Hukum Melepas Tali Kafan Mayat, Sunnah atau Bid’ah?

498,621

 BERANIDAKWAH.COM | Hukum Melepas Tali Kafan Mayat, Sunnah atau Bid’ah?. Apakah termasuk dalam sunnah Nabi mengenai mengurai ikatan kafan dan menempelkan pipi kanan dengan tanah ketika jenazah dikuburkan?

Terdapat hadits dha’if tentang melepas ikatan tali kafan mayat ketika dalam kubur, dikeluarkan oleh imam Baihaqi dan sunan al kubra:

“Dari Ma’qil bin Yasar, ketika Rasulullah meletakan jenazah Nu’aim bin Mas’ud di dalam kubur, beliau melepas ikatannya dengan mulutnya.”

Syaik al Albani setelah mendha’ifkan hadits ini dalam silsilah dha’ifnya memberikan komentar, “Namun melepas ikatan pada kafan mayit suatu amalan yang sudah biasa dilakukan oleh para salaf, oleh karena itu para ulama hanabilah mengikuti imam Ahmad bin Hambal.

Abu Daud berkata, “Saya bertanya kepada Imam Ahmad tentang mengurai ikatan kafan di dalam kubur”, maka imam Ahmad menjawab, “Ya”. Dan berkata putra imam Ahmad, Abdullah bin Ahmad bin Hambal, “Saudaraku meninggal ketika masih kecil, ketika mayatnya diletakkan di dalam kubur dan ketika itu ayahku berdiri di pinggiran kubur berkata kepadaku, “Wahai Abdullah lepaskanlah ikatannya, maka akupun melepas ikatan kafannya.”

Dalam majmu’ fatwa (17/110) ketika Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang melepas ikatan pada kain kafan dalam kubur, beliau menjawab, “Dalam melepas ikatan terdapat atsar dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:

“Jika kalian memasukkan mayit dalam kubur lepaskanlah ikatannya.”

Dan Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa melepas ikatan mayit dalam kubur lebih afdhal, sebagaimana hal ini dikerjakan para sahabat RA. (Majmu’ Fatawa bin Baz 13/195)

Adapun mitos sebagian orang bahwa mayit yang tidak dilepas ikatan kafannya ketika dikubur maka akan menjadi pocong (setan), lalu si pocong akan berusaha memberitahu keluarganya agar menggali kembali kuburannya dan melepaskan ikatan tali kafannya, ini adalah bathil atau jauh dari kebenaran.

Maka melepas ikatan kafan mayit dengan berkeyakinan agar saudaranya yang sudah meninggal tidak gentayangan dan menjadi pocong adalah suatu perbuatan bid’ah (mengada-ada). Sedangkan membuka wajah jenazah, pertama, ketika sebelum dikubur dan ketika di dalam kubur. Adapun kondisi pertama terdapat dalil yang membolehkannya:

Dari Aisyah ia berkata, “Aku melihat Rasulullah mencium Utsman bin Mazh’un sementara ia telah meninggal hingga aku melihat air mata beliau mengalir.” (HR. Abu Daud dan Timidzi, dishahihkan al-Albani)

Sedangkan kondisi kedua maka tidak ada dalil yang mendasarinya, dan mayoritas ulama berpendapat tidak sunnah membuka sebagian wajah, kecuali bagi seorang laki-laki yang gugur dalam jihad fisabilillah dan laki-laki yang meninggal ketika sedang muhrim maka wajah dan kepalanya tidak ditutupi. Wallahu’alam bis shawab

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan