Hukum Operasi Sesar Dalam Islam

7,639

BERANIDAKWAH.COM | Hukum Operasi Sesar Dalam Islam. Banyak alasan seseorang melakukan bedah sesar pada kelahiran bayinya. Bisa karena alasan medis, habis ketuban dan lain sebagainya. Atau alasan estetika, agar organ kewanitaan tetap utuh, atau sekedar ingin menentukan tanggal tertentu bagi buah hati.

Motif atau alasan ini akan berpengaruh pada hukum melakukan operasi sesar. Secara definitif, operasi sesar adalah operasi yang bertujuan mengeluarkan bayi dari perut ibu, baik itu terjadi sebelum atau setelah sempurnanya bentuk bayi. (Dr. Muhammad al Mukhtar asy Syinqiti)

Dari segi teknis, operasi sesar adalah proses mengeluarkan janin dengan cara mengiris dinding perut, tentunya dengan metode sesuai ilmu medis. Adapun hukumnya mengacu pada alasan riil mengapa melakukan operasi sesar?.

PERTAMA: KEADAAN DARURAT

Maksudnya adanya kekhawatiran nyawa ibu, bayi atau kedua-duanya terancam. Kondisi darurat memiliki beberapa bentuk:

1. Kondisi ibu yang mengalami eklampsia atau kejang dalam kehamilan, mempunyai penyakit jantung, persalinan tiba-tiba macet, pendarahan banyak selama kehamilan, infeksi dalam rahim, dan dinding rahimnya yang menipis akibat bedah sesar sebelumnya.

2. Operasi sesar untuk menyelematkan nyawa bayi. Misalnya, ibu sudah meninggal, tapi bayi yang berada di dalam kandungannya masih hidup. Dalam kasus ini, para ulama berbeda pendapat.

3. Operasi sesar untuk menyelamatkan jiwa ibu dan bayi secara bersamaan adalah ketika terjadi air ketuban pecah, namun belum ada kontraksi, bayi terlilit tali pusar sehingga tidak dapat keluar secara normal, usia bayi belum matang (prematur), posisi bayi sungsang dan lain-lain.

Dalam tiga kondisi di atas, menurut pendapat yang benar, dibolehkan dilakukan operasi sesar untuk menyelamatkan jiwa ibu dan anak. Dalil-dalilnya sebagai berikut:

a. Firman Allah

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32)

Ibnu Hazan berkata, “Jika seorang ibu hamil meninggal dunia, sedangkan bayinya masih hidup dan bergerak dan sudah berumur enam bulan, maka dilakukan pembedahan pada perutnya dengan memanjang untuk mengeluarkan bayi tersebut, ini berdasarkan firman Allah (QS. Al Maidah: 32), dan barangsiapa yang membiarkan bayi tersebut di dalam sampai mati, maka orang tersebut dikategorikan pembunuh.” (Ibnu Hazam, al Muhalla 5/166)

b. Kaidah Fiqiyah

“Suatu bahaya itu harus dihilangkan” (As Suyuti, al Asybah wa an-Nadhair, hal: 87)

Keberadaan bayi di dalam perut ibunya yang sudah mati merupakann bahaya yang menimpa bayi tersebut, maka menurut kaidah di atas, bahaya itu harus dihilangkan darinya, yaitu dengan melakukan pembedahan.

c. Kaidah Fiqiyah

“Jika terjadi pertentangan antara dua kerusakan, maka diambil yang paling ringan kerusakannya.” (Ibnu Nujaim, al-Asybah wa an-Nadhair, hal: 97)

Keterangan dari kaidah di atas bahwa operasi sesar dalam keadaan darurat terdapat dua kerusakan, yang pertama adalah terancamnya jiwa ibu atau anak, sedangkan kerusakan yang kedua adalah dibedahnya perut ibu. Dari dua kerusakan tersebut, maka yang paling ringa adalah dibedahnya perut ibu, maka tindakan ini diambil untuk menghindari kerusakan yang lebih besar, yaitu terancamnya jiwa ibu dan anak.

KEDUA: KEADAAN HAJIYAT

Keadaan hajiyat dalam operasi sesar adalah kekhawatiran terjadinya bahaya atau sesuatu yang buruk yang akan menimpa ibu, atau bayi atau keduanya, tetapi bahaya ini tidak sampai pada terancamnya jiwa ibu dan anak. Seperti halnya jika lingkar rongga panggul yang lebih kecil dari ukuran janin, sehingga akan kesulitan ketika melahirkan secara alami, usia ibu yang terlalu tua, kelainan letak plasenta, ukuran bayi terlalu besar atau terjadi bayi kembar.

Dalam keadaan hajiyat ini, operasi sesar boleh dilakukan, karena hajiyat kadang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga sebagian ulama menyamakan kedudukannya dengan darurat. Oleh karenanya, mereka melatakan kaidah fiqih sebagai berikut:

“Kebutuhan itu disamakan dengan kedudukan darurat, baik yang bersifat umum, maupun khusus.” (Ibnu Nujaim, al-Asybah wa an-Nadhair, hal: 100)

KETIGA: KEADAAN TAHSINIYAT

Yaitu melakukan operasi sesar dengan alasan yang sebenarnya tidak fundamen. Tidak ada ancaman atau dampak buruk pada bayi maupun ibu. Misalnya, karena agar organ kewanitaan tetap utuh, menghindari rasa sakit saat melahirkan, enggan menunggu proses kelahiran yang lama, atau sekedar ingin mengepaskan waktu lahir dengan tanggal tertentu.

Operasi sesar dengan alasan seperti ini tidak diperbolehkan, karena telah menyakiti atau merusak diri sendiri demi mencapai tujuan, yang maslahatnya tidak mu’tabar (diakui syariat). Mengapa? Karena operasi sesar cenderung membawa dampak kuran baik, utamanya bagi anak.

Yang terjadi pada anak misalnya gangguan pernapasan akibat cairan yang memenuhi paru-paru janin selama berada dalam rahim, rendahnya sistem kekebalan tubuh, rentan alergi, emosi cenderung rapuh, terpengaruh anestesi dan lain-lain. Efek pada ibu misalnya rasa sakit yang sangat pada bagian perut dan rahim akibat robekan saat operasi, kemungkinan terjadi infeksi rahim dan pendarahan yang banyak, bahkan efeknya masih dirasakan bertahun-tahun.

Kesimpulan

  1. Operasi sesar boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat dan membahayakan jiwa bayi maupun ibunya.
  2. Operasi sesar tidak diperbolehkan jika alasan untuk operasi sesar tidak sesuai dengan syariat Islam seperti menetapkan tanggal tertentu, menjaga keutuhan organ kewanitaan, tidak mau menuggu proses kelahiran lama, tidak mau merasakan sakit saat melahirkan, dan lain-lain.

Semoga informasi mengenai hukum operasi sesar dalam islam ini mampu menambah wawasan kita baik dari ilmu islam dan kesehatan. Wallahu’alam bis shawab

2 Comments
  1. pengobatan pendarahan rahim says

    wahh terima kasih banyak,,, jadi dapat ilmu baru lagi nih…

    1. Arga Danu says

      iya sama2 akh 😀

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan