Hal-Hal Yang Membatalkan Syahadat

30,427

BERANIDAKWAH.COM | Hal-Hal Yang Membatalkan Syahadat. Mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan tanda masuk Islam. Mengucapkannya juga adalah pengakuan terhadap kandungan dan konsistensi mengamalkan konsekuensi berupa segala macam syi’ar-syi’ar islam. Jika ia menyalahi ketentuan ini, berarti ia telah membatalkan perjanjian yang telah diikrarkannya ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.

Yang membatalkan Islam itu ada banyak hal. Para ulama Fuqaha dalam kitab-kitab fiqih telah menulis bab khusus yang diberi judul “Bab Riddah (kemurtadan)”. Dan yang terpenting dari hal yang membatalkan syahadat ada 10, yaitu:

1. Syirik dalam beribadah kepada Allah

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)

“… sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, misalnya untuk kuburan yang dikeramatkan atau untuk jin dan lain sebagainya.

2. Orang yang menjadikan antara dirinya dan Allah perantara-perantara. Ia berdoa kepada mereka, meminta syafa’at kepada mereka dan bertawakal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijma.

3. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka.

4. Orang yang menyakini bahwa selain petunjuk Nabi lebih sempurna dari petunjuk beliau, atau huku yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang-orang yang mengutamakan hukum para thagut di atas hukum Rasulullah.

5. Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah sekali pun ia juga mengamalkannya.

6. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasul atau pahala maupun siksanya, maka ia kafir. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah:

“Katakanlah: ‘…Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta ma’af, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)

7. Sihir, diantaranya sharf dan ‘athf (yang dimaksud adalah amalan yang bisa membuat suami benci kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya/ pelet). Barangsiapa yang melakukan atau meridhainya, maka ia telah mengingkari syahadat. Dalilnya adalah firman Allah:

“… sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.” (QS. Al-Baqarah: 102)

8. Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat Islam. Dalilnya adalah firman Allah:

“Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma’idah: 51)

9. Siapa yang menyakini bahwa sebagia manusia ada yang boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad, seperti halnya Nabi Hidhir boleh keluar dari syariat Nabi Musa, maka ia telah mengingkari syahadat. Sebagaimana yang diyakini oleh ghulat sufiyah (sufi yang berlebihan/ melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah.

10. Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajadah: 22)

Syaikh Muhammad At-Tamimy berkata: “Tidak ada bedanya dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang-orang yang bercanda, yang serius (bersungguh-sungguh) maupun yang takut, kecuali orang yang dipaksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta mohon perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah dan siksa-Nya yang pedih.” (Majmu’ah At-Tauhid An-Najdiyah, hal 37-39).

Sebagai tambahan referensi silahkan baca juga artikel yang berkaitan dengan ulasan di atas

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan