Ghiwayah: Menjauh Dari Allah Mendekat Kepada Iblis

762

BERANIDAKWAH.COM | Menjauh Dari Allah Mendekat Kepada Iblis. Iblis maupun Setan memang senantiasa menggoda manusia. Selalu berusaha mencari celah dan kesempatan untuk menyeretnya menuju kedurhakaan. Godaan yang intens membuat banyak manusia yang akhirnya terjerembab ke dalam dosa. Dalam hal ii setan memang salah, tapi untuk terjadinya dosa manusialah yang menentukan pilihannya. Dosa terjadi karena pilihan yang diambilnya adalah pilihan yang disarankan setan. Setan hanya memberi saran dengan sedikit ajakan. Manusia benar-benar diberi hak untuk mengikuti ajakan tersebut atau menolaknya. Jika pada akhirnya dia ikut dan akhirnya dihukum karenanya, jangan heran jika sang pemberi saran kelak akan berkata, “Fala talumui, walumuu anfusakum” yang artinya janganlah kalian mencaciku, tapi cecalah diri kalian sendiri.

Yang dilakukan setan adalah memberi sugesti dan arahan yang menjauhkan manusia dari Allah. Karena jika manusia jauh dari Rabbnya, maka akan mudah bagi setan untuk membantunya menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Memudahkannya untuk mendikte langkah manusia agar seirama dengan langkahnya. Semakin jauh dari-Nya, hidupnya akan semakin terisi dengan keputusan-keputusan yang salah dan langkah-langkah sesat. Pada akhirnya, ketika posisinya benar-benar jauh dari koordinat iman, berangsur-angsur dirinya akan berubah menyerupai makhluk yang menyesatkan.

Ibnul Qayyim dalam bukunya ad Daa’ wad Dawa’ menjelaskan, al bu’du minallah atau jauh dari Allah bahwasanya menjauh dari Allah terbagi menjadi empat level. Yang pertama adalah al ghaflah, selanjutnya level maksiat, ketiga level bid’ah dan yang keempat adalah nifak dan syirik. (hlm: 90)

Ibnul Qayyim memang tidak menjelaskan lebih lanjut keempat level ini. Tapi dengan merujuk ke beberapa pembahasan mengenai keempat hal ini, kita dapat memahami lebih dalam makna dari penjelasan beliau.

Level pertama adalah ghaflah atau lalai. Imam al Munawi mengatakan, ghaflah adalah kondisi di saat mana seseorang kehilangan kesadaran terhadap segala hal yang semestinya dia sadari. (at Tauqif ‘ala Muhimmatit Ta’arif: 540). Dan di dunia ini tidak ada yang lebih layak untuk disadari oleh manusoa melebihi kesadaran terhadap tujuan mereka diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Lalai dari tujuan ini akan menjauhkan manusia dari Rabbnya. Dalam stadium ini, barangkali dia tidak melakukan kemaksiatan tapi juga tidak melakukan ibadah yang mendekatkan dia kepada Allah. Dia sibuk melakukan hal-hal mubah yang hanya bernilai dunia tapi tak berharga di akhirat. Lama terkurung dalam kelalaian akan membuat manusia tak lagi menggubris perintah-Nya dan mulai acuh dengan larangan-Nya. Pada akhirnya dia akan terseret menuju stadium berikutnya, yaitu maksiat. Sampai ghaflah akan menjauhkannya dari daratan ridha Allah menuju singgasana Iblis.

Yang kedua adalah maksiat. Tak perlu ada pembahasan panjang mengenai hal ini, ketika manusia masuk ke ranah tahapan ini seharusnya mereka sadar bahwa larangan Allah ibarat batas wilayah. Jika melanggarnya berarti telah keluar dari wilayah-wilayah-Nya dan berpindah ke wilayah iblis ataupun setan.

Tahapan selanjutnya adalah bid’ah. Perlu dipahami sebelumnya bahwa level ini bukanlah level berurutan yang digunakan setan untuk menyesatkan manusia. Level ini adalah tingkatkan jauhnya jarak manusia kepada Allah. Artinya, bisa saja seseorang langsung terperangkap dalam tingkat bid’ah tanpa harus dibuat lalai dan melakukan maksiat lebih dahulu.

Bid’ah adalah membuat ritual ibadah baru yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Bid’ah menduduki level tertinggi ketika dalam menjauhkan manusia dari Allah karena sifatnya yang ‘unik’. Bid’ah sangat korosif terhadap iman dan pahala tapi menipu pelakunya justru merasa yang sebaliknya, merasa selalu beribadah dan pahala yang selalu bertambah. Merasa mendekat kepada Allah padahal Allah menjauh darinya.

Mengapa Allah menjauh? Bukan lain karena membuat atau menambah-nambahi ibadah tanpa ada syariat adalah sikap sok pintar. Merasa lebih tahu cara ibadah yang lebih baik dari yang dicontohkan oleh Rasulullah. Tak pelak, pelaku bid’ah akan terdepak jauh dari rahmat-Nya dan justru mendekat kepada Iblis.

Ibnul Qayyim berkata dalam Kitab Madarijus Salikin, “Sebagian salaf berkata, ‘Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat, karena maksiat masih diharapkan bisa bertaubat sedang bid’ah tidak’.” (I/322) Pelaku maksiat kadang-kadang masih sadar bahwa yang dilakukannya adalah salah. Sedangkan pelaku bid’ah justru selalu merasa benar, mendapa pahala dan mengajak orang lain juga untuk melakukan hal yang serupa, padahal yang dilakukannya lebih pantas mendapat murka Allah.

Yang terakhir dan yang terjauh adalah level nifak dan syirik. Ini adalah akhir dari semuanya, lembah terdalam di daratan kesesatan, atau palung tergelap dari samudra kebinasaan. Benar-benar jauh dari cahaya Allah. Disini segala bentuk kebaikan menjadi sia-sia, dilembah ini pula kebaikan itu ibarat percikan cahaya yang hanya sekejap dan hilang ditelan pekatnya kegelapan. Semua amal kebaikan dalam kemunafikan dan kesyirikan akan menjadi habaa’an manstura, terbang berhamburan bagai debu yang tertiup angin. Allah berfirman

QS. Al Furqon Ayat 23

Artinya: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan…”.

Inilah maratib atau tingkatan jarak antara hamba dan Rabb-nya. Pertanyaanya sekarang, dimanakah posisi kita sekarang? Tentu saja kita berharap bahwa kita tidak di antara keempat level di atas. Semoga Allah selalu menjaga kia agar selalu dekat dengan-Nya, Aamiin ya rabbal a’alamin.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan