Ghiwayah: An Nammam, Serdadu Setan Pemecah Umat

652

BERANIDAKWAH.COM | An Nammam, Serdadu Setan Pemecah Umat. Ketika kita melihat perselisihan di antara saudara-saudara kita seiman, sebaiknya kita tidak langsung memilih untuk berpihak pada siapa atau menyalahkan salah satunya. Sebab, bisa jadi yang salah bukan dua-duanya tapi pihak ketigalah yang menjadi dalang dari sengketa dan retaknya bangunan ukhuwah. Dialah si penyebar fitnah dan tukang adu domba alias an Nammam.

An nammam, orang yang bermain di balik layar, ia menghasut, memprovokasi dan membuat propaganda untuk memecah belah persaudaraan. Bisa antara dua orang mukmin, antar kelompok, jamaah, organisasi atau lainnya. Ia mengincar keuntungan dibalik perpecahan dan perseturuan. Memanfaatkkan berbagai moment dan kesempatan untuk merusak tali persaudaraan. Memantik amarah, menyebarkan fitnah, menyingkap aib, memperluas kesalahpahaman hingga akhirnya terjadi konflik internal di tubuh umat Islam dan muncullah kebencian. Lalu, ia pun tersenyum geli melihat kita (umat Islam) saling baku hantam dengan saudara diri.

Kaki Tangan Setan

Kaki tangan setan yang sangat berbahaya karena besarnya kerusakan yang ditimbulkan akibat makar-makarnya. Jika kita tidak berhati-hati, terperangkap dalam jebakan lalu ikut terjun dalam kancah permusuhan, maka kita telah terjatuh pada fitnah. Lebih-lebih jika sudah sampai pada tindakan fisik. Jika kita melukai atau terlukai karena membela akidah, membela keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, itu termasuk perbuatan mulia. Tapi jika kita terluka atau melukai saudara seiman, maka wallahua’lam, semoga Allah berkenan untuk mengampuni.

Padahal sebagaimana yang kita tahu, betapa berharganya nyawa bahkan setetes darah orang mukmin di sisi Allah. Betapa syariat-Nya menerapkan sistem keamanan yang sangat kuat untuk menjaga jiwa, kehormatan dan hartanya. Dengan qisash, had dan diyat. Tentu yang dimaksud adalah mukmin yang beriman pada Allah dan beriman kepada Rasulullah. Jika kita tertipu dengan muslihat an nammam, lalu melanggar penjagaan Allah atas saudara kita, maka sungguh celaka diri kita.

Oleh karenanya, kewaspadaan dan kejelian kita dalam melihat persoalan harus kita tajamkan. Karena selain berbahaya, an nammam juga tidak mudah dilacak untuk ditemukan delik dan buktinya agar bisa diadili dan dibuktikan bahwa dialah sebenarnya biang keroknya. Karena biasanya, kita lebih disibukkan dengan konflik yang tampak dan mencari alasan untuk berpihak.

Jangan Mudah Dipengaruhi

Dalam hal ini Allah sudah memberi peringatan agar kita tidak mudah di adu dimba dan mengikuti hasutan masya’ bin namim, tukang sebar fitnah dan adu domba. Allah berfirman

al-qalam-10 al-qalam-11

Artinya: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.”

Dalam surat al-Hujurat juga disebutkan agar kita berhati-hati dan melakukan cek dan rocek ketika mendengar berita dari orang fasik. Secara umum, kita diperingatkan agar tidak mudah terprovokasi dengan berbagai macam berita yang disampaikan oleh berbagai media. Utamanya berita-berita yang berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan dengan saudara sendiri sesama mukmin. Agar jangan sampai kita melakukan kezhaliman karena menindak yang sejatinya tidak bersalah. Kita melakukannya hanya karena kesalahpahaman dan kecerobohan.

Naif sekali jika kita sampai tertipu oleh orang yang diberi gelar manusia terjelak pada hari Kiamat dan akan mendapat siksa kubur di alam Barzakh. Sebagaimana sabda Rasulullah,

“Akan kalian dapati, manusia paling buruk di Hari Kiamat adalah dzul wajhain (si muka dua) yang datang pada sekelompok orang dengan satu wajah dan kepada yang lain dengan wajah yang lain.”

Qatadah berkata, “Diberitakan pada kami bahwa siksa kubur itu dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga karena ghibah, sepertiga karena namimah (fitnah dan adu domba) dan sepertiga karena kencing (yang tidak dijaga).”

Tabayun / Klarifikasi

Menyikapi konflik antar sesama mukmin yang beriman pada Allah dan Rasulullah Muhammad yang mesti kita lakukan adalah tabayun atau melakukan klarifikasi masalah tersebut dengan cermat. Mencari akar permasalahan dan bijaksana dalam memandang alasan dan pendapat semua pihak. Kita juga perlu menimbang dan mengamati, jangan-jangan hal itu adalah ulah orang lain yang beriman, memantik api permusuhan dan mencoba mengambil keuntungan. Sehingga dalam bersikap dan menentukan tindakan kita tidak salah.

Tabayun harus kita terapkan ketika mendengar isu-isu yang bisa memicu kebencian, kesalahpahaman dan muatan adu domba. Karena bisa jadi, kitalah yang menjadi target operasinya dan hendak dijadikan boneka tangan untuk memusuhi saudara seiman.

Ketika ada yang membawa kabar atau isu tak sedap pada Umar bin Khattab, beliau mengatakan, “Kalau kau mau, kami akan mericek perkataanmu. Kalau kamu bohong, maka kamu adalah oknum yang ada dalam ayat, “Jika ada seorang fasik yang datang membawa berita, maka tabayunkanlah (cek ulang).” (QS. Al Hujurat: 6). Dan jika kamu jujur, maka kamu adalah orang yang seperti dalam ayat, “yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al-Qalam: 11). Tapi jika kamu mau, kami bisa memaafkanmu?” lelaki itupun berkata, “Kalau begitu maafkan aku wahai amirul Mukminin, aku tidak akan mengulanginya lagi selamanya.”

Kedustaan, ghibah, penghinaan dan isu-isu fitnah adalah senjata-senjata setan yang mampu membakar amarah hingga mengobarkan permusuhan antar umat Islam. Maka hendaknya kita lebih waspada dan berhati-hati dalam menerima berita-berita yang belum tentu ada benarnya. Wallahulmusta’an.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan