Hukum Menutup Dinding Rumah Dengan Kain

920

BERANIDAKWAH.COM | Apa hukum menutup dinding rumah dengan kain, apakah dilarang dalam islam? Biasanya hal ini terjadi saat ada acara pernikahan atau acara pesta lain. Terdapat hadits shahih yang menyebutkan tentang masalah ini, yaitu yang diriwayatkan imam Muslim dengan sanadnya yang sampai kepada Aisyah. Beliau menceritakan perbuatan Rasulullah:

Artinya: “Aku pernah melihat beliau keluar dalam suatu peperangan, lalu aku mengambil namthan (hamparan kain atau permadani dari bulu) kemudian aku tutupkan pada pintu (sebagai hiasan saja). Tatkala Nabi datang dan beliau melihatnya, aku mengerti ada tanda ketidaksukaan dari wajah beliau, kemudian beliau mencabutnya hingga terkoyak seraya bersabda: ‘Sesungguhnya Allah tidak pernah menyuruh kita untuk menutupi batu dan tanah.’ Lalu aku memotongnya untuk dijadikan dua bantal dan aku isi dengan pelepah kurma. Beliau tidak mencelaku atas hal itu.” (HR. Muslim)

Namun para ulama berpendapat dalam hukum menutup dinding rumah dengan kain atau karpet, ada yang berpendapat haram dan ada pula yang berpendapat makruh. Kebanyakan ulama Syafi’iyah dan pendapat yang paling shahih dalam madzhab hanabilah berpendapat bahwa hal ini hukumnya makruh, namun bila menutupinya dengan sutra atau kain yang aga gambar (makhluk bernyawa) maka menjadi haram. Seperti larangan untuk tidak mengenakan baju bergambar saat ibadah shalat.

Alasan kemakruhan yang dikemukakan madzhab hambali adalah apabila tidak ada keperluan dalam menutup dinding tersebut seperti menghalau hawa dingin. Bila ada kebutuhan menutup dinding sehingga tidak dianggap boros dan membuang harta tanpa guna, maka hukumnya tidak makruh.

Menutup jendela dengan kain agar terhindar dari sengatan matahari dan penghalang serangga serta menutup lubang pintu dengan kain agar tidak terlihat aurat orang yang didalamnya bukanlah termasuk pelarangan diatas.

Adapun kalimat Rasulullah, “Sesungguhnya Allah tidak pernah menyuruh kita untuk menutupi batu dan tanah.” Tidaklah menunjukkan keharaman, kesunnahannya, apalagi wajib. Namun maknanya adalah larangan yang makruh. (Syarh Nawawi ‘ala Muslim: 7/211).

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan