Ghuluw, Ciri Orang Suka Menantang Masalah

30,905

BERANIDAKWAH.COM | Ghuluw, Ciri Orang Suka Menantang Masalah. Dalam hidup, iman bisa bertambah dan bisa berkurang, begitu pula dengan semangat (ghirah). Ketika iman berkurang, semangat mengoptimalkan ibadah kepada Allah juga berkurang. Hal itu merupakan kewajaran yang sudah diakui oleh Allah dan Rasul-Nya, sepanjang dalam masa itu tidak memilih keluar dari sunnah Nabi.

Ketika iman bertambah, semangat mengoptimalkan ibadah kepada Allah juga bertambah. Hal ini sangat baik selagi tidak mengarah kepada ghuluw atau berlebih-lebihan. Sebab, ketika terperosok ke jurang ghuluw bisa-bisa semangat itu akan hilang total atau hilang perlahan namun pasti. Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah mengingatkan:

“Sesungguhnya agama itu sangat kokoh, maka berjalanlah di dalamnya dengan kelembutan.” (Al-Jami’ Ash-Shagir)

Abdur Rauf Al-Munawi menjelaskan bahwa mengamalkan Islam itu seharusnya tanpa memberatkan diri. Membebani diri dengan mengamalkan apa yang tidak dimampu bisa menjadikan lemah dan akhirnya meninggalkan amal sama sekali.

Al-Munawi kemudia mengutip penjelasan Al-Ghazali bahwa makna hadits ini adalah jangan membenani diri dengan amal-amal yang menyelisihi kebenaran. Akan tetapi hendaknya melakukannya secara lembut dan bertahap. Jika tidak, bisa jadi amal-amal yang disukainya akan menjadi amal-amal yang dibencinya.

Menanamkan akhlak mulia, misalnya harus dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan pembiasaan dan akhirnya menjadi sebuah akhlaq. Demikian pula ketika mengajarkan kepada anak agar gemar menuntut ilmu Islam. Sesekali anak perlu bermain, tapi ada saatnya untuk belajar. Lama-kelamaan anak akan terbiasa dengan belajar Islam dan akhirnya anak senang, gemar dan kecanduan menuntut ilmu Islam. (Faidh Al-Qadir)

Nabi Muhammad sendiri sudah memberikan kalimat pemutus dengan sangat tegas,

“Hati-hatilah kalian terhadap perbuatan ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya hancurnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan (sikap) ghuluw di dalam agama.” (Musnad Ahmad; Sunan Ibnu Majah)

Ada satu fase yang sangat dekat dengan ghuluw dalam fase-fase perjalanan seorang hamba menuju Allah, yaitu menantang. Ya, menantang diri untuk mengoptimalkan ibadah kepada Allah namun bersumber dari kebanggan terhadap diri, menganggap remeh tuntunan syariah yang sudah berlaku lengkap dengan rukhshahnya, keinginan untuk tampil mempesona di hadapan manusia, dan lain sebagainya, bukan bersumber dari keinginan yang tulus mempersembahan ibadah terbaik. Akan tetapi sikap menantang ini bukan menghasilkan kebaikan malah menghasilkan penurunan semangat, bahkan penurunan iman disertai penyesalan mengapa berani menantang. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang beriman mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Teramat besar kemurkaan Allah karena kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan shaf seolah-seolah mereka adalah bangunan yang kokoh.” (QS. Ash-Shaf: 2-4)

Dalam Al-Kasysyaf: IV/522, Az-Zamakhsyari menyebutkan riwayat terkait rangkaian ayat ini. Sebelum diperintahkan perang (jihad), kaum mukminin berkata, “Seandainya kita tahu amal yang paling dicintai Allah, tentu kita akan mengamalkannya dan kami akan korbankan harta dan diri kami.” Maka Allah tunjukkan kepada mereka jihad di jalan-Nya sebagai amal yang paling dicintai-Nya. Kemudian mereka berpaling dari peperangan Uhud, Allah pun mencela mereka.

Dikatakan tentang ayat ini, “Ketika Allah mengabarkan tentang pahala para syuhada pada perang Badar, kaum mukminin berkata, “Andai kita mendapati peperangan, pasti Kami akan terjun didalamnya dan kami akan berusaha keras.” Namun ketika mereka menuju peperangan Uhud, mereka tidak memenuhi ucapan mereka itu.”

Ibnu Katsir menuturkan, firman ini merupakan pengingkaran terhadap siapa saja yang berkata namun tidak menepatinya. Para ulama salaf berdalil dengan ayat yang mulia ini bahwa wajib hukumnya menepati janji secara mutlak.

Ibnu Katsir juga menyampaikan, Imam Malik berpendapat, seandainya janji telah disampaikan maka itu menjadi utang, wajib memenuhinya. Seperti seorang berkata kepada orang lain, “Menikahlah! Aku akan memberikan utukmu setiap hari begini dan begini.” Kemudia jika ia menikah, orang tadi wajib memberikan apa yang dijanjikannya, karena hal itu menyangkut hak sesama manusia. Mayoritas Ulama berpendapat, ayat ini turut berkenaan dengan kaum mukminin yang berangan-angan diwajibkannya jihad atas mereka, namun ketika diwajibkan, sebagian mereka membelot.

Ibnu Katsir kemudian mengisyaratkan firman Allah yang senada pada QS. An Nisa: 77-78 dan QS. Muhammad: 20.

Demikianlah, Allah mencela orang-orang yang “menantang” sesuatu dan berjanji siap menghadapi namun ketika sesuatu itu ada ternyata mereka tidak mau menghadapi. Inilah buruknya orang-orang yang menantang masalah, seperti orang yang masuk ke suatu daerah yang penduduknya terserang wabah tha’un.

Dari Usamah, Rasulullah bersabda:

Tha’un adalah penyakit yang dikirimkan kepada segolongan Bani Israil, atau kepada orang-orang sebelum kalian. Jika kalian mendengar kabar mewabahnya tha’un di sebuah daerah, jangan mendatanginya, jika kalian ada didalamnya jangan keluar melarikan diri darinya.” (Shahih Al-Bukhari no 3473)

Tak jauh berbeda dengan orang-orang yang menantang perang dan berharap bertemu musuh. Seringkali sikap sok jago ini muncul karena ujub, padahal nantinya ketika berhadap-hadapan dengan musuh bisa jadi dia akan melarikan diri. Dari Abdullah bin Abu Aufa, Rasulullah bersabda:

“Wahai manusia sekalian, jangan mengangankan bertemu dengan musuh, mintalah kesejahteraan kepada Allah, jika kalian bertemu musuh maka bersabarlah, ketahuilah bahwa surga berada di bawah naungan pedang.” (HR. Muslim)

Imam An Nawawi memaparkan, dilarangnya berharap bertemu musuh adalah dari sisi di dalamnya ada muatan ujub dan yakin terhadap (kekuatan) diri dan pamer kekuatan. Hal tersebut menyebabkan minimnya konsentrasi terhadap musuh dan meremehkannya, bertentangan dengan sikap berhati-hati. (Al Minhaj: 12/45)

Sikap sok jago yang juga berdampak buruk adalah mereka yang meminta kepemimpinan dan mengajurkan diri sebagai pemimpin. Sangat dikhawatirkan dia akan sengsara karena jauh dari pertolongan Allah. Dari Abdurrahman bin Samurah, Rasulullah bersabda kepadanya:

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, jangan meminta kepemimpinan, jika engkau diberi kepemimpinan karena engkau memintanya maka engkau akan dibiarkan bergantung kepada kepemimpinan itu, jika engkau diberi kepemimpinan tanpa memintanya, engkau akan ditolong (oleh Allah) untuknya…” (HR. Muslim)

An Nawawi menguraikan dalam hadits ini banyak terdapat faedah di antaranya adalah dibencinya meminta kekuasaan baik itu kekuasaan dalam kepemimpinan, peradilan, hisab, dan lainnya. Faedah yang lain, dalam hadits ini mengandung penjelasan bahwa siapa yang meminta kekuasaan maka dia tidak akan disertai oleh pertolongan dari Allah. (Al Minhaj: 11/116)

Bentuk menantang masalah yang lain yang juga merupakan salah satu perbuatan tercela adalah menantang kematian. Acapkali ketika tertimpa musibah pada diri maupun harta, berupa miskin, sakit, hutang, turun jabatan, hilang pekerjaan, kegagalan, dan lain sebagainya,  maka kita berani-beraninya menantang kematian karena merasa sudah tidak kuat menanggung beban tersebut. Lalu apakah dengan mati semua masalah selesai?

Dari Anas, Rasulullah bersabda:

“Jangan berharap mati karena musibah yang menimpanya. Barang siapa yang terpaksa berharap mati, hendaknya dia berkata, “Wahai Allah, hidupkan aku jika hidup itu baik untukku, dan matikan aku jika mati itu baik untukku.” (HR. Bukhari)

An Nawawi memaparkan, dalam hadits ini terdapat ketegasan dibencinya berharap mati karena musibah yang menimpa seperti sakit, kemiskinan, serangan musuh, atau bentuk kesulian lain. Akan tetapi jika dikarenakan takut bahaya atau fitnah terhadap agamanya, maka tidak dibenci, berdasarkan mafhum hadits. Hal ini sudah dipraktekan oleh para ulama salaf yang takut akan fitnah terhadap agama mereka. (Al Minhaj: 17/7-8)

Agar tidak berani menantang kematian maka kita ingat masa lalu kita. Kalau kita termasuk orang baik dan mudah berbuat baik, maka jangan menantang mati. Kalau kita termasuk orang buruk dan mudah berbuat buruk, maka cepat-cepatlah bertaubat dan jangan menantang mati. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

“Jangan berharap mati sebab jika ia termasuk orang baik semoga bertambah kebaikannya, jika ia termasuk orang buruk semoga berhenti keburukannya.” (HR. An Nasa’i)

Oleh karena itu jangan biarkan dengan mudah setan membisikkan kepada kita untuk menantang masalah ataupun menantang kematian. Selalu perhitungkan dengan matang apa dampaknya, dan selalu ingat bahwa kita berpotensi lemah semangat dan lemah iman. Semoga bermanfaat!

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan