barang haram lainnya dalam keadaan terpaksa, dalam hal ini Ulama Hanafiyah membolehkannya (Roddul Muhtar: 1/210). Namun yang menjadi masalah adalah kapan suatu kasus dianggap terpaksa (darurat) dan kapan dianggap tidak terpaksa?

Sebagian ulama menjelaskan bahwa jika tenggorokan kita tersumbat  oleh sesuatu, sehingga tidak bisa bernafas sedangkan tidak ada sesuatu yang bisa menghilangkannya kecuali khamr, maka dalam hal ini dibolehkan untuk meminum khamr, walaupun keadaan seperti ini jarang sekali terjadi, karena seorang muslim tentunya tidak menyimpan minuman-minuman keras seperti khamr dan lain-lainnya di dalam rumahnya, kecuali kalau dia sedang berada di lingkungan penjual khamr. Adapun dalil-dalil yang digunakan sebagai hujah adalah berikut:

QS. Al Baqarah Ayat 173

Artinnya: “Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Diriwayatkan bahwa Rasulullah melarang laki-laki untuk menggunakan kaun sutra, beliau bersabda: “Hanyasanya yang memakai kain sutra di dunia ini tidaklah akan mendapatkan bagian di akhirat kelak.” (HR. Bukhari, Muslim). Walaupun begitu, Rasulullah membolehkan beberapa sahabatnya seperti Abdurrahman bin Auf dan Zubair bin Awwam untuk memakai kain sutra karena penyakit kulit yang mereka derita.” (HR. Bukhari)

Hadits di atas meskipun bisa dijadikan sebagai dalil untuk membolehkan berobat dengan barang haram yang tidak murni, akan tetapi masih mempunyai titik kelemahan, karena memakan atau memasukkan barang haram ke dalam tubuh dan perut kita jauh lebih berbahaya dan berpengaruh dalam perilaku kita dibanding dengan memakai baju yang diharamkan. (Mukhtasor Al Fatawa Al Misriyah: 17)

Syarat-Syarat Diperbolehkan Berobat Dengan Barang Haram

Adapun syarat-syarat dibolehkannya berobat dengan barang haram, adalah sebagai berkut:

1. Harus ada rekomendasi dari dokter muslim yang dipercaya bahwa obat tersebut memang manjur untuk mengobati penyakit yang dideritanya.

2. Tidak mendapatkan obat lain yang mubah yang berhubungan dengan penyakit tersebut

3. Kandungan alkohol yang terdapat dalam obat tersebut tidak sampai memabukkan pasien

4. Menggunakan obat tersebut sekedarnya saja, tidak boleh berlebih-lebihan. Sebagaimana dalam kaidah fiqh: “Darurat itu ditakar menurut keperluannya saja.”

Demikian ilmu islam yang bisa saya sampaikan, semoga membawa manfaat untuk kita semua. Jangan lupa share ya, insya’Allah menambah amal jariyah di Yaumul Mizan kelak. Aamiin

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan