Hukum Memakai Kawat Behel dan Gigi Palsu Dalam Islam?

139,821

BERANIDAKWAH.COM | Hukum Memakai Kawat Behel dan Gigi Palsu Dalam Islam?. Sebenarnya, bagaimana hukumnya memakai kawat behel atau gigi palsu dalam Islam? Karena melihat realita sekarang ini banyak sekali kaum muslim atau muslimah yang memakainya untuk membuat penampilan lebih menarik. Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, yaitu :

Pertama: Jika seseorang mempunyai susunan gigi tidak normal, dimana gigi atas letaknya di depan gigi bagian bawah. Kondisi seperti ini sering disebut dengan gigi tonggos. Pada kondisi yang tidak wajar, sehingga membuat muka seseorang menyeramkan, maka kondisi ini dikategorikan gigi cacat. Karena itu boleh diobati dengan cara medis, termasuk menggunakan kawat behel agar giginya menjadi rata kembali. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

“Wahai sekalian hamba Allah, berobatlah sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu penyakit melainkan menciptakan juga obat untuknya kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya,” Penyakit apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,” Yaitu penyakit tua (pikun).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Kedua: Jika gigi seseorang kurang teratur, tetapi masih dalam batas yang wajar, bukan suatu cacat atau sesuatu yang tidak memalukan. Sehingga pemakaian kawat behel dalam hal ini hanya sekedar untuk keindahan saja, maka hukum pemakaian kawat behel tersebut tidak boleh karena termasuk dalam kategori merubah ciptaan Allah.

Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu bahwasannya nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Allah melaknat para wanita pembuat tato dan yang meminta dibuatkan tato, para wanita yang mencukur alis mereka dan para wanita yang meminta untuk dicukur alis mereka, dan para wanita yang mengikir gigi mereka (merengganggkannya), dengan tujuan mempercantik diri merubah ciptaan Allah Ta’ala.” (HR. Muslim)

Di dalam hadits di atas diterangkan bahwa Allah melaknat orang yang mengubah gigi dengan tujuan agar giginya lebih indah dan lebih cantik. Berkata Imam Namawi di dalam (Syareh Shahih Muslim 14/106-107) menerangkan hadits di atas:

“Maksud dalam hadits di atas adalah mengikir antara gigi-gigi geraham dan depan. Kata (al-falaj) artinya renggang antara gigi geraham dengan gigi depan. Ini sering dilakukan oleh orang-orang yang sudah tua atau yang seumur dengan mereka agar nampak lebih muda dan agar giginya lebih indah.

Renggang antara gigi ini memang terlihat pada gigi-gigi anak-anak perempuan yang masih kecil, makanya jika seseorang mulai berumur dan sudah tua, dia mengikis giginya agar kelihatan lebih indah dan lebih muda. Perbuatan seperti ini haram untuk dilakukan, ini berlaku untuk pelakunya (dokter) dan pasiennya berdasarkan hadits-hadits yang ada, dan ini merupakan perbuatan mengubah ciptaan Allah serta bentuk memanipulasi dan penipuan.”

Hukum Memakai Gigi Palsu

Jika seseorang giginya tanggal, apakah boleh diganti dengan gigi palsu? Apakah mengganti gigi dengan gigi palsu merupakan praktik mengubah ciptaan Allah?

Jawabannya seseorang yang mempunyai gigi, kemudian gigi tersebut lepas, karena kecelakaan, atau dipukul oleh orang lain, atau terbentur benda keras, atau karena sebab lain, maka dibolehkan baginya untuk mengganti dengan gigi palsu. Karena ini termasuk dalam pengobatan.

Memakai gigi palsu untuk mengganti gigi yang asli karena lepas atau rusak, bukanlah termasuk kedalam kategori mengubah ciptaan Allah, tetapi pengobatan. Ini dikuatkan dengan Fatwa Lajnah Daimah: 25/16, no: 21104, yang berbunyi:

“Dibolehkan mengobati gigi yang terkena penyakit atau cacat dengan sesuatu yang bisa menghilangkan bahaya yang timbul, ataupun dengan cara mencabutnya dan diganti dengan gigi buatan jika hal itu dibutuhkan. Hal ini termasuk bagian pengobatan yang dibolehkan untuk menghilangkan bahaya yang timbul.”

Berkata Syekh Shaleh Munajid: “Memasang gigi buatan sebagai pengganti gigi yang dicabut karena sakit atau karena rusak, adalah sesuatu yang dibolehkan tidak apa-apa untuk dilakukan. Kami tidak mengetahui seorang pun dari ulama yang melarangnya. Kebolehan ini berlaku secara umum, tidak dibedakan apakah gigi itu dipasang permanen atau tidak, yang penting bagi pasien memilih yang sesuai dengan keadaannya setelah meminta pendapat dari dokter spesialis gigi.”

Gigi Palsu Dari Emas dan Perak

Di atas sudah diterangkan kebolehan memasang gigi palsu untuk mengobati penyakit, atau mengganti giginya yang rusak. Pertanyaannya adalah bagaimana hukum menggunakan gigi palsu yang terbuat dari emas atau perak?

Jawabannya harus dirinci lebih dulu: Jika yang memasang gigi palsu adalah perempuan, maka hal itu dibolehkan, karena perempuan dibolehkan untuk menggunakan emas. Tetapi jika yang menggunakan gigi palsu (dari emas) itu laki-laki, maka hal itu tidak bisa dilepas dari dua keadaan:

Pertama: Dalam keadaan normal, dan tidak darurat, artinya dia bisa menggunakan gigi palsu dari bahan dasar akrilik dan porselen selain emas dan perak, maka dalam hal ini memakai gigi palsu dari emas dan perak adalah haram.

Kedua: Dalam keadaan darurat dan membutuhkan, seperti dia tidak mendapatkan kecuali gigi palsu yang terbuat dari emas atau perak, atau tidak bisa disembuhkan kecuali dengan bahan dari emas atau perak, maka hal itu dibolehkan. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Arfajah bin As’ad:

Dari Arfajah bin As’ad ia berkata,” Saat terjadi perang Al Kulab pada masa Jahiliyah hidungku terluka, lalu aku mengganti hidungku dari perak, tetapi justru hidungku menjadi busuk. Kemudian Rasulullah memerintahkan agar aku membuat hidung dari emas.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan hadits ini hasan)

Hadits di atas, walaupun berbicara masalah penggantian hidung dengan emas dan perak dalam keadaan darurat atau membutuhkan, tetapi bisa dijadikan dalil untuk penggantian gigi dengan perak dan emas, jika memang dibutuhkan, karena kedua-duanya sama-sama anggota tubuh.

Wallahu A’lam.

3 Comments
  1. Anonymous says

    Visitor Rating: 4 Stars

  2. Anonymous says

    Visitor Rating: 5 Stars

  3. rini fawathu says

    bermanfaat sekali artiklenya ini, makasih kak…:D

    1. Arga says

      iya sama-sama 🙂

  4. Anggun says

    Jadi ndak pa2 yg pnting udh jilbab syari….

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan